
Kaki Hanna berhenti melangkah, perlahan tangannya terulur bergerak memutar gagang pintu. Namun tiba-tiba ada yang menarik lengannya, bahkan menariknya cukup jauh dari ruang rawat Derren. Sampai akhirnya ia di tarik masuk ke sebuah ruangan kosong, Hanna cukup tersentak dan bingung mengapa Devan menariknya kesana. Dan dala sekejap tubuhnya terbentur dinding, dengan tubuh tegap Devan yang berdiri di hadapannya.
Hanna mencoba mendorong Devan dari hadapannya, tapi Devan tanpaknya tidak ingin berpindah dari tempat nya. Hingga Hanna benar-benar tidak tahu apa yang di inginkan oleh Devan.
"Tolong Tuan, saya mau ke kamar Derren," kata Hanna, kemudian ia bergerak ke lain arah.
Namun Devan tidak mengijinkan nya pergi dari sana, yang ada Devan meletakan tangannya pada dinding di samping kedua lengan Hanna.
Tatapan Devan masih begitu tajam, ada amarah yang tertahan di sana, "Apa itu sifat aslimu? Menggoda laki-laki lain di luar sana?" tanya Devan dengan senyum miring.
Hanna yang tertunduk mulai mendongkak, dan apa kata Devan barusan? Ia menggoda laki-laki? Sulit di percaya tapi itulah yang memang ia dengan.
"Kenapa diam? Jawab aku!"
"Apa yang harus saya jawab Tuan, itu masalah pribadi saya....." jawab Hanna.
Devan tersenyum miring, "Dengan aku kau seolah berbicara pada orang asing! Tapi dengan laki-laki di luar sana kau tertawa, tersenyum dan bersenda gurau dengan baik!" ujar Devan lagi, "Apa kau serendah itu?" Devan melihat Hanna dengan memandang dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, seakan Hanna begitu murahan.
"Tuan saya ingin melihat Derren," Hanna tidak ingin menangis dihadapan Devan, ia tidak ingin terlihat lemah. Hingga ia lebih memilih pergi, tapi Devan tidak mau melepaskannya, ataupun mengijinkan untuk pergi. Entah apa yang sebenarnya di dalam hati Devan, Hanna bahkan sudah tidak mengenali siapa suaminya.
Tangan Devan mengangkat dagu Hanna, ia ingin Hanna melihat nya, "Mulai detik ini kau tidak boleh berbicara dengan laki-laki di luar sana, termasuk Adam!" tegas Devan.
"Permisi Tuan, tolong saya mohon," pinta Hanna.
"Hanna!!!" bentak Devan.
Suara Devan yang berat dan tertahan seakan menyiratkan kemarahan karena Hanna masih belum memperdulikan dirinya, apa lagi dengan apa yang ia katakan.
__ADS_1
Hanna tersentak, ia cukup terkejut mendengar suara Devan yang meninggi. Ia mulai menatap manik mata elang Devan, perlahan air matanya menetes begitu saja tanpa bisa di bendung lagi, "Aku tahu aku masih istri mu Mas, aku tahu itu.....tapi bukankan ini perjanjian nya bila aku ingin bertemu dengan anak ku?" lirih Hanna dengan penuh kepiluan, "Aku hanya menjalankan apa yang kalian pinta, aku pun melakukannya demi anak ku," ujar Hanna dengan suara putus asa.
Devan tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Hanna hingga ia sejenak terdiam.
"Aku permisi," pamit Hanna.
Devan memegang lengang Hanna, hingga Hanna tidak bisa lagi untuk melangkah. Sejenak Devan terdiam begitupun dengan Hanna.
Hanna sangat menantikan apa yang akan dikatakan oleh Devan, karena sebenarnya ia ingin semua terselesaikan segera. Rasanya sangat sakit menjadi istri tapi tidak di anggap, seorang Ibu tapi hanya di jadikan seolah ia hannya pengasuh saja.
"Tolong Hanna jangan pernah mendekati laki-laki lain, aku mohon," pinta Devan tanpa menatap wajah Hanna.
Keduanya masih saling memunggungi, namun lengan Hanna masih di pegang erat oleh Devan.
"Kamu tahu Mas?" tanya Hanna, "Aku tidak pernah ingin mendekati laki-laki di luar sana, apa lagi setelah kebohongan cinta yang di lakukan orang yang sangat aku cintai! Rasanya aku sudah tidak ingin menikah lagi," jawab Hanna tersenyum getir, tangan berusaha melepaskan genggaman Devan.
