Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Duda Bolong


__ADS_3

Ting tong...


Suara bel berbunyi, seorang wanita dengan baju seragam nya berdiri di depan pintu. Risa cepat-cepat berlari untuk segera membuka pintu, sesuai dugaan nya satu unit sepeda motor pesanan Risa sudah sampai.


"Tanda tangan Mbak."


Bibir Risa terus memancarkan senyuman bahagia, apa yang selama ini ia idam-idamkan kini sudah ia dapatkan. Sebuah sepeda motor yang sejak dulu ia impikan, sebab Dad Arsielo Anderson tidak pernah mengijinkan dirinya untuk menaiki ataupun mengemudikan nya.


Hilman penasaran mengapa Risa berlari saat mendengar suara bel, dan ia terkejut saat melihat wajah bahagia Risa sambil memeluk sepeda motor matic yang terparkir di halaman rumah.


"Ini punya siapa?" tanya Hilman.


Risa baru menyadari bahwa ada Hilman di sana, ia tersenyum melihat kearah Hilman, "Ini baru, punya Risa. Mantap kan Mas?" tanya Risa dengan wajah bahagia.


Hilman mengangguk, "Tapi kapan kau membeli nya?"


"Belinya gampang kan dan black card dan ATM Mas, tinggal gesek," jawab Risa santai.


"Dasar boros!" Hilman tidak marah pada Risa, hanya saja ia merasa lucu dengan tingkah laku kepolosan Risa. Dan berdebat adalah suatu hal yang di sukai Hilman saat bersama Risa, bibir Risa yang komat-kamit membuatnya menjadi tersenyum geli.


"Mas bilang Risa boros?!" kesal Risa dengan menunjukkan wajah marahnya.


"Memang!" jawab Hilman, ia juga tidak mau kalah. Tapi bukan berarti ia marah.


"Baru juga Risa beli satu motor matic, Mas udah bilang Risa boros!" Risa geleng-geleng kepala sambil menatap kesal Hilman, "Dengar ya Mas!"


Hilman mengangguk dan melipat kedua tangannya di dada, sambil fokus melihat Risa yang sangat menggemaskan.


"Aku ini sudah kau tiduri, bukan hanya setiap malam. Pagi, siang, sore hampir setiap waktunya. Bahkan kau mengambil kesucian ku sampai aku pingsan!" geram Risa.


Hilman menggaruk kepalanya, ia mendadak bodoh karena berdebat dengan Risa.


"Coba Mas pikir kalau Risa jadi jual diri? Berapa banyak uang yang Risa bawa pulang. Kerja nonstop?!" tanya Risa dengan nafas yang naik turun.


Hilman tidak tahu cara bagaimana menggambarkan kebahagiaan nya saat ini, yang ia tahu Risa sangat lucu dan juga menggemaskan, "Ya udah ayo ke kamar berapa bayaran mu?" ajak Hilman, tapi ia hanya bercanda saja.


Risa seketika menatap tajam Hilman, bahkan dengan tatapan yang berapi-api, "Maksud Mas apa?!" teriak Risa.


"Ahahahhaha......" Hilman tidak bisa menahan tawa lagi, karena wajah Risa yang marah padanya, "Udah, apa kau tidak ingin mencoba motor mu ini?" tanya Hilman yang mengalihkan topik pembicaraan.


Risa seketika tidak lagi memikirkan perdebatan dengan Hilman, kini ia ikut melihat motor maticnya.


"Mas, ajarin," pinta Risa penuh harap.


"Bisa naik sepeda tidak?" tanya Hilman.


"Bisa," Risa mangguk-mangguk, "Tapi tidak bisa, waktu itu aku terjatuh dan Dad tidak pernah lagi memperbolehkan aku naik sepeda. Apa lagi naik motor," kata Risa sambil mengingat wajah Dad Arsielo Anderson yang selalu melarangnya menaiki sepeda motor.


"Ya udah ayo naik," Hilman menunjukan jok motor sambil menepuk-nepuk nya.

__ADS_1


Risa langsung tersenyum dan ia duduk, "Nyalain dulu ya kan Mas?" tanya Risa dengan bangga, sebab ia tahu bagaimana menyalakan sepeda motor matic.


"Di cium dulu!" seloroh Hilman.


"Otak mesum!" gerutu Risa.


"Ahahahhaha......" Hilman lagi-lagi tertawa melihat wajah kesal Risa padanya.


Brum....Brum...Brum...


Risa terus menarik gas, dan suara motor seakan menggema. Wajahnya terlihat semakin bangga.


"Pelan-pelan saja," Hilman mulai panik, karena Risa yang terlihat ugal-ugalan, "Pantas saja Dad nya tidak mengijinkan," gumam Hilman.


