
"Sssstttt......Mas," rintih Hanna saat tangan kekar Devan mulai menguasai tubuhnya, malam semakin larut namun keduanya masih hanyut dalam alunan yang sangat menggairahkan. Tidak ada penolakan, yang ada hanya sebuah kenikmatan yang tidak bisa di tolak. Tidak ada rasa ragu yang terjadi di sana, kedua nya begitu senang dan menerima sentuhan yang saling membalas satu sama lainnya, "Em....." Hanna hanya mengerang nikmat saat kedua gundukan di mainkan oleh Devan, rasanya cukup menggairahkan. Bahkan dengan tidak sabar Devan memainkan dengan mulut nya.
Terasa kasar namun cukup membuat rasa nikmat yang melebihi segalanya. Hingga akhirnya Devan memasuki Hanna dengan penuh damba.
"Mas..... Sssssttt......" rintih Hanna tak kala Devan mulai bergerak dengan liarnya, rasanya begitu nikmat yang tiada tara.
Jegerrrr!!!!!
Suara petir bersama dengan kilatnya tiba-tiba terdengar, hujan yang sangat deras seketika turun.
Hanna yang tertidur lelap tiba-tiba terbangun karena terkejut, ia langsung duduk dan melihat sekitarnya. Sampai akhirnya matanya melihat Davina yang tertidur lelap di samping nya, kemudian Hanna mengusap wajahnya ia meneguk air yang terisi penuh pada gelas yang di letakkan di atas meja nakas.
"Ya ampun," Hanna mengusap wajahnya berulang kali, sebab ia masih di kuasai rasa terkejut. Seketika Hanna kembali mengingat mimpi nya barusan, ia tidak mengerti ada apa dengan dirinya. Tapi yang menjadi pertanyaan nya adalah mengapa harus mimpi itu, mimpi yang membuatnya seperti orang tidak waras. Seketika Hanna mencoba kembali untuk tidur, tapi sulit sekali karena bayangan mimpi panas barusan sungguh membuatnya menjadi tidak nyaman.
Ting!
Ponsel Hanna bergetar, dan ternyata itu adalah Devan.
"Masih dengan nomor ponsel yang sama," gumam Hanna, sebab itu adalah nomor ponsel Devan saat keduanya berencana untuk menikah dulu. Keduanya memang sudah lama tidak melakukan panggilan telepon, atau pun saling berkirim pesan. Namun nomor ponsel masing-masing dari mereka masih tersimpan dengan baik, karena penasaran Hanna seketika membuka pesan dari Devan.
[Aku tidak mengharap lebih, tapi aku hanya ingin berteman lagi dengan mu. Anggap saja kita hanya teman yang baru saling kenal,] Mas Devan.
Hanna tersenyum saat membaca pesan dari Devan, tangan Hanna mulai bergerak dan mengetik huruf pada tombol keyboard. Tapi setelah selesai mengetik pesan Hanna kembali menghapusnya, ia tidak percaya diri dan merasa malu.
Sementara di sebelah sana Devan tengah menatap langit yang tengah turun hujan, sulit di mengerti. Namun bayangan saat bibir Hanna menyentuh bibirnya sungguh membuat Devan menjadi tidak dapat memejamkan mata, Devan masih menatap ponsel menantikan balasan pesan dari Hanna. Karena Hanna tidak juga membalas, akhirnya Devan kembali menuliskan pesan dan mengirimnya.
Ting!
Ponsel Hanna kembali berdering, ia melihat ada nama Devan di sana. Dengan segera Hanna membuka pesan tersebut.
[Sulit sekali melupakan mu, jika kau tidak bisa berteman dengan ku. Maka anggap saja aku ini atasan mu, asalkan kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik,] Mas Devan.
Hanna mulai mengetik balasan pesan untuk Devan.
__ADS_1
[Iya Pak Devan,] Hanna.
Ting.
Devan tersenyum saat mendapatkan balasan pesan dari Hanna, ia tersenyum dengan rasa hati yang bahagia. Artinya dengan begitu masih ada harapan untuk bisa berdekatan dengan Hanna.
[Kau sedang apa?] Mas Devan.
Ting!
Hanna kembali mengetik pesan untuk membalas pesan dari Devan.
[Apa ada rekan bisnis menanyakan hal pribadi,] tanya Hanna tanpa memberikan jawaban pertanyaan Devan.
