Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Hanya ingin di hargai


__ADS_3

"Maaf," kata Devan.


Hanna membuang pandangan ke arah lain, mengusap air mata yang menetes tanpa henti.


"Aku sudah kenyang dengan kata maaf mu!" jawab Hanna, "Keluar dari kamar ku!!!"


Devan hanya diam dan ia menatap Hanna, tidak perduli dengan kata-kata Hanna yang mengusir diri nya.


"Kau mau aku pergi?"


"Iya!"


Devan mengangguk, tapi ia semakin mendekati Hanna, bahkan Devan memeluk Hanna dengan cepat.


"Lepas!" seru Hanna, ia sangat kesal pada Devan. Dan untuk kali ini ia tidak ingin di perbudak karena rasa cinta, cukup sudah dengan semua yang berlalu. Tekat Hanna sudah besar dalam mengubur cintanya dengan dalam.


Devan terus memeluk Hanna dengan erat, walaupun telinganya terus mendengar kalimat kasar hingga makian ia tidak perduli. Sampai akhirnya Hanna kehabisan tenaga karena terus meronta minta di lepaskan, "Kau tahu Hanna?" tanya Devan dengan perasaan yang beradu dalam rasa kesal, "Aku takut, takut memaksa mu untuk tetap bersama ku. Dan aku pun takut kau pergi dari ku," perlahan Devan mulai melepaskan Hanna dari pelukannya dan ia menjauh.


"Karena kau hanya ingin mempermainkan aku!" geram Hanna.


"Kau katakan aku diam, ia aku memang diam," Devan membenarkan apa yang di katakan oleh Hanna, sebab menurut Devan itu tidak salah, "Aku diam karena aku menanti mu yang meminta ku untuk kembali lagi, bukan karena aku lemah sebagai seorang lelaki. Tapi aku tidak ingin menyakiti hati wanita yang aku cintai, ya kau! Aku mencintaimu dari dulu saat pertama bertemu sampai saat ini!" tegas Devan.


Hanna mengusap air mata yang tidak hentinya mengalir, bahkan ia membuang pandangannya karena tidak ingin melihat Devan.


"Kenapa tidak menatap ku?" tanya Devan sambil berusaha memegang wajah Hanna.


Dengan cepat Hanna memukul tangan Devan, sebab ia tidak ingin di sentuh Devan, "Hargai aku!"


"Iya, tapi berapa harga mu?!" tanya Devan.


Hanna seketika menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca, pertanyaan Devan rasanya sangat membuat relung hati nya sakit.


"Kau tidak bisa di hargai dengan apapun Hanna, karena kau adalah nafas untuk ku. Itulah cara ku mencintaimu, menyayangi mu. Jika kau mengatakan aku ini hanya menjadikan mu sebagai pemuas kau salah!" tegas Devan meluruskan kata-kata Hanna yang barusan ia dengar, "Aku pun manusia yang mengerti akan dosa, tapi saat bersama mu yang aku tahu hanya cinta. Ini bukan tentang hasrat Hanna tapi bicara soal cinta dan hati, yang menjadi pertanyaan nya apa ada pria di luar sana yang mau meniduri wanita tanpa rasa cinta? Jika pun ada bukan hanya pada satu wanita, tapi aku tidak Hanna. Aku yang bajingan ini hanya mencintai satu wanita, dan aku pun tidak bisa menahan diri saat bersama mu. Itulah alasan mengapa aku menghindar, aku takut melihat mu bersama yang lain!" tambah Devan lagi.

__ADS_1


Hanna tidak perduli dengan kata-kata Devan, bahkan ia hanya menatap Devan dengan kesal, "Keluar dari kamar ini, aku tidak butuh penjelasan mu!"


"Katakan sekali lagi?" pinta Devan.


"Keluar!" seru Hanna.


"Kenapa kau masih egois Hanna, bersembunyi dalam kebohongan mu sendiri. Di sini kita berdua masih saling menginginkan, membutuhkan, mencintai?" tanya Devan.


"Siapa bilang? Keluar dari kamar ini kita bukan suami istri, dan tidak ada yang harus di jelaskan!!!" teriak Hanna.


"Kau bilang apa yang aku katakan tadi tidak benar?" kaki Devan mulai berjalan mendekati Hanna, tatapan matanya begitu tajam dan memerah menandakan ada kemarahan yang tertahan.


