Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Ternyata


__ADS_3

"Gimana Ra?" Hanna bercermin pada kaca, ia sedang merapikan penampilan nya.


"Cakep, tapi jangan lupa. Gaji pertama bagi dua," seloroh Risa sambil melihat Hanna.


"Alah semua buat kamu juga enggak papa!" celetuk Hanna.


"Enggak sudi aku!" kata Risa kesal.


Hanna menatap Risa dari kaca, "Dasar aneh, di kasih duit enggak mau!" geram Hanna.


"Kamu pikir aku cewek apaan!"


Hanna langsung menoleh dan menatap Risa penuh tanya karena ia tidak mengerti dengan apa maksud Risa.


Risa memutar bola matanya dengan jenuh, karena Hanna malah tidak mengerti, "Kamu kerja, aku di rumah. Terus pas kamu gajian kasih uang gaji kamu ke aku semua, kamu 0ikir Ku istri kamu! Aku masih normal Han!" jelas Risa.


Hanna melongo mendengar penuturan Risa, "Ffffffpppp....." Hanna menahan tawa karena penjelasan Risa yang sangat konyol, "Memangnya kamu pikir aku yang enggak normal?" tanya Hanna masih dengan tertawa kecil.


"Ya.....mana aku tahu, mungkin kamu udah trauma sama pisang," celetuk Risa.


"Pisang?" Hanna tahu maksud dari kata-kata Risa, hanya saja ia berpura-pura bodoh. Lagi pula Hanna kesal jika Risa malah membahas hal aneh, jadi Hanna lebih memilih seolah ia tidak mengerti.


"He'um," Risa mengangguk, "Pisang Ambon tuan Devan!" jelas Risa.


"Risa!!!!" Hanna ternyata tidak salah, karena apa yang ia pikirkan benar sekali. Lihat saja saat ini pun Risa masih sama jailnya.


"Kamu kenapa marah?" tanya Risa santai seolah tidak perduli, "O......" Risa mengangguk sambil menatap Hanna penuh curiga, "Atau kamu lagi mikir yang aneh-aneh?"


Buk!!

__ADS_1


Hanna memukul Risa dengan sebuah majalah, ia sangat kesal pada Risa yang memiliki banyak cara untuk membuatnya kesal.


"Etsssss......kalau marah berarti iya," kata Rusa sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Terserah kamu aja lah," kesal Hanna dan ia memilih tidak perduli, "Aku pergi ya, titip anak-anak," kata Hanna berpamitan.


"Sip!" Risa mengacumkan jempolnya, kini Risa merasa lebih betah tinggal bersama Hanna dari pada kembali bekerja di rumah mewah milik Sarah. Dan Risa memutuskan untuk tidak lagi kembali ke sana.


Hanna keluar dari rumah sederhana nya, dengan rok panjang dan kemeja berpadu pasmina di kepalanya Hanna terlihat cantik. Sekalipun Hanna berpakaian tertutup tetap saja wajah manisnya tidak bisa di lupakan oleh siapa saja yang melihatnya, sipat sopan santun sangat melekat pada nya.


Sampai akhirnya sebuah angkot mengantarkan Hanna pada sebuah butik, Hanna memastikan apakah ia tidak salah tempat. Berulangkali Hanna melihat sebuah kartu nama yang ia pegang, dan alamatnya mengatakan sudah benar. Tapi Hanna tanpaknya masih ragu, sebab butik itu cukup besar. Dengan pelanggan kelas atas.


"Hanna!!!!" seru seorang wanita cantik, sebuah kemeja berpadu dengan celana jeans membuatnya terlihat elegan.


Hanna melihat siapa orang yang memanggilnya, "Kiara," Hanna tersenyum dan ia berjalan mendekati Kiara.


"Akhirnya kamu datang, ayo masuk," Kiara membawa Hanna masuk pada ruangannya, dimana Kiara adalah atas sekaligus manager, "Ayo duduk," Kiara mempersilahkan Hanna untuk duduk di sofa.


"Kamu setuju dong kerja di sini?" tanya Kiara dengan senyuman, karena menurut Kiara Hanna sangat berbakat dan juga bisa menjadi aset di butik itu.


"Iya, enggak ada salahnya mencoba," jawab Hanna dengan yakin.


