
Devan tidak lagi berbicara, ia keluar dari kamar Hanna. Tangannya terus saja terkepal dengan rasa bersalah, bahkan ia sangat membenci tangannya yang sudah melayang di pipi Hanna. Saat Devan terus berjalan ia berpapasan dengan Mama Sarah dan juga Diana.
"Sayang," Diana langsung memeluk lengan Devan, namun tatapan Devan yang tajam membuat Diana bergidik ngeri, "Kamu kenapa?" tanya Diana sambil menjauh dari Devan.
Devan terus saja menatap Diana dengan tajam, dan tangannya terkepal erat itu perlahan terangkat.
"Devan!!!!" Sarah panik, karena ia takut tinjuan itu mengarah pada Diana.
Brak!
Kranggg!!!
Kaca yang terpasang di belakang Diana pecah dan menjadi beling-beling kecil, karena tinjuan Devan.
"Aaaaaaaa......" teriak Diana bersamaan dengan kaca pecah itu.
"Devan," Sarah juga mendadak pucat, karen ia berpikir kalau Diana sudah kenapa-kenapa. Namun ternyata tidak, semua baik-baik saja. Hanya kaca yang pecah.
Devan masih menatap Diana penuh amarah, tidak perduli pada tangan masih tergantung. Tapi mengeluarkan darah.
"Devan kamu mau apa?" tanya Diana ketakutan bahkan tubuh nya gemetaran.
"Devan!!!" Sarah tidak ingin ada lagi yang terluka, ia mendekati Devan dan melihat tangan putra kesayangannya, "Nak tangan kamu berdarah, biar Mama obati," tawar Sarah.
Devan tidak perduli, ia pergi begitu saja. Karena emisi nya benar-benar tidak bisa di kendalikan saat ini.
Sarah tidak berani lagi berbicara, ia terpaksa membiarkan anaknya pergi.
"Devan kenapa ya Ma?" tanya Diana dengan meneguk saliva.
"Entahlah Di, Mama juga bingung kenapa dia bisa semarah itu," kata Sarah.
"Pasti wanita itu Ma," tebak Diana.
"Wanita itu?" tanya Sarah bingung.
"Iya, Hanna.....pasti Devan abis dari kamar Hanna, kalau enggak ngapain dia lewat di sini," kata Diana lagi dengan penuh kekesalan.
Sarah diam tanpa banyak bicara, entah mengapa ia merasa jika Hanna adalah putri nya. Semua semakin kuat sejak ia melihat tanda lahir itu, tapi Sarah tidak mau langsung mengatakan itu pada siapapun. Karena takut malah ada orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan keadaan itu, seperti dulu pernah terjadi. Art nya seakan adalah putri nya, namun setelah melakukan tes DNA diam-diam hasilnya negatif.
__ADS_1
"Diana harus kasih pelajaran sama wanita itu!" kata Diana, kemudian ia berjalan cepat menuju kamar Hanna.
Sarah juga ikut menyusul Diana, karena ia juga penasaran apakah Devan marah seperti tadi karena bertengkar dengan Hanna.
Brak!
Diana masuk dengan membanting pintu, dan ia melihat Hanna tengah menyusui Derren.
"Saya permisi nyonya," pamit Risa dan ia segera keluar dari kamar itu, Risa tidak ingin terlalu terang-terangan menolong Hanna. Karena ia tahu bagaimana Diana, ia takut nantinya ia akan di pecat dan kasihan Hanna tidak memiliki teman lagi.
"Hey, apa yang kau lakukan pada suamiku sampai dia bisa semarah itu?!" tanya Diana tanpa basa-basi.
Tidak lama kemudian Sarah juga masuk, ia melihat Hanna tengah menyusui Derren.
"Diana, kalau bicara pelan-pelan saja....kasihan Derren sedang tidur," Sarah menunjuk Derren yang tertidur lelap di pelukan Hanna.
"Mama belain dia?!" Diana tanpaknya tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Sarah, padahal memang Derren sedang tidur lelap.
"Mama enggak belain siapa-siapa, Derren Memang sedang tidur...." kata Sarah lagi.
"CK....." Hanna kesal karena Sarah sepertinya mulai luluh, 'Ini tidak bisa di biarkan,' batin Diana, "Ma, Diana udah donorin ginjal Diana satu buat Mama......tapi Mama kayaknya udah enggak ingat," tegas Diana.
