
"Risa," Doni langsung mengejutkan Risa yang berada di loby.
Risa mengusap dadanya dan melihat Doni, "Doni," Risa menguap dada karena terkejut, "Datang tiba-tiba!"
"Maaf," Doni merasa tidak enak hati, karena sudah membuat Risa terkejut, "Kamu jadikan aku ajarin naik motor?"
"Besok aja, aku hari ini capek banget, besok gimana?" usul Risa.
"Baiklah, aku antar pulang?" tanya Doni dan ia juga sangat ingin semakin dekat dengan Risa.
"Iya," Risa mengangguk.
Hilman yang baru saja keluar dari dalam lift melihat Risa yang pergi bersama dengan Dino, dengan langkah yang lebar dan cepat Hilman berusaha untuk mengejar Risa. Dan tiba-tiba saja ia menarik lengan Risa.
"Aduh...." Risa terkejut, bahkan ia sampai terhuyung. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam mobil milik Hilman, "Kasar banget sih," ringis Risa sambil mengusap tangannya.
Hilman tidak perduli, ia menutup pintu mobil dan menatap Doni dengan tajam. Tanpa kata ia kemudian ikut masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi, tanpa bicara Hilman menyalakan mesin mobilnya dan melajukan nya dengan cepat sedang.
"Sakit?" tanya Hilman, ia juga menyesalkan karena menarik Risa dengan kencang. Entah mengapa tiba-tiba saja darahnya mendidih saat melihat Doni dan Risa saling tertawa, bahkan berjalan dengan saling berdekatan.
"Sakitlah!" ketus Risa.
Hilman menepikan mobilnya, kemudian ia melihat tangan Risa, "Apa perlu ke rumah sakit?"
"Aneh," Risa langsung melepaskan tangan nya, "Udah jalan lagi, aku mau istirahat. Capek banget hari ini, badan aku juga pegel semua."
Hilman mengangguk dan kembali melajukan mobilnya yang sempat berhenti.
Risa cepat-cepat turun dari mobil, ia sudah lelah dan ingin segera beristirahat.
"Risa, ayo makan. Ibu sudah masak," kata Ibu Sintia.
"Bu, Risa langsung ke kamar aja ya," pinta Risa dengan wajah lelahnya, "Risa capek banget Bu, beneran," kata Risa lagi agar Ibu Sintia tidak tersinggung.
__ADS_1
"O....ya sudah, tidak apa. Wajah kamu juga kayaknya lelah begini," Ibu Sintia tersenyum, apa lagi saat melihat Risa kini pulang dengan Hilman, "Kamu juga mau langsung istirahat Nak?" Ibu Sintia kini beralih menatap Hilman yang baru saja masuk.
"Iya Bu, tadi kami sudah makan di kantor," jawab Hilman.
"Ibu senang kalau kalian akur begini, ya sudah. Kalau mau istirahat."
Hilman mengangguk dan ia menaiki anak tangga, sampai di dalam kamar Hilman melihat Risa yang sudah tidur di atas ranjang. Kemudian Hilman juga menyusul masuk, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
"Mas, pijitin dong," pinta Risa sambil memberikan tangannya, "Pegel banget, tadi Risa melayang lho....dan berakhir di atas kotoran bebek," Risa hanya menggeleng mengingat bertapa joroknya kotoran bebek siang tadi.
"Bukankah aku yang menang taruhan siang tadi?" tanya Hilman bingung.
"Ini tidak ada hubungannya," Risa bangun dari atas ranjang, dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Kemudian ia kembali naik ke atas ranjang, "Aku lelah, dan letih sekali. Aku sudah memanggil mu Mas juga," Risa kini duduk di atas ranjang dengan memunggungi Hilman, karena ia ingin di pijat bagian punggung nya.
"Tapi kenapa harus pakai pakaian seperti ini?" Hilman melihat gaun tidur Risa yang sangat mini, bahkan dengan dada yang setengah berada di luar. Paha mulus Risa terpampang dengan jelas.
