Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Agatha Murka


__ADS_3

"Kalian pikir aku tidak tahu Hanna itu adalah Ibu kandung Derren?" tanya Agatha lagi.


Deg.


Keadaan semakin memanas tidak ada yang menyangka jika Agatha tau tentang semua itu, dan entah sejak kapan.


"Apa yang akan kalian jelaskan lagi?" tanya Agatha.


"Tapi Hanna itu orang yang udah merebut suami Diana Pa," kata Diana yang tidak ingin ikut di salahkan.


Brak!


Agatha menggebrak meja, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang memuncak.


"Jangan berbohong pada ku!" geram Agatha, "Sekali lagi aku katakan, jangan ada yang berbohong pada ku!" Agatha kini beralih menatap Sarah yang duduk di samping Diana.


Sarah meneguk saliva dan ketakutan, ia tidak menyangka ternyata Agatha begitu marah.


"Kau Sarah!" tidak pernah satu kali pun Agatha menyebut nama Sarah langsung seperti ini, namun kali ini ia tampaknya sudah sangat murka, "Jangan pernah ikut campur urusan rumah tangga anak mu!" bentak Agatha, "Biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangga nya, jangan pernah memaksakan kehendak mu pada orang lain....Devan juga berhak bahagia," jelas Agatha.


"Pa, maksud Mama itu..." Sarah tidak berani lagi berbicara karena tatapan Agatha semakin tajam.


"Kalau kau tidak bisa menghargai orang lain, kau pun bisa keluar dari rumah ini!" sergah Agatha.

__ADS_1


Glek.


Sarah meneguk saliva dan tidak berani lagi untuk berbicara.


"Devan kau ingin bahagia bersama Diana bukan?" tanya Agatha tanpa menunggu jawaban Devan, "Sekarang kalian akan bahagia, Diana tengah mengandung dan Hanna sudah pergi bersama Derren dan anak mu yang masih di kandungnya!" kata Agatha lagi.


"Anak ku?" tanya Devan.


"Jangan bilang kau tidak mengakui kedua anak itu?!" tebak Agatha.


"Derren memang anak kami Pa, tapi Hanna mengatakan kalau anak yang di kandang nya bukan anak Devan," kata Devan, mengingat apa yang pernah di katakan oleh Hanna.


"Em...." Agatha tersenyum miring, "Percuma aku membiayai pendidikan mu, karena tidak ada ilmu yang kau miliki!" ujar Agatha.


"Papa Kenapa bicara begitu?" tanya Sarah memberanikan diri.


Sarah tercengang dan menatap Devan, "Dev apa Hanna hamil lagi?" tanya Sarah. Karena Sarah memang tidak pernah tahu untuk kehamilan Hanna yang kedua ini, apa lagi tentang kepergian Hanna. Sungguh Sarah tidak tahu.


"Iya Ma," jawab Devan.


"Devan," Sarah menutup mulutnya yang terbuka lebar, "Tapi apa kau dan Hanna?" Sarah benar-benar tidak tahu jika Devan dan Hanna masih seperti selayaknya suami istri. Sarah berpikir setelah Derren lahir tidak lagi ada hubungan suami-istri antara Hanna dan Devan.


"Iya, anak mu ini setiap malam tidur di kamar istri keduanya! Dan setelah istri keduanya mengandung dia malah meragukan anaknya sendiri!" tambah Agatha lagi.

__ADS_1


Devan tercengang, ia langsung menatap Agatha. Ia sungguh tidak menyangka jika Agatha tau tentang semua itu.


"Kenapa?" tanya Agatha saat melihat tatapan Devan yang penuh tanya, "Kau pikir aku tidak tahu, tidak ada di rumah ini yang lepas dari pengawasan ku!" kata Agatha lagi.


"Devan kamu harus cari Hanna, Hanna sedang mengandung anak kamu," pinta Sarah sambil menangis, "Derren juga masih terlalu kecil, bagaimana Hanna bisa mengurus Derren juga, dan bagaimana mereka bisa hidup," kata Sarah sambil memeluk Devan.


Diana memutar bola matanya, dan ia kesal dengan permintaan Sarah, "Ma, Hanna udah pergi, biarkan saja....kan Diana juga sedang hamil cucu Mama," kata Diana.


"Lihatlah Sarah, menatu kebanggaan mu itu!" kata Agatha sambil berkacak pinggang, "Tapi benar untuk apa mencari Hanna, lagi pula Hanna sudah di usir Devan dari rumah ini, dia pergi setelah di ceraikan oleh Devan, kini dia bebas di luar sana," kata Agatha tersenyum saat melihat Devan yang kini terlihat menyesal.


Glek.


Diana meneguk saliva, Agatha terlihat sangat mengerikan saat ini. Dengan terpaksa ia diam.


"Mama tidak menyangka Di, tenyata kamu bisa bicara begitu," kata Sarah dengan penuh kecewa.


"CK....." Diana kesal dan langsung pergi begitu saja, ia tidak mengerti mengapa semua orang kini begitu membela Hanna.


"Kau lihat menantu mu itu!" kata Agatha lagi dan ia pergi begitu saja.


"Devan.....hiks....hiks....." Sarah menangis di pelukan Devan, "Kamu harus cari Hanna, kenapa kamu mengusir Hanna Devan, dan kamu juga menceraikan Hanna?" Sarah menggeleng sambil memukuli dada bidang Devan, "Kamu harus cari Hanna," pinta Sarah.


"Tidak perlu," kata Agatha yang belum benar-benar pergi dan ia masih mendengar suara Sarah walau pun ia sudah berjarak sedikit menjauh. Agatha berbalik dan menatap Sarah dan Devan, "Untuk apa mencarinya, bukan kah ini yang kalian inginkan....biarkan saja mereka mau hidup atau mati! Karena itu yang kalian inginkan!" geram Agatha. Walaupun Agatha tidak akan setega itu, tapi ia sedang berusaha menyadarkan jika apa yang di lakukan Sarah dan Devan itu adalah hal salah, "Ingat Sarah, jangan pernah lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga anak dan menantu mu, dan kau Devan jadilah lelaki yang punya pendirian!" tegas Agatha lalu benar-benar pergi.

__ADS_1


"Devan, kamu harus cari Hanna," kata Sarah masih dengan tangisan nya, "Mama mohon Devan, bagaimana mereka bisa hidup di luar sana.... bagaimana Hanna bisa bekerja dengan membawa bayi berusia enam bulan dan kandungannya," Sarah tidak bisa membayangkan jika Derren menderita, di tambah lagi kalau sampai janin Hanna kekurangan gizi. Apa yang akan terjadi nanti. Rasa sesal di hati Sarah terus saja menghantui nya, ia benar-benar tidak tahu jika Agatha tidak mengatakan perihal kehamilan Hanna untuk yang kedua ini.


Devan hanya tertunduk lesu, sedih, kesal dan menyesal mencampur menjadi satu. Kata yang ia ucapkan benar-benar membuat Hanna pergi, Devan pergi dan meninggalkan Sarah yang terus saja menangis dengan begitu pilu. Rasa sesal kini tinggal menjadi bingkai dalam setiap gambaran saat ia menyakiti Hanna, entah mengapa Sarah merasa ada yang hilang saat Hanna pergi darinya.


__ADS_2