
Setelah Devan melepaskan Hanna, ia langsung berlari menuju ruang rawat Derren.
Clek.
Hanna membuka pintu dengan napas yang terengah-engah, matanya bisa melihat Risa tengah memeluk Derren. Sedangkan Diana tengah duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Hanna kamu baik-baik saja?" tanya Risa.
"Iya," dengan cepat Hanna menutup pintu dan berjalan kearah Risa yang duduk di sisi ranjang sambil memeluk Derren, "Apa Derren menangis?" tanya Hanna.
"Enggak, tapi dia kayaknya haus deh....mulutnya gerak-gerak terus.... seperti mencari sesuatu," kata Risa sambil melihat Derren, begitu juga dengan Hanna.
"Aku kasih asi dulu ya," kata Hanna, meminta Derren untuk di berikan padanya.
"Iya," Risa mengangguk dan membenarkan Derren, namun saat berdekatan hidung Risa mencium bau tubuh Hanna seperti bau parfum laki-laki. Bahkan seperti ada bau yang lainya, hingga Risa menatap Hanna dengan bingung.
Hanna dengan cepat mengambil Derren, ia tahu tanpaknya Risa merasa ada yang aneh.vIa cepat-cepat berbaring di ranjang sambil memberi asi pada Derren.
Clek.
Pintu kembali terbuka dan Devan di sana, Diana yang melihat Devan langsung berdiri dan berjalan cepat mendekati Devan dengan merapikan jas Devan yang cukup berantakan, "Sayang kamu dari mana?" tanya Diana dengan manja, kemudian hidungnya mencium bau yang aneh, "Sayang ini seperti nya bukan bau parfum mu, ini bau parfum wanita?" Diana menatap Devan dengan penuh selidik. Ia sangat penasaran dan butuh jawaban.
Hanna hanya terus berusaha menyusui Derren, karena Derren marah sebab air asi Hanna tidak keluar. Sebab Devan menyedotnya habis saat tadi.
"Kenapa Han?" tanya Risa.
"Asi aku nggak keluar Sa," kata Hanna.
Oeeee Oeeee Oeeee.
Derren yang merasa tidak mendapatkan asi malah menangis, karena ia sudah sangat haus.
__ADS_1
Risa melihat Devan dan mencerna semua pertanyaan Diana, kemudian ia melihat Hanna. Dengan bau parfum laki-laki. Risa tersenyum karena ia tahu seperti ada yang terjadi.
"Kamu nggak waras Sa?" tanya Hanna dengan suara pelan, agar tidak ada yang mendengar.
"Nggak juga," jawab Risa senyum-senyum.
Hanna tidak lagi perduli pada Risa, ia kemudian fokus pada Derren yang perlahan meminum asi dengan lahapnya. Walaupun mungkin asi nya tidak sebanyak biasanya.
Diana terus menatap Devan, rasanya wangi tubuh Devan memang janggal.
"Sayang kita pulang yuk, aku mau istirahat," kata Diana sambil memeluk lengan Devan.
Devan melihat Hanna, tapi Hanna membuang wajahnya ke arah yang lain. Ia sangat benci pada Devan, kalau memang ia bukan siapa-siapa mengapa Devan tidak menceraikan nya saja.
"Sayang ayo," Diana yang sadar Devan memandang Hanna dengan begitu dalam mulai menarik Devan, tidak ada kesempatan untuk menatap Hanna bagi Diana, "Ingat Devan Mama mu tidak akan hidup sampai saat ini kalau bukan karena aku!" bisik Diana dengan senyum sinis nya.
Devan menatap Diana, perlahan kakinya mengikuti langkah Diana. Sebenarnya Devan sangat berat untuk meninggalkan Hanna, tapi sangat sulit sekali karena Diana sudah mulai mengeluarkan kalimat itu lagi.
Flashback on.
"Mama bangun...." Devan terus menangis dan merasa takut jika Sarah tidak bisa di selamatkan, berulangkali Devan berusaha membangunkan Sarah namun tidak bisa. Sarah masih tetap tidak sadarkan diri.