Devan tersenyum kembali saat membaca pesan balasan dari Hanna.
[Apa menanyakan kau sedang apa itu pribadi?] Mas Devan.
[I love you!] Mas Devan.
Glek Hanna tidak lagi membalas pesan yang dikirim kan oleh Devan, bahkan ia sangat terkejut dengan pesan tersebut. Berulang kali Hanna membaca pesan tersebut, bahkan sampai mengusap matanya tapi tetap saja sama, "Ini benar, dan aku tidak salah," Hanna menarik rambut nya kebelakang, dan berusaha tetap tenang, "Ada apa dengan ku? Aku seperti anak ABG saja," gumam Hanna.
Semalaman Hanna tidak bisa tidur, karena mimpi panas yang di alami bersama Devan. Di tambah lagi dengan pesan bertulis kata, 'I love you,' yang di kirimkan oleh Devan sungguh membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Hingga hari ini Hanna bangun kesiangan.
"Davina!!!" Hanna langsung duduk, saat melihat Davina sudah tidak ada di sampingnya. Kemudian ia melihat jam yang terpasang di dinding. Mata Hanna semakin melebar, karena ternyata ini sudah pukul 10:00 bagaimana bisa ia bangun begitu siang. Dengan cepat Hanna mengambil ponselnya, dan ingin melihat apakah ada telpon penting dari perusahaan. Namun ternyata Hanna melihat ada sebuah pesan dari Devan lagi.
[Anak-anak hari ini bersama Mas, kau tidur cantik saja. Mas juga ingin di sibukkan dengan anak-anak Mas,] Mas Devan.
"Huuuufff....." Hanna kembali meletakan ponselnya pada ranjang, kemudian kakinya juga mulai turun dan memakai sendal bulu kesayangannya.
Dengan langkah kaki yang cepat Hanna mendekati sofa dan menyambar jilbab kurung miliknya, setelah terpakai rapi Hanna langsung keluar dari kamar dan ia menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
"Ma, Davina sama Derren di mana?" tanya Hanna.
__ADS_1
Sarah yang tengah duduk di meja makan menatap aneh pada Hanna, "Kamu duduk dulu Hanna, jangan asal main tanya aja."
Hanna tidak ingin banyak berbasa-basi ia pun segera menarik kursi meja makan, kemudian duduk dan menatap Sarah.
"Tadi pagi-pagi sekali Devan jemput mereka, dan Mama ijinkan. Soalnya Derren sama Davina bahagia banget, jadi Mama enggak tega buat ngelarang mereka pergi sama Papanya," jelas Sarah.
"Em," Hanna mengangguk.
"Assalamualaikum," sapa Hilman yang mulai masuk.
"Waalaikumusalam," jawab Sarah.
"Selamat pagi Tante," sapa Hilman.
"Selamat pagi juga," Sarah tersenyum ramah, "Ayo sarapan," kata Sarah.
"Kebetulan Hilman udah sarapan Tante, mungkin lain kali saja," tolak Hillman. Kemudian ia menatap Hanna, "Hanna bukankah kita sebentar lagi ada rapat?" tanya Hilman.
"Iya tapi kan enggak rapat di rumah juga, jadi ngapain harus datang ke rumah," ketus Hanna.
Sebenarnya Hanna tidak berniat mengatakan itu, tapi otaknya benar-benar di hantui wajah Devan.
"Assalamualaikum Oma!!!" seru Davina dan Derren dengan bersama.
"Cucu Oma, katanya mau main sama Papa seharian?" tanya Sarah yang melihat Davina dan Derren sudah pulang.
Hilman bingung mengapa kedua anak Hanna memanggil Devan dengan sebutan Papa, tapi ia juga mengingat jika keduanya juga memanggil Adam dengan panggilan Ayah. Jadi Hilman cepat-cepat menepis rasa bingung nya.
Kemudian Hanna melihat Devan yang menyusul masuk setelah Davina, seketika Hanna berkeringat dingin. Karena mimpi panasnya semalam sungguh membuatnya malu sekali.
"Hanna kamu mau ke mana?" tanya Oma Sarah yabg bingung melihat Hanna pergi begitu saja.
"Mandi Ma!!" jawab Hanna dari kejauhan, dan ia menutup pintu kamar mandi. Hanna ingin sekali melupakan mimpi gilanya, tapi sulit sekali.
__ADS_1