"Ok, baiklah....." Kiara mengambil sebuah map pada laci meja kerjanya, dan membawanya pada Hanna, "Kamu baca baik-baik kontraknya, dan kalau setuju kamu tanda tangan," Kiara memberikan map bersama sebuah bolpoin pada Hanna.


Hanna menerima nya dan mulai membacanya, "Kontrak lima tahun?" tanya Hanna kemudian ia kembali melihat kertas pada tangannya, "Jika mengundurkan diri sebelum kontrak berakhir harus membayar......" Hanna terkejut melihat nominalnya ia menatap Kiara, "Kiara ini serius denda nya lima satu miliar?" tanya Hanna melongo.


"Iya, jangan fokus sama dengan. Fokus juga sama gajinya," Kiara menunjukan gaji yang akan di terima oleh Hanna setiap bulannya, yang bisa sampai puluhan juta rupiah.


Hanna mengangguk dan apa yang di katakan oleh Kiara ada benarnya, "Ya udah aku setuju," Hanna merasa tidak ada yang salah, lagi pula ia butuh uang agar anak-anak bisa hidup berkecukupan. Apa lagi sekarang biaya hidup semakin mahal, bukan Devan tidak mau memberikan nafkah pada anak-anak nya. Tapi Hanna yang tidak mau menerima uang dari Devan, dan itu pun. enjadi salah satu syarat untuk Devan bisa melihat anak-anak nya.

__ADS_1


"Sedang kamu bisa bergabung di sini," Kiara mengulurkan tangannya dan keduanya berjabatan tangan.


"Iya," Hanna tersenyum dan merasa sangat bersyukur.


"Ayo aku tunjukan ruangan kamu, dan ada beberapa gaun yang harus kamu rancang," kata Kiara dan keduanya menuju sebuah ruangan, "Ini ruangan mantan desainer lama, dan sekarang ini jadi ruangan kamu," jelas Risa


Hanna mengangguk, ia matanya menyapu sudut ruang yang kini menjadi ruang kerjanya. Dan perlahan kakinya melangkah masuk.


"Aku tinggal dulu ya Han, aku mau menemui pelanggan dulu," kata Risa tersenyum ramah.


"Iya, sekali lagi terima kasih."


"Iya," Risa tersenyum lalu pergi..


Dua hari berlalu Hanna terlihat semakin betah bekerja menjadi seorang desainer di sebuah butik ternama, namun ia cukup terkejut karena ternyata butik itu milik Sarah.


"Hanna kamu kerja di sini?" tanya Sarah.


Sarah baru saja datang dan Kiara mengatakan ada seorang desainer baru yang bekerja sangat memuaskan, hingga Sarah penasaran dan langsung datang ke butik.


Sedangkan Hanna sudah di beritahu jika pemilik butik ingin menemuinya, dan ingin berbicara padanya. Namun Hanna malah terkejut karena Sarah pemilik butik tersebut.


"Kamu kenal sama Ibu Sarah Han?" tanya Kiara yang juga terkejut, karena Sarah bukanlah orang sembarang yang bisa dekat dengan orang di luar sana.


Sarah tersenyum, "Dia ini mantan istri anak saya, dan saya punya dua cucu yang di lahirkan Hanna," jelas Sarah tersenyum lembut.


Kiara terdiam, ia sejenak mengingat beberapa hari lalu saat seorang pria yang duduk di kursi depan teras rumah Hanna. Dimana pria itu tengah bermain dengan seorang anak kecil, awalnya Kiara merasa tidak mungkin itu Devan atau putra sulung dari Sarah. Namun ternya benar.


"Ya ampun Han, jadi yang kemarin itu beneran tuan Dev? tanya Kiara, namun setahu Kiara istri Devan adalah Diana. Ada banyak pertanyaan di otak Kiaran, tapi ia menyimpan semua rasa penasaran nya bagaimana pun Hanna berhak untuk tidak bercerita malah pribadinya.

__ADS_1


Hanna mengangguk ringan, dan ia sama sekali tidak ingin bercerita banyak hal. Andai saja ia tahu butik tersebut milik Sarah, sudah pasti ia tidak akan mau bekerja di sana.


"Selamat bekerja di butik ini, Mama senang sekali," kata Sarah tersenyum.


__ADS_2