Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Tamparan


__ADS_3

Sampai di rumah Hanna langsung menuju kamarnya, ia duduk di sisi ranjang dengan tertunduk. Beberapa butir air mata terus menetes dari pipinya. Tidak lama berselang Risa datang, ia langsung masuk ke kamar Hanna karena pintu tidak tertutup rapat.


"Han," kata Risa yang mulai mendekat pada Hanna.


Hanna mengusap air mata, kemudian memutar lehernya melihat Risa yang perlahan berjalan ke dekatnya. Kemudian ia duduk di samping Hanna, "Kamu nangis ya?" tanya Risa.


Hanna tersenyum, tidak ada yang harus di jelaskan lagi. Risa sudah sangat tahu tentang apa yang ia rasakan kini, "Aku pengen pergi dari sini Sa, aku pengen bawa Derren juga," kata Hanna.


"Iya, aku ngerti kok," Risa mengusap punggung Hanna, "Kamu sabar ya," kata Risa lagi.


"Iya," kata Hanna sambil tersenyum, bersyukur ada Raisa yang menjadi teman curhat nya.


Tok tok tok.


"Hanna... " terdengar suara Adam di luar sana.


"Aku aja yang buka," kata Raisa, dan ia berjalan kerah pintu.


Clek.


Pintu terbuka dan ada Adam di sana, "Tuan," sapa Raisa.


"Hanna ada?" tanya Adam.


"Ada tuan, Hanna di dalam," kata Raisa kemudian ia melihat kedalam. Dan ternyata Hanna pun tengah melihat padanya, "Han, ada tuan Adam," kata Hanna.


"Iya," Hanna bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


"Saya permisi tuan," pamit Risa dengan sopan pada Adam.


"Ada apa dokter?" tanya Hanna.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, cuman pengen ngobrol dengan kamu aja," kata Adam, "Bisa bicara sebentar?" tanya Adam.


"Bisa Dokter, tapi tidak di sini," kata Hanna. Karena bagaimanapun kedua nya bukan mahram dan Hanna tidak mau menimbulkan fitnah nantinya.


"Ya udah, di taman belakang aja," kata Adam.


"Baik tuan," Hanna berbalik, dan ingin menutup pintu. Namun tidak di sangka kaki Hanna yang sempat tersandung saat di rumah sakit barusan terasa sakit, "Auuuu...." rintih Hanna dan hampir saja ia terjatuh, namun lagi-lagi Adam menahannya. Hingga Hanna tidak terjatuh.


Devan yang ingin masuk ke kamar Hanna menyaksikan saat Hanna berada dalam pelukan Adam, amarah Devan semakin menggebu-gebu. Apa lagi Hanna dan Adam berada di kamar, walaupun hanya di bagian pintu nya saja. Tapi pikiran Devan sudah penuh dengan amarah. Ia berhenti melangkah dan melihat sejenak.


"Kamu enggak papa?* tanya Adam.


"Dokter, sepertinya mengobrol nya lain waktu saja....kaki ku sakit, dan aku pun sedikit lelah," kata Hanna yang menjauh dari Adam.


Adam mengerti dan ia mengangguk, padahal ia butuh banyak berbicara dengan Hanna, "Tidak apa, lain waktu masih bisa...." kata Adam, "Aku pamit ya," kata Adam dan ia keluar dari kamar Hanna, sampai di luar Adam berpapasan dengan Kakaknya Devan. Tapi ia terlihat tidak perduli sama sekali, Adam seakan tidak menghiraukan Devan.


Setelah Adam keluar Hanna menutup pintu kembali, ia berjalan dengan kaki yang sedikit terasa ngilu dan perlahan duduk di ranjang. Namun tiba-tiba pintu kembali terbuka, Hanna langsung melihat siapa yang masuk. Dan itu Devan dengan wajah marahnya.


"Apa yang kau lakukan dengan Adam di kamar?!" tanya Devan tanpa basa-basi sekalipun.


"Hanna!" Devan mendekati Hanna dan meninggikan nada bicaranya.


"Memangnya apa yang kami lakukan tuan?" tanya Hanna mendongkak sementara ia hanya duduk di sisi ranjang. Karena kakinya cukup sakit.


Plak!


