Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Memohon


__ADS_3

Risa sampai di rumah, namun sampai di rumah ia langsung di sambut oleh keluarga yang ternyata sudah sampai duluan di rumah Ibu kandung dari Mom Citra yang memang menetap di Indonesia. Risa tahu jika ia pasti akan di sidang habis-habisan oleh keluarga, tapi keputusan nya sudah bulat untuk menggantikan posisi Hanna menjadi pengantin Hilman.


"Clarisa, duduk!!!" titah Arsielo.


Risa tersenyum dan ia langsung duduk berhadapan dengan Daddy Arsielo Anderson, ia terlihat santai tanpa beban sedikitpun. Risa dengan wajah perpaduan antara Italia dan Indonesia membuatnya cantik dengan sempurna, ia adalah gadis ceria yang tegas tidak mudah ditindas. Serta tidak mudah bersedih, andaipun ia bersedih maka ia tidak pernah larut dalam lukanya. Ia akan terus berusaha berjuang untuk tetap bahagia.


Bahkan saat ini pun ia terlihat biasa saja tanpa beban, rasa was-was pasti ada. Namun itu tidak tampak sedikit pun ia tunjukkan, biarlah ia sedikit berkorban karena tidak ingin keluarga nya hancur. Bahkan dengan kembalinya Devan membuat keluarga mereka bertambah hangat saja, apa lagi jika dua keponakan nya juga ikut berkumpul dan di perkenalkan pada keluarga Daddy Arsielo yang berada di Italia. Pasti semua terasa begitu indah, inilah impian sederhana Risa. Melihat Mom dan Dad nya bahagia dengan berkumpul semua anggota keluarga.


"Apa kau sadar dengan kata-kata mu tadi?!" tanya Dad Arsielo Anderson dengan suara berat dan tertahan, matanya setajam elang menatap Risa.


Risa mengangguk, bahkan berulang-ulang, "Dad, jangan tanyakan lagi. Aku sudah sangat yakin, dan aku sudah dewasa. Jadi aku berhak memutuskan pilihan ku," jawab Clarisa.


"Ini bukan pilihan Clarisa, kau tidak di minta untuk memilih," kata Mom Citra lagi penuh amarah.


Risa tersenyum, "Mom, tahu anak Mom yang cantik dan menarik ini sangat suka tantangan, dan aku tidak akan mundur," jawab Clarisa dengan senyuman, "Ayolah Mom, tersenyum. Anak bungsu mu akan menikah, dan tidak akan menyusahkan mu terus menerus, bahagia ya..." celetuk Clarisa.


Mom Citra menggeleng dan tidak tahu lagi dengan cara apa ia berbicara agar Risa mengerti, "Pakai otak mu Clarisa, ini menikah. Kau akan menikah dengan orang asing," Mom Citra geram sampai berulang-ulang memperingati putrinya. Hingga ia menarik kerah dress yang di gunakan oleh putrinya, sungguh Mom Citra tidak sanggup menahan emosi nya.


"Ayolah Mom, Clarisa sudah sarjana," tutur Risa dengan bangga.


"Clarisa, kau Dad anggap sudah dewasa. Dan sekali lagi Dad bertanya. Kau yakin dengan keputusan mu?!" Dad Arsielo menatap Clarisa penuh keyakinan dan ia ingin mendengar jawaban dari bibir Clarisa dengan yakin.


"Tidak, Clarisa...tidak. Ayo kita kembali ke Italia saja," ajak Mom Citra.


"Yakin Dad, Clarisa akan menikah dengan tuan Hilman," Clarisa tersenyum, dan ia bangun dari duduknya.


"Clarisa tunggu!" suara Devan berhasil mengehentikan langkah kaki nya, seketika Clarisa berbalik dan melihat Devan yang berdiri di depan pintu utama.

__ADS_1


Tap tap tap.


Devan terus melangkah masuk, ia menatap Clarisa yang juga tengah menantinya.


"Kau tidak perlu menikah dengan Hilman, aku dan Hanna akan bercerai," ujar Devan.


Mom Citra memegang dadanya, di satu sisi ia ingin Devan tetap bersama Hanna. Tapi di sisi yang lain ia juga tidak ingin putri nya yang menjadi korban.


"Tapi bagaimana dengan cucu Mom Devan?" tanya Mom Citra.