"Hanna," Devan berbalik dan dengan cepat memeluk tubuh Hanna dari belakang, Devan sangat merindukan aroma tubuh Hanna yang dulu menjadi pengantar tidurnya. Saat-saat dulu ia sedang butuh ketenangan dan Hanna dengan mudahnya menjadi obat baginya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja....aku sangat merindukannya," ujar Devan sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk Hanna, bahkan menghirupnya dengan penuh damba.
Hanna diam sejenak, entah apa yang ada di pikiran Hanna. Benarkah cinta untuk Devan sudah hilang seperti yang selalu terucap dari bibirnya, tapi jika ia mengapa ia begitu merasa tenang saat Devan memeluknya seperti ini. Jika cinta itu sudah hilang dan berubah menjadi benci lantas mengapa tubuhnya menerima dengan baik saat Devan terus mendekapnya erat. Mungkin cinta bercampur benci, sakit bercampur luka yang sangat sulit untuk di sembuhkan entah sampai kapan.
"Cukup Tuan, saya rasa sudah waktunya saya harus memberi asi untuk Derren," Hanna berusaha melepaskan diri dari pelukan Devan. Namun hal yang tidak terduga justru terjadi. Devan membalikkan tubuhnya Hanna menghadap padanya.
"Hanna sebentar lagi saja," dengan gerakan cepat Devan mendorong Hanna hingga Hanna bersandar di daun pintu yang masih tertutup rapat, dengan cepat Devan merapatkan tubuhnya.
"Tuan! Menjauh!" Hanna panik, dan ia tidak ingin Devan sedekat itu dengan nya.
__ADS_1
"Hanna aku ini suami mu," kata Devan.
"Kalau begitu ceraikan aku!" pinta Hanna.
"Hanna!" mata Devan berubah memerah saat Hanna mengatakan kata cerai, "Kalau kau mau itu, jangan pernah bermimpi untuk bisa menemui Derren lagi!"
Hanna menutup mata dan kemudian air matanya jatuh berlinang dengan begitu saja, "Untuk apa aku tetap bertahan Mas, apa hannya untuk di sakiti?"
Devan diam ia memeluk Hanna dengan erat, dan perlahan tangannya mengangkat kerudung Hanna hingga ia mengecup tengkuk istrinya dengan penuh damba.
"Lepas Mas!" pinta Hanna dengan bibir bergetar, rasanya Devan benar-benar kejam dan hanya menjadikannya sebuah pelampiasan saja dan entah sampai kapan. Sangat sulit lepas dari jerat suami yang tidak menghargai istrinya sendiri.
"Hanna bisa kah aku minta satu hal?"
"Katakan!" Hanna membuang pandangannya kearah lain, hingga ia tidak melihat manik mata Devan yang menatap nya, "Cepat katakan, setelah itu lepaskan aku!"
"Jangan pernah pergi dari ku."
"Untuk kau sakiti?"
"Tidak, aku mohon Hanna..... bersikaplah di depan Diana seakan kau hanya seorang pengasuh Derren dan aku hanya majikan mu seperti keinginan nya, aku pun begitu bila di hadapan Diana yang selalu acuh pada mu," pinta Devan.
Hanna sungguh terkejut dengan apa yang di katakan oleh Devan, tapi ia juga tersenyum miring. Pikirannya Devan ingin menjadikan nya sebuah pelampiasan saja, "Sulit di percaya, setelah luka ini masih ingin memberi penawaran! Berikan aku waktu untuk berpikir," kata Hanna, "Sambil pikirkan juga ya, untuk menceraikan aku?" kata Hanna lagi.
"Kalau kau sudah siap berpisah dari Derren!" kata Devan yang tidak mau kalah, "Jangan pernah berpikir kabur dan membawa Derren, karena itu tidak akan pernah bisa!" tegas Devan.
"Lepas!" Hanna berusaha menjauhkan Devan darinya, namun yang terjadi justru Devan malah melahap habis bibir nya, "Lepas!"
__ADS_1
Devan tidak perduli ia dengan brutalnya meremas gundukkan milik Hanna, dan mengigit kecil nya di sana hingga meninggalkan jejak kepemilikan.
"Sssssttt....." Hanna hanya bisa menahan *******, saat Devan memasuki dirinya. Sulit di percaya tapi itulah yang terjadi Devan begitu brutal dalam hal itu dan Hanna sudah sangat hapal. Hanya saja Hanna dapat melihat Devan seperti tidak pernah melakukan hal itu hingga ia begitu mendambakan nya, "Aku ini tidak penting kan Mas! Tapi kenapa kau malah melukai aku dengan sesuka mu!"