"Terus kenapa Mama belain dia!" Diana menunjuk Hanna.
"Mama enggak belain siap-siap, Mama cuman kasihan sama Derren....dia tidur lelap kita bicara teriak-teriak, kan kasian," jawab Sarah lagi.
Diana tidak lagi ingin berdebat dengan Sarah, ia kini menatap Hanna, "Kamu ngapain tadi, sampek Devan marah banget abis keluar dari sini?" tanya Diana.
"Dia kesini cuman nampar aku," Hanna menunjuk pipi memarnya, agar Diana senang melihatnya.
"Devan nampar kamu?" tanya Diana dengan tersenyum.
"Iya," kata Hanna lagi, agar Diana puas dan segera pergi dari kamarnya.
"Devan nampar kamu Hanna?" tanya Sarah juga
"Iya Nyonya," Hanna mengangguk.
Sarah mulai mendekat pada Hanna, dan benar ada lebam di pipi Hanna. Rasanya Sarah seperti kasihan pada Hanna, "Risa," panggil Sarah.
__ADS_1
"Iya Nyonya besar," Risa dengan cepat kembali masuk ke kamar Hanna, karena ia masih berada di luar kamar Hanna tidak benar-benar pergi meninggalkan Hanna.
"Ambilkan kotak obat," kata Diana lagi.
"Iya Nyonya," Risa cepat-cepat mengambil kotak obat dan memberikan nya pada Sarah, "Ini Nyonya," setelah itu Risa kembali keluar.
Sarah membuka kotak obat itu, ia duduk di sisi ranjang, "Sini biar saya obati," kata Sarah.
Diana tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Sarah mengobati luka Hanna, "Mama apa-apa sih!" geram Diana mengepalkan tangannya.
"Tidak usah Nyonya, terima kasih," tolak Hanna juga, sebab ia tidak ingin Diana semakin berteriak di dalam kamar nya.
"Tidak apa," kata Sarah memaksa, dan benar saja ia melihat ada memar di pipi Hanna. Entah mengapa Sarah merasa sangat iba pada Hanna.
"Ma, dia ini cuman pembantu!" kata Diana lagi.
"Diana cukup!" kata Sarah menatap tajam Diana, "Hanna juga menatu Mama, dia masih istri Devan!" kesal Sarah.
Diana menggelengkan kepalanya, dan mendadak bingung dengan kata menantu yang di ucapkan oleh Sarah. Ini benar-benar di luar pikiran Diana, "Mama kenapa sih?" tanya Diana lagi.
Sementara Hanna juga terkejut dengan kata menatu yang di ucapkan oleh Sarah, bukankah selama ini Sarah sangat membencinya. Bahkan Sarah tidak ingin ia berada di dekat Devan, di tambah lagi saat di rumah sakit Sarah sangat kasar padanya.
"Sudahlah Diana, kau keluar dari sini....Derren sedang tidur!" Sarah memberikan peringatan pada Diana.
"Mama belain pelakor ini?" tangan kiri Diana mengarah pada Hanna, namun pertanyaan yang di ajukan Diana pada Sarah.
"Dia tidak pernah merebut Devan dari siapapun Diana! Bukankah dia adalah korban di sini!" tegas Sarah.
Diana menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika Sarah kini memihak pada Hanna, "Urusan kita belum selesai ya Hanna!" Diana menatap tajam Hanna dan pergi keluar dari kamar Hanna membawa kekesalannya.
Sarah menarik nafas dengan berat dan ia mulai membersihkan luka kebab di pipi Hanna.
"Tidak usah Nyonya, ini tidak papa," tolak Hanna.
"Tidak apa bagaimana, ini sampek memar begini," kata Sarah dengan tangan yang terus mengobati Hanna.
Hanna kemudian diam, rasanya ia sangat nyaman berada di dekat Sarah. Apa lagi dengan kelembutan Sarah sungguh membuat Hanna merasa tersentuh.
"Apa Devan sering melakukan ini?" tanya Sarah penasaran, karena setahu Sarah Devan tidak pandai kadar pada wanita.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya," jawab Hanna sambil menitikkan air mata, tidak pernah terbesit di pikiran nya jika orang yang ia cintai adalah orang yang melukainya lahir dan batin.