Hanna mundur selangkah demi selangkah, entah mengapa tatapan Devan terlihat sangat mengeringkan, "Kau mau apa?!" tanya Hanna panik.


"Hanya sekedar membuktikan!" dengan cepat Devan menarik Hanna, dan menyadarkan tubuh Hanna pada sudut ruangan.


"Lepas!!!!" Hanna mencoba mendorong dada bidang Devan, tapi sulit. Tubuh tegap dan tinggi Devan bahkan tidak bergerak sedikitpun, "Kau mau apa?!"


"Inilah alasan nya mengapa aku tidak bisa berdekatan dengan mu, aku tidak bisa menahan diri ku Hanna!" tegas Devan.


"Kenapa menangis?"


"Aku hanya ingin di hargai Mas!!!" seru Hanna, "Aku wanita yang juga ingin di sayangi dan cintai, di perjuangkan bukan hanya sebagai pelampiasan!!!" teriak Hanna sambil menangis.


"Kau salah, bukankah sudah aku katakan aku tidak pernah seperti yang kau tuduhkan. Kau mencintaiku aku mencintaimu lalu salahnya di mana?" tanya Devan dengan nada yang lembut.


"Menjauh!!!"


"Kau ingin di hargai, di pertahankan, dan di perjuangkan?" tanya Devan, "Baik! Jangan salahkan aku egois! Agar kau tahu seperti apa aku!" geram Devan.


Mata Hanna menatap Devan penuh tanya, sebab ia tidak mengerti dengan kata-kata Devan barusan.


"Ikut aku!!!" Devan langsung menarik Hanna menuju pintu, "Tekan pin nya!!" titah Devan, sebab ia tidak tahu pin pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Hanna langsung menekannya, karena ia pikir Devan akan keluar. Namun salah, saat pintu terbuka, bukan hannya Devan yang keluar, tapi lengannya yang di tarik hingga membawa dirinya juga ikut keluar.


"Mas lepas!!" seru Hanna karena ingin di lepaskan.


"Ini lah aku Hanna, dan kau harus tahu!" tutur Devan sambil terus berjalan menuju ruang keluarga.


"Ada apa ini?" tanya Mama Sarah.


Semua langsung berdiri melihat Devan yang menarik Hanna, bahkan Hanna terus menangis karena minta di lepaskan.


"Devan?" tanya Mom Citra sambil menatap putranya.


"Lepas!!!" pinta Hanna.


Devan menatap Hanna kemudian kembali menatap Mom Citra, setelah itu Devan memandangi wajah-wajah yang lainnya.


"Devan?!" tanya Agatha penuh tanya, bahkan pandangan nya begitu tajam. Agatha memang sangat menyayangi Devan, bahkan ia rela menyerahkan kekayaan nya pada Devan. Tapi tidak untuk membuat Hanna tersakiti, Agatha juga sangat menyayangi Hanna.


"Maaf Pa, tapi untuk kali ini semua keputusan ada pada Devan," ujar Devan menjeda perkataan nya, demi melihat wajah-wajah orang-orang yang ada di sana. Karena tidak ada yang berbicara, akhirnya Devan kembali berbicara, "Pilihannya hannya satu, dan Papa harus memilih salah satunya, pertama nikahkan kami saat ini. Atau kami akan hidup layaknya suami istri tanpa ikatan pernikahan!" papar Devan.


Deg.


Hanna sangat shock mendengar perkataan Devan, bahkan ia sangat kebingungan saat ini.


"Devan tidak bisakah di bicarakan baik-baik," pinta Mom Citra, dan ia tidak ingin ada yang tersakiti.


"Pilih salah satunya Mom, pada intinya Devan akan tetap bersama dengan Hanna!" jawab dengan tegas.


"Tapi bagaimana dengan Hanna, apa dia setuju?" tanya Agatha yang tidak ingin ada keterpaksaan, sebab ia melihat Hanna seperti tidak mau.


Adam ikut berdiri, "Adam juga bisa kalau Papa tidak mau!" tegas Adam.


Semua mata langsung menatap Adam, karena kata-kata Adam sungguh mengejutkan.

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan Vote. Kalau tidak Othor malas up.


__ADS_2