
Dreett....
Ponsel Hanna terus saja bergetar, dan itu adalah Hilman yang dari tadi malam terus menghubungi Hanna. Dengan malas Hanna mengambil ponselnya, dan menerima panggilan tersebut.
"Halo," jawab Hanna dengan suara khas bangun tidur.
"Assalamualaikum," kata Hilman dari seberang sana.
"Waalaikumusalam," jawab Hanna, bahkan matanya masih tertutup.
Hilman sadar saat ini memang masih begitu subuh, akan tetapi tidak biasanya Hanna belum bangun, "Kamu belum bangun, ini sudah lewat azan subuh lho," kata Hilman.
Hanna langsung membuka matanya dengan lebar, dan melihat jam yang terpasang di dinding, "Subhanallah," Hanna langsung duduk, ia melihat Devan tidak ada di sampingnya.
"Hanna," panggil Hilman, karena Hanna seperti nya melupakan dirinya.
Seketika Hanna kembali tersadar, ia masih berada dalam panggilan Hilman, "Mas maaf, tapi pagi ini aku udah kelewat subuh. Aku mau ketemu sama kamu, aku juga mau ketemu Ibu. Nanti aku ke rumah," kata Hanna dengan perasaan yang cemas.
"Kamu mau ketemu ibu?" Hilman sedikit bingung, "Iya baiklah, sekalian nanti ada desainer yang mau ke rumah buat fitting baju pengantin kita," kata Hilman menyampaikan niatnya menelpon Hanna.
"Fitting?" Hanna tidak tahu harus apa, kata-kata Hilman sungguh menjadi tamparan keras untuk dirinya.
"Iya, undangan juga udah di sebar, dan pernikahan kita hanya tinggal dua hari lagi," kata Hilman lagi dengan bahagia di seberang sana.
"Aku solat dulu ya Mas," Hanna langsung mengakhiri pembicaraan mereka, bahkan langsung memutuskan panggilan sepihak. Ia mengusap wajahnya, karena tidak tega jika harus menghancurkan rasa bahagia yang di rasakan Hilman.
Devan yang baru saja pulang dari mushola melihat Hanna yang seperti kebingungan, bahkan tidak menyadari dirinya yang sudah berada di hadapan Hanna.
"Sayang," Devan mencoba menyadarkan Hanna.
__ADS_1
"Mas," Hanna mulai melihat Devan dengan baju Koko dan peci di kepalanya, "Kamu dari mana Mas?" tanya Hanna.
"Dari mushola, kamu bangun solat subuh dulu sudah hampir terlewat," kata Devan.
"Iya," Hanna mengangguk, dan ia langsung menuju kamar mandi.
Waktu berlalu dengan begitu cepat jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Hanna dan Devan duduk di kursi meja makan. Tapi Hanna hanya mengaduk-aduk nasi goreng miliknya.
"Kamu mikirin anak-anak?" tebak Devan, "Tapi semalam Mas sudah bilang ke Mama kalau kita tidak pulang, dan semalam kamu langsung tidur," jelas Devan.
"Alah, jam 04:02 itu subuh Mas bukan malam!" kesal Hanna, ia meneguk air putih, "Pegel banget tau Mas," tambah Hanna lagi.
"Hehehe...." Devan mengusap kepala Hanna, karena ia memang tidak membiarkan istrinya untuk tidur dengan nyenyak semalam.
"Mas," Hanna mulai menatap wajah Devan dengan serius.
"Tadi Mas Hilman nelpon, hari ini ada fitting baju. Kamu jangan iya...iya doang dong Mas, ngomong sama Mas Hilman. Nanti kalau sampai dia tahu di hari pernikahankan enggak enak lagi, sama tamu. Sama keluarga besar!" kata Hanna, "Ini juga karena ulah kamu kan Mas!"
"Iya, kita temui dia sekarang," Devan menarik lengan Hanna untuk ikut berdiri.
Perasaan hati Hanna tidak pernah tenang, ia terus duduk di samping Devan sambil meremas tangannya secara bergantian. Apa yang akan nantinya Hilman katakan saat tahu ia sudah menikah lagi dengan Devan.
"Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja," kata Devan yang berusaha meyakinkan Hanna.
Hanna tidak tahu harus apa, tapi hatinya tidak bisa tenang.
"Mama tadi nelpon, mereka bilang juga akan datang ke rumah Hilman."