Tangan Devan langsung melayang di wajah Hanna, hingga tubuhnya terbawa ke samping.


"Sssstttt...." Hanna mendesis karena merasa sakit, bahkan ada sedikit memar di sana. Hanna tidak bangun ia hannya terdiam di atas ranjang sambil memegang pipinya. Rasanya sangat sakit sekali.


"Sejak kapan kau menjadi murahan!" tanya Devan masih dengan amarah. Namun Devan sadar Hanna tidak juga bangun, hingga Devan berjongkok dan melepaskan tangan Hanna yang memegang wajahnya. Tangan Hanna terjatuh begitu saja, "Hanna," Devan mulai panik karena Hanna sudah tidak sadarkan diri, "Hanna bangun," kata Devan lagi, "Hanna," Devan terus menggerakkan wajah Hanna, namun tidak juga sadarkan diri. Perlahan Devan mengangkat tubuh Hanna dan membaringkan nya dengan benar. Kemudian Devan mencari minyak angin, hingga akhirnya Devan menemukan nya di laci meja. Dengan cepat Devan mengoleskan minyak angin tersebut pada tubuh Hanna, dan juga mengusapkan pada tangganya dan Devan mendekat kan tangannya pada hidung Hanna. Perlahan Hanna mulai membuka matanya. Ia melihat Devan di sana, Hanna hanya diam saja tanpa bicara. Rasanya tangan Devan masih sangat terasa di pipinya.

__ADS_1


"Hanna, kau baik-baik saja?" tanya Devan panik.


Hanna tidak menjawab ia hanya menarik nafas dan memasang wajah datar nya, karena ia memang tidak baik-baik saja. Namun apakah Devan perlu tahu? Rasanya tidak. Kalaupun Devan tahu rasanya hanya percuma pikir Hanna.


"Hanna...." tiba-tiba pintu kembali terbuka dan itu Risa datang bersama Derren yang tengah menangis kencang, mungkin Derren dapat merasakan sakit yang di rasakan Hanna sehingga ia terus menangis.


Oeeee oeeee Oeeee.


Suara tangisan Derren.


"Han," Risa baru sadar jika ada Devan di sana, bahkan Devan duduk di sisi ranjang, "Maaf tuan, tapi tuan Derren tiba-tiba nangis.... mungkin dia harus," kata Risa dengan hati-hati, karena wajah Devan terlihat mengerikan bagi Risa.


"Risa," Hanna perlahan mendudukan tubuhnya, dan bersandar, sambil ia menggerakkan tangannya pada Risa.


Risa langsung dengan cepat memberikan Derren pada Hanna, dan sedetik kemudian Derren berhenti menangis setelah Hanna memberi asi.


Hanna tidak sanggup membendung air matanya, hingga menetes dan jatuh tepat pada pipi Derren. Namun dengan cepat tangan Hanna menghapus nya, kalau bukan karena Derren Hanna tidak akan bertahan dalam rumah itu.


"Han, kamu belum makan kan? Tadi pas tuan Adam datang dan aku keluar, aku nungguin kamu di dapur buat makan bareng, tapi kamu enggak muncul-muncul...... akhirnya aku makan aja udah lapar banget," kata Risa.


"Iya, tadi dokter Adam mau ngajak bicara.....tapi pas aku mau keluar kamar tiba-tiba laki aku sakit, mungkin pas tadi di rumah sakit....terus kesandung lagi dan beruntung ada dokter Adam yang nolongin," jelas Hanna.


Deg.


Jantung Devan berpacu semakin kencang setelah mendengar penjelasan Hanna, rasanya ia sangat menyesal sudah melayangkan tangannya.


"Kamu belum makan dari pagi lho....aku ambilkan aja ya, kamu makan di sini aja," tawar Risa.


"Makasih ya Sa," kata Hanna.


"Iya, soalnya kali kamu memar begitu ya," kata Risa melihat pergelangan kaki Hanna.

__ADS_1


"Aku enggak papa kok," jawab Hanna.


"Abis aku ambilkan makan, nanti aku panggilkan tukang urut....itu kayaknya sakit banget deh....Sampek memar banget," kata Risa yang menatap kasihan pada kaki Hanna, "Han, pipi kamu memar juga, kenapa?" tanya Risa lagi.


__ADS_2