"Mas, lepasin. Risa mau jalankan motor nya."


Hilman yang memegang motor Risa ragu untuk melepaskan Risa, "Mas naik saja," Hilman cepat-cepat naik di belakang Risa, karena ia sepertinya tidak yakin pada Risa yang hanya naik motor sendiri.


Brum....Brum...Brum...


"Tidak usah kuat-kuat!" kata Hilman memberikan peringatan.


"Risa mau balap liar Mas!" jawab Risa yabg terus fokus menatap ke depan.


"Balap liar, naik motor saja baru belajar!" kata Hilman.


"Pegangan, Risa mau balap!"


"Jangan pegang-pegang dong!" kesal Risa.


"Tadi katanya pegangan?"


"Enggak pegang yang itu juga!" teriak Risa, karena ia sudah tidak sabar untuk mencoba sepeda motor matic nya. Tapi Hilman malah melakukan hal aneh.


"Lalu pegang di mana?"


"Di mana saja, asal tidak di situ!"


Hilman langsung memeluk Risa dari belakang, dengan perasaan yang sangat tidak enak.


"Bismillah," dengan perlahan Risa menarik tali gas dan perlahan motor mulai bergerak melaju dengan kecepatan rendah, namun tiba-tiba motor mulai bergerak dengan tidak karuan.


Hilman dengan cepat memegang setang sepeda motor nya, agar mereka tidak terjatuh, "Baru juga begitu!" kata Hilman tepat di telinga Risa.


"Apasih, itu tadi karena jalannya tidak rata Mas," jawab Risa tidak mau kalah.


"Memang kau bodoh!"


"Lepas," Risa menyingkirkan tangan Hilman, dan ia kini memegang setang sepeda motor bahkan menambah lagi laju kendaraan bermotor nya.

__ADS_1


"Risa ini terlalu kencang!!" kata Hilman dengan paniknya.


Belum selesai Hilman berbicara sepeda motornya sudah menabrak bunga milik Ibu Sintia.


Brak!!!


"Aduh," ringis Risa.


Hilman merasa badannya sangat sakit, karena pas bunga yang terjatuh di kepala nya.


"Kau benar-benar bodoh!" kesal Hilman.


"Hehehe," Risa cengengesan sambil berusaha untuk bangun.


Ibu Sintia yang mendengar suara benda berbenturan cukup keras dengan segera berlari ke halaman, sebab suaranya berasal dari sana. Mata Ibu Sintia melotot, kedua telinganya bagaikan mengeluarkan asap saat melihat bunganya hancur karena ulah Risa dan Hilman, "Tidak!!!!!" teriak Ibu Sintia dengan kencangnya.


Hilman dan Risa langsung menutup kedua telinganya, karena suara Ibu Sintia benar-benar membuat gendang telinga sakit.


"Apa yang kalian lakukan?!" geram Ibu Sintia.


"Mas Hilman Bu, tadi udah Risa bilang belajar naik motornya di lapangan saja. Tapi Mas Hilman maksa di sini," bohong Risa yang ingin menjadikan Hilman tumbalnya.


Hilman terkejut mendengar penjelasan Risa yang terdengar aneh, "Kenapa kau malah melimpahkan kesalahan ini pada ku?" geram Hilman.


"Hehehe....."


"Cengengesan!" geram Hilman.


"Bu maaf ya," Risa menatap Ibu Sintia dengan melas.


"Hilman, ganti rugi semua ini. Bayar semua bunga Ibu yang rusak ini!"


"Iya, memangnya berapa harganya?" tanya Hilman dengan santai.


"2 Miliar, ini semua bunga mahal!" Ibu Sintia mengerakkan tangannya di depan wajah Hilman.


"Mahal sekali, ini hanya 20 ribu bahkan udah dapat sama pasnya," kata Hilman menunjuk sebuah bunga, "Bunga apa ini, daunnya saja bolong!"


"Itu namanya bunga duda bolong Mas," jawab Risa, dan ia merasa jawaban nya itu benar.


"Duda bolong?" tanya Hilman bingung.


"Suami istri tidak ada yang beres!" kesal Ibu Sintia.


"Ini bunganya...." belum sempat Hilman berbicara, pas bunga itu sudah retak dan pecah. Hilman dan Risa langsung saling melihat, "Kabur," Hilman menarik tangan Risa.


"Risa, Hilman!!!" teriak Ibu Sintia.


Kok....kok....kok.....

__ADS_1


Ayam yang sedang tidur di kandang nya sampai ikut terkejut karena suara Ibu Sintia.


__ADS_2