Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pertahankan atau Lepaskan


__ADS_3

Tok tok tok


Risa mengetuk pintu kamar Hanna, ia ingin sekali berbicara berdua saja dengan Hanna. Walaupun sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam urusan ibu dua orang anak itu, tapi Risa ingin sekali berbicara pada Hanna bahkan menceritakan apa yang di lalu Devan selama beberapa tahun itu.


Clek.


Pintu terbuka, seorang wanita dengan daster yang paling ia anggap nyaman saat malam mulai terlihat.


"Risa?"


Hanna sedikit terkejut melihat Risa yang ternyata menemuinya.


Risa mengangguk, "Boleh aku masuk?" tanya Risa dengan ragu, takut bila Hanna tidak memberikan ijin.


Hanna mengangguk, "Silahkan."


Kaki Risa perlahan melangkah masuk, ia menatap sekeliling kamar Hanna. Kemudian kembali berbalik menatap Hanna.


"Apa hanya aku yang merindukan mu?" tanya Risa.


Hanna sangat terkejut dengan pertanyaan Risa, bukannya Hanna tidak merindukan Risa. Tapi mungkin Hanna merasa kesal karena Risa begitu dekat dengan Devan, tapi salah nya di mana? Bukankah Devan hanya mantan suaminya. Cepat-cepat Hanna membuang rasa kesalnya, kemudian ia menatap Risa.


"Tentu saja aku juga merindukan mu," Hanna langsung memeluk Risa, begitu juga dengan Risa.


Setelah keduanya berpelukan Risa mulai mengutarakan pertanyaan, "Apa kau akan menikah?" tanya Risa to the point.


Hanna mengangguk lemah, walaupun sebenarnya ia tidak ingin membahas tentang semua itu. Tapi pertanyaan Risa juga tidak salah.


"Apa kau mencintai calon suami mu?" tanya Risa lagi.


Mata Hanna mulai menatap Risa dengan berkaca-kaca.


"Kenapa, apa pertanyaan ku salah?"

__ADS_1


Hanna menggeleng, "Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mu."


"Lalu kenapa menangis? Apa ada yang salah dengan hati mu?" tanya Risa lagi.


"Apa kau dan Devan sudah menikah?" tanya Hanna.


Risa mulai bingung dengan pertanyaan Hanna, "Menikah? Pertanyaan konyol!"


"Konyol?"


"Devan itu Kakak ku, tidak mungkin kami menikah!" papar Risa.


Jawaban Risa seakan menjadi rasa bingung yang di rasakan oleh Hanna, bahkan matanya menatap Hanna penuh tanya.


"Kenapa kau menatap ku begitu?" kali ini bukan hanya Hanna yang bingung, tapi Risa juga sangat bingung, "Apa kau tidak tahu, apa Kak Dev tidak menceritakan siapa aku?" tanya Risa bertubi-tubi.


Hanna menggeleng lemah dengan rasa bingung yang semakin memuncak, rasa kerkejut bercampur penasaran menjadi satu.


"Nama ku Clarisa Anderson, aku adalah adik kandung dari Devan atau mantan suami mu. Dan aku saat itu menyamar menjadi seorang pembantu, demi menyelidiki langsung siapa Devan itu," Raisa mulai menceritakan tentang dirinya, bahkan ia menceritakan semua tanpa ada yang di tutupi.


"Kau masih punya waktu jika ingin kembali pada Kak Dev, sebelum menikah dengan pria lain!" tambah Risa.


"Keputusan ku sudah bulat Risa, aku akan tetap menikah dengan orang lain. Orang yang selalu berjuang demi mendapatkan aku," jawab Hanna.


"Tapi aku sudah menjelaskan semuanya!"


"Penjelasan mu tidak akan merubah segalanya!" jawab Hanna tidak kalah tegas.


"Karena kau mencintai calon suami mu itu?!"


"Karena perjuangan, aku sebagai seorang wanita juga ingin di perjuangkan!"


Risa mengangguk mengerti, ia berbalik dan menatap arah luar. Dimana ada Devan yang tengah berdiri di depan pintu yang terbuka, karena posisi Hanna membelakangi pintu ia tidak melihat Devan ada di sana.