"Dia akan hidup bahagia Mom, bersama Hilman yang akan menjadi Ayah sambungnya," jawab Devan dengan perasaan yang sakit.


"Apa Tuan Hilman bisa menjadi Ayah sambung yang baik?" tanya Risa penuh intimidasi.


"Iya, aku yakin," suara Devan yang bergetar menunjukkan bertapa ia tengah terluka.


Risa tersenyum mendengar jawaban Devan, "Berarti aku tidak salah sudah setuju menikah dengan tuan Hilman," tambah Risa dengan bibir penuh senyuman.


"Kak Dev ku yang tamvan, aku sudah besar. Jangan terus memperlakukan aku seperti anak-anak," Risa tersenyum lebar, bahkan menaik-turunkan kedua alis matanya, "Kenapa kalian yang bersedih, aku yang sudah memutuskan untuk menikah dengan Tuan Hilman yang Kakak sendiri barusan mengatakan dia orang baik," tutur Risa lagi.


"Clarisa.....apa kau mau jalan-jalan sesuka mu? Mom bahkan akan mengembalikan black card yang pernah Mom sita tempo hari," tawar Mom Citra.


"Hehehe....." Risa terkekeh, "Aku akan menikah Mom, dan tidak perlu menawarkan hal lain. Aku sudah yakin."


"Baiklah," Arsielo melihat kesungguhan di wajah putrinya, "Dad ikuti keputusan mu."


"Apa kau sudah gila juga!!" geram Mom Citra sampai menarik kerah kemeja sang suami.

__ADS_1


Arsielo Anderson langsung memeluk istrinya, ia tahu saat ini Citra tengah ketakutan akan apa yang nanti di alami oleh putri tunggalnya. Tapi Arsielo merasa Risa sudah besar dan berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Di tambah lagi ia sangat tau watak putrinya, malahan ia yakin Hilman yang akan takut pada gadis cerewet kesayangannya. Andai pun Hilman nantinya berbuat tidak baik, Arsielo dan Devan tidak akan diam saja.


"Ok Kak Dev, jangan buat aku membenci mu. Fokus bahagiakan istri dan anak mu, tebus semua dosa mu di masa lalu. Jangan buat apa yang aku lakukan sia-sia, dan percayalah bahwa aku juga akan bahagia," tutur Risa walaupun ia tidak yakin dengan kata bahagia, tapi bukan Risa namanya bila tidak berani mengambil resiko.


Hanna yang mengikuti Devan dari tadi hanya berdiri mematung di depan pintu, ia mendengar semua yang di katakan oleh Risa.


"Hai Kakak ipar," sapa Risa dengan cengengesan, jika semua orang tengah memikirkan nasibnya. Maka tidak dengan Risa, ia terlihat menikmati semua nya.


Dengan cepat Hanna berjalan memeluk Risa, ia terus menangis dengan kepiluan yang begitu dalam. Tangannya terus memeluk Risa begitu erat, "Risa maafkan aku," lirih Hanna dengan tangisan.


Risa menepuk pundak Hanna, "Aku baik-baik saja, jangan menangis," dengan tangan lembutnya Risa menghapus air mata Hanna, "Apa kau mau berjanji?" tanya Risa.


Hanna dengan cepat mengangguk, dan melihat wajah Risa.


"Kau harus berjanji untuk membahagiakan kedua keponakan ku," pinta Risa.


Hanna tidak yakin dengan permintaan Risa, bila ia bahagia dengan Devan dan kedua anaknya lalu bagaimana dengan Risa.


"Risa kau masih punya waktu untuk berubah pikiran," kata Hanna lagi.


"Tidak ini sudah keputusan ku, tolong hargai keputusan ku. Tolong bahagiakan dia keponakan tersayang ku itu ya," pinta Risa dengan senyuman.


"Risa....hiks....hiks....hiks...." lagi-lagi Hanna hanya bisa menangis melihat wajah Risa saat ini.


Mata Risa tiba-tiba melihat wanita tua yang berjalan masuk di dampingi seorang Art, "Nenek dari mana?" tanya Risa, dan ia langsung memeluk lengan sang Nenek.


Nenek Aminah yang sudah tua, dengan usia senja dan kulit keriput nya tersenyum, "Nenek dari rumah tetangga sebelah, ada acara syukuran," jawab Nenek Aminah yang masih kuat berjalan itu, bahkan Nenek Aminah sangat mudah tersenyum.

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan Vote


__ADS_2