"Apa tidak ada jalan lain dok?" tanya Agatha, wajah pria paruh baya itu sudah di penuhi air mata. Rasa takut kehilangan istrinya, "Apa di luar negeri ada pengobatan lebih baik?" Agatha tidak mempermasalahkan tentang uang, karena uang tidak menjadi masalah baginya. Dengan harta yang berlimpah ia bisa membayar dokter mana pun di penjuru dunia.
Sang dokter menggeleng, "Kami takut saat di perjalanan nyonya Sarah malah kehilangan nyawanya, jalan satu-satunya hanya donor ginjal," kata Dokter tersebut lagi.
Agatha mengangguk, ia tidak tahu harus mencari donor ginjal kemana. Sedangkan tidak ada di antara mereka yang cocok dengan ginjal Sarah. Sampai akhirnya Diana datang dan menawarkan dirinya.
"Aku bisa donor ginjal aku buat Mama kamu," Diana memberikan hasil pemeriksaan ginjal yang diam-diam ia lakukan, dengan cara mengatakan bahwa ia akan mendonorkan ginjal nya pada dokter yang menangani Sarah.
Devan melihat Diana, ia tidak pernah tertarik pada Diana. Diana adalah anak dari teman arisan Sarah dan saat melihat Devan Diana sudah tertarik untuk memiliki Devan. Tapi sayang Devan menolak karena tidak tertarik pada Diana. Tapi untuk kali ini Devan tidak bisa memilih, ia hanya punya satu kesempatan dan tanpa pikir lagi Devan menyetujui menikah dengan Diana.
__ADS_1
Setelah pernikahan siri di lakukan saat itu juga, Diana langsung mendonorkan ginjal nya untuk Sarah. Tidak sia-sia, pengorbanan Devan. Karena operasi berhasil dan Sarah terselamatkan.
"Mama," Devan langsung memeluk Sarah, ia sangat bahagia melihat Sarah membuka matanya.
"Devan, Mama masih hidup Nak?" tanya Sarah, karena ia pikir ia sudah tiada.
"Iya Ma," Devan mengangguk.
Kemudian Sarah melihat Diana di sana, Sarah tersenyum begitu juga dengan Diana.
"Mama udah sadar?" kata Diana.
"Mama?" Sarah tampak bingung dengan panggilan Diana, sebab selama ini Dimana hanya memanggilnya Tante.
"Diana dan Devan sudah menikah," kata Devan.
Sarah tentu saja sangat terkejut mendengar nya, tapi Sarah mengerti mungkin saja Devan dan Diana takut dosa terlarang terjadi. Walaupun sebenarnya Sarah cukup kecewa, karena Devan tidak menunggu sampai ia sadarkan diri terlebih dahulu.
"Mama jangan banyak pikiran," Agatha mencoba menenangkan Sarah, karena ia tahu istrinya itu kecewa, "Diana sudah mendonorkan ginjal buat Mama," kata Agatha lagi agar Sarah tidak lagi bersedih.
Benar saja Sarah terkejut dan ia seketika menatap Diana penuh haru, "Diana kamu baik sekali," Sarah langsung membuka tangannya dan Diana langsung memeluk Sarah, "Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Mama," kata Sarah sambil menitihkan air matanya.
'Maaf ya Ma, Diana sama Devan nikah sebelum Mama sadar," kata Diana.
"Tidak apa-apa, setelah ini kita akan meresmikan pernikahan kalian ya....." Sarah memegang kedua tangan Diana, ia sangat berterima kasih pada Diana.
Flashback off.
Diana dan Devan terus berjalan keluar, dengan Diana yang terus memeluk lengan Devan.
"Ingat Dev, aku sudah berkorban banyak untuk Mama Sarah," serkah Diana.
__ADS_1
Devan menghentikan langkah kakinya, ia menatap Diana. Rasanya sangat muak sekali harus terus beracting seakan ia sudah mencintai Diana, padahal sampai saat ini pun tidak pernah ada cinta untuk Diana. Dan entah sampai kapan ini akan terus berlanjut, kalau bukan karena Mama Sarah ia mungkin sudah lama meninggalkan Diana.
Lantas rahasia apa lagi yang akan terungkap, siapakah sebenarnya Devan, siapakah sebenarnya Hanna, dan siapakah Diana? akankah semua baik-baik saja? Dan bagaimana dengan Adam? Siapakah Adam sebenarnya?.