__ADS_1


"Kak Dev memang pria yang dingin dan tertutup Hanna, tapi setelah kalian berpisah dia hanya ingin kau bahagia. Dia bukan tidak menyesal bertapa kasarnya dulu pada mu, aku saksinya!" Risa menatap Hanna yang hanya menunduk dalam duduk nya, "Dia berada dalam posisi yang sulit, berjuang untuk mu dia takut kau terpaksa lagi dengan nya. Meninggalkan mu, dia tidak sanggup karena dia mencintai mu. Memaksa mu menikah karena anak-anak dia takut kau tidak bahagia, katakan Hanna salahnya di mana? Dan apa yang ada di hati mu?"


"Penjelasan mu tidak akan merubah apapun Risa, keputusan ku sudah bulat. Lagi pula untuk apa kau menjelaskan nya?"


"Agar kau tahu Kak Dev mencintai mu!" tegas Risa.


Hanna tersenyum miring mendengar jawaban Risa, "Bukan karena kau kasihan pada dua keponakan mu? Lihat kau saja ingin berjuang demi mereka, lalu bagaimana dengan Mas Devan?"


"Apa kau masih mencintainya?!" Risa menatap Devan yang juga terkejut dengan pertanyaan Risa.


"Iya," jawab Hanna.


Devan perlahan maju selangkah demi selangkah, karena ia terkejut dengan jawaban Hanna.


"Tapi tidak untuk kembali!" tambah Hanna lagi.


Kaki Devan berhenti melangkah, karena kembali terkejut dengan kata-kata Hanna.


"Maksud mu?" tanya Risa bingung.


"Aku hanya butuh lelaki tegas, berpendirian, yang memperjuangkan aku dan anak-anak ku!" jawab Hanna tegas.


"Tapi Kak Dev juga mencintai mu!!" Risa masih terus berusaha untuk meluluhkan hati Hanna.


"Tapi aku hanya ingin di hargai Risa, aku juga ingin bahagia. Lelah sudah aku berjuang, bahkan sampai malam tadi aku diam dan menerima saat tangannya menjamah ku. Aku sadar saat itu, tapi aku tidak menolak. Aku menantang dosa yang aku tahu berapa besarnya karena zina, tapi dia tidak mengerti. Dia tidak mengerti, tidak bicara. Sebagai seorang wanita yang pernah tersakiti berada dalam posisi ini seakan mengingatkan aku pada masa lalu, kau ingat Risa?" tanya Hanna yang membuka kembali kenangan lama, "Aku di nikahi, melahirkan anak, di jadikan pelampiasan. Setelah dia puas wajah ku di lempari uang, aku ini istri bukan wanita bayaran!" kata Hanna menunjuk dirinya sendiri, "Tidak di pertahankan, tidak di lepaskan. Rasanya itu sangat menyakitkan," kata Hanna dengan suara yang bergetar, "Aku terluka Risa, kau yang menjadi saksi dari itu semua, tapi aku tetap mau menatap nya sampai saat ini. Alasannya hanya karena cinta, aku melupakan segala masa lalu ku bersama nya. Tapi sampai di mana perjuangan nya, katakan inikah yang di namakan dengan cinta?" tanya Hanna yang kini mulai menyudutkan Risa.


Risa menatap Hanna, dan kini ia mulai beralih menatap Devan, "Aku harap kau punya pilihan yang tepat Kak Dev, lepaskan atau perjuangkan!" kata Risa, kemudian ia berjalan ke arah pintu dan menatap Devan, "Keputusan ada di tangan mu, kau sudah mendengar segala nya," setelah mengatakan itu Risa berlalu pergi.


Hanna masih menunduk, karena ia mulai mendengar Risa menyebutkan nama Devan. Dengan perasaan yang campur aduk Hanna mulai berdiri, dan memutar tubuhnya. Matanya melihat dengan jelas ada Devan yang berdiri di depan pintu.


Tap tap tap.


Devan mulai melangkah masuk dan mendekati Hanna, bahkan ia menutup pintu yang otomatis langsung terkunci. Matanya hanya fokus menatap Hanna, yang menatap nya dengan keterkejutan.

__ADS_1


*


Othor bakal up kalau banyak yang like dan Vote.


__ADS_2