Dengan perasaan yang was-was Devan turun dari mobil, dengan Hanna yang juga ikut turun. Tidak berselang lama Opa Agatha dan Oma Sarah juga sampai, dan keduanya juga turun dari mobil. Tidak sampai di sana, kedua orang tua kandung Devan juga ikut turun. Mereka semua tidak ingin keluarga Hilman merasa di remehkan, hingga mereka memutuskan untuk bersama-sama meminta maaf.
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan....Nyoya besar dan tuan Hilman ada di dalam."
Rumah Hilman yang besar tidak kalah megah, dengan nuansa elegan sungguh membuat mata terasa nyaman.
"Silahkan jeng, tuan silahkan," Sintia mempersilahkan keluarga calon besannya untuk duduk, dan tidak lama berselang Art langsung menghidangkan makanan serta minuman, "Senang sekali jeng Sarah mengunjungi saya ke rumah saya ini ya," ujar Sintia dengan bahagia.
Sarah tersenyum, ia menatap Agatha dan tersenyum kecut. Mungkin setelah Sintia tahu tentang maksud mereka Sintia tidak akan bisa tersenyum selepas itu lagi.
"Nyonya Sintia, sebelumnya saya memohon maaf," kata Agatha yang mulai berbicara, agar Sintia tidak terus berlarut dalam bahagia yang sebentar lagi akan membuat nya bersedih. Dan Agatha pun sebenarnya tidak tega mengatakan ini, tapi harus bagaimana ini juga menyangkut kebahagiaan kedua cucunya, "Hilman, saya ingin meminta maaf pada mu," Agatha menatap Hilman dengan wajah yang menunduk.
Hilman dan Ibunya Sintia bingung dengan kata-kata Agatha, dan keduanya masih menunggu dengan baik.
"Hanna dan Devan adalah mantan suami istri, dan memiliki dua orang anak. Derren dan Davina adalah anak Devan," jelas Agatha.
Hilman terkejut dengan kenyataan yang ia dengar, selama ini Hanna memang tidak pernah mengatakan pada siapapun siapa Ayah dari kedua anaknya.
Karena Hilman ataupun Sintia masih diam akhirnya Agatha kembali berbicara, "Tidak ada niat ingin mempermalukan, atau mempermainkan kalian. Tapi Hanna dan Devan sudah saya nikahkan kembali, awalnya saya ragu tapi mengingat itu adalah keinginan kedua anaknya mereka yang tidak pernah merasakan indahnya memiliki keluarga yang sempurna dan lengkap saya akhirnya menikahkan mereka kembali," jelas Agatha penuh rasa iba.
Hilman langsung menatap Hanna yang diam menunduk, rasanya sangat sakit sekali dengan apa yang kini di dengar, "Kenapa harus sesakit ini Hanna!!" tanya Hilman.
"Maaf Mas," lirih Hanna dengan air mata yang terus mengalir.
"Dia tidak salah Hilman, salahkan saya. Karena saya yang memaksanya untuk menikah di tengah malam itu," kata Devan yang ikut berbicara juga.
"Ini tidak benar," Sintia seketika memegang dadanya, ia memang memiliki sakit darah tinggi.
"Ibu," dengan cepat Hilman memberikan obat pada sang Ibu, agar Sintia bisa sedikit membaik.
Sintia tetap berusaha tenang, ia tidak ingin masalah semakin memburuk, "Ibu baik-baik saja," Sintia mendudukkan dirinya kembali, dan menatap wajah-wajah keluarga Hanna yang ada di hadapannya, "Besok lusa pernikahan Hilman dan Hanna seharusnya di langsungkan, tapi kalian baru berbicara sekarang. Keluarga besar kami sudah tahu, undangan, gedung, gaun, penghulu sudah di atur semuanya sebaik mungkin walaupun mendadak tetap ingin yang terbaik. Dan kau tega saat ini membawa suami mu ke rumah ini," mata Sintia yang berkaca-kaca menatap Hanna dengan kerapuhan, "Aku memberikan mu pilihan Hanna, bercerai dari dia, dan menikah dengan anak ku seperti kata-kata mu di awal. Atau mencari pengganti pengantin wanita dan kau yang harus bertanggung jawab, sebab pernikahan ini akan terus berlanjut. Kalau tidak ini akan sampai ke wartawan dan juga aku siap bertemu dengan mu di meja hijau!" tegas Sintia.
__ADS_1