"Biasanya juga aku tidur begini!" jawab Risa, "Kenapa sih masih di masalah hin. Aku ini tidak biasa tidur dengan baju lengan panjang, celana panjang pula," jelas Risa.
"Kan tidak harus begini juga!"
"Di sini saja, di kamar tamu lampunya sedang rusak. Kecuali kau mau tidur dalam kegelapan," Hilman berusaha menakut-nakuti Risa, karena ia sebenarnya ingin tidur dengan Risa.
Risa mendadak bergidik ngeri, ia mengurungkan niatnya untuk tidur di kamar tamu, "Ya udah deh," Risa kembali duduk dengan baik di atas ranjang, "Pijitin!" pinta Risa lagi.
Hilman lebih memilih memijat Risa, karena ia sedang tidak ingin bertengkar. Lagi pula Hilman ingin Risa tidur dengannya, "Berbohong sedikit tidak apa, untung Sofanya aku minta di pindahkan," batin Hilman.
"Risa?" Hilman terus memijat Risa, dan kini ia sedang ingin berbicara serius.
"Apa?" tanya Risa dengan suara lelahnya, dan masih dengan memunggungi Hilman.
"Kenapa kau mau menjadi pengantin pengganti?" tanya Hilman, "Maksud ku, tidakkah kau memiliki kekasih?" tanya Hilman dengan jelas.
"Aku hanya ingin Hanna dan Kak Dev bersama, kasihan anak-anak mereka. Lagi pula masa lalu Hanna dan Kak Dev itu sakit, saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki," jelas Risa.
__ADS_1
Hilman sejenak terdiam, ia semakin penasaran dengan cerita Risa, "Maksud nya?"
"Kalau pun Kak Hanna menikah dengan mu aku yakin kau tidak akan memiliki cintanya, dia hanya mencintai Kak Dev. Dan aku yakin kau juga tidak mau sebagai pelampiasan, sedangkan aku mau menikah dengan mu karena Ibu. Karena aku kasihan waktu Ibu menangis, dan menceritakan rasa malunya," kata Risa.
Hilman mengangguk, mungkin keduanya baru bisa berbicara dengan baik adalah saat ini.
"Lalu apa kau serius dengan pernikahan ini?"
Risa berbalik, dan menatap Hilman. Pertanyaan Hilman sedikit membuatnya terkejut, "Tergantung," jawab Risa sambil menaikan pundaknya.
"Maksud mu?"
"Kalau kau tidak mau serius, aku siap menjadi janda dan ada Doni kan cadangan aku," celetuk Risa.
"Dasar kau ini ya," Hilman menarik kedua pipi Risa dengan gemas, karena Risa punya banyak cara untuk tetap membuat diri tetap bahagia.
"Auu...sakit tau!"
"Biarkan saja," kata Hilman, "Baiklah, karena kita sudah menikah di coba sedikit boleh lah ya?" tanya Hilman.
"Coba-coba, emang makanan!" kesal Risa.
"Ayolah, lagi pula kita sama-sama sudah dewasa. Dan aku yakin ini bukan yang pertama juga untuk mu bukan?" tanya Hilman.
Risa seketika menatap Hilman, Risa mengangguk. Percuma banyak bicara dengan Hilman dan Risa tidak menyesal bila memberikan dirinya pada Hilman, lagi pula Hilman adalah suaminya. Jika pun dari awal Hilman meminta ia akan memberikan dengan rela, walaupun keduanya tidak saling mengenal. Apa lagi kata-kata Hilman sudah sering kali mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi murni, rasanya Risa tidak ingin terus di anggap rendah.
"Apa nya yang di coba?" seloroh Risa, padahal hatinya tengah merasa sedikit sakit karena tuduhan Hilman.
"Ayolah, kita sudah menikah."
"Katanya tidak Sudi," ejek Risa.
"CK!" Hilman langsung mendorong Risa ke atas ranjang, dan dengan cepat menindih tubuh Risa yang selama ini membuatnya penasaran.
__ADS_1
*
Ada like dan Vote lanjut, kalau enggak Othor bobok cantik aja dulu.