Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pertemuan


__ADS_3

"Ini rumah Hanna?" tanya Risa.


"Bukan," jawab Farhan yang hanya menatap ke depan, sambil menepikan mobilnya.


"Lalu?" tanya Risa bingung.


"Ini rumah kontrakan Hanna!" kata Farhan lagi.


"Huuuufff....." Risa menarik nafas dengan panjang, karena kesal pada Farhan. Risa memang tahu alamat Hanna, tapi ia tidak pernah berkunjung ke sana. Dan Risa hanya berhubungan melalui sambungan telpon. Itu pun diam-diam, karena tidak ada yang boleh mendengar nya.


"Turun!" kata Farhan, karena Risa hanya diam menatap depan.


"O, iya lupa ya," kata Risa dengan bodohnya.


"Dasar aneh," kata Farhan.


Risa turun dari mobil, ia melihat sekeliling nya, "Tuan rumahnya yang mana ya?" tanya Risa, karena rumah di sana berukuran cukup sederhana, bahkan dengan rumah cukup saking berdekatan.


"Itu!" Farhan menunjukan sebuah rumah sederhana.


"Terima kasih tuan," Risa tersenyum bahagia, "Tuan bawakan tas saya," Risa melepaskan tas miliknya pada Farhan. Karena tas itu sangat berat, lagi pula ia sudah rindu pada Hanna. Terutama pada Derren yang lucu. Dan kini anak itu sudah berusia dua tahun.


"Kurang ajar," gumam Farhan, karena hampir saja ia terjatuh karena menangkap tas milik Risa, "Ini bayarannya akan mahal sekali, kita lihat saja nanti!" gumam Farhan sambil tersenyum licik nya.


Tok tok tok.


"Hanna!!!...." seru Risa. Karena tidak mendapat jawaban Risa kembali berteriak, "HANNA!!!!" teriak Risa dengan kencang.


Plak.


Farhan melempar sebuah botol plastik tepat mengenai kepala Risa.


"AUuu...." ringis Risa sambil menggosok kepalanya, ia berbalik dan menatap Farhan yang masih berdiri di depan mobil.


"Brisik!" geram Farhan.


"Hehehe....." Risa cengengesan, "Maaf tuan," kata Risa dengan sedikit takut.


Clek.


Pintunya terbuka, dan ada seorang wanita berhijab di sana. Hanna. Wanita itu adalah Hanna, tubuh Hanna sangat gemuk sekali, jangan lupakan perut buncitnya yang semakin terlihat akan meledak.

__ADS_1


"Risa," Hanna terkejut karena kedatang Hanna yang tiba-tiba, tentu saja ini adalah hal yang sangat di harapkan oleh Hanna.


"Hanna, aku kangen banget," Risa cepat-cepat memeluk Hanna, walaupun tidak bisa memeluk dengan erat tapi paling tidak ia sudah memeluk Hanna dengan erat.


"Aku juga kangen," kata Hanna, "Kamu apa kabar?" tanya Hanna dengan senyuman.


"Aku baik, aku kangen banget," Risa kembali memeluk Hanna, karena ia memang sangat rindu akan Hanna.


"Nih!" Farhan meletakan tas milik Risa pada kepalanya.


"Tuan ini sakit!" kesal Risa. Dan tangannya mulai mengambil tasnya.


"Tas mu itu ambil, kau pikir aku bodyguard mu!" kata Farhan lagi, "Ingat kau punya banyak hutang yang harus di lunasi!" kata Farhan yang memperlihatkan Risa.


"Iya....iya," Risa cemberut, tapi ia tetap berkata ia. Padahal ia pun tidak tahu entah apa yang nantinya akan di minta Farhan.


Sementara di sebuah mobil hitam, ada Devan di sana. Dari tadi Devan diam dan menyaksikan apa yang terjadi, wajah cantik Hanna kembali ia lihat ini adalah hal yang sangat luar biasa. Tapi ada yang sangat mengejutkan, ternyata kecurigaan nya benar bahwa Farhan tau dimana keberadaan Hanna.


Perlahan kaki Devan turun dari mobil, ia melangkah mendekati tiga orang di sana. Dimana Risa dan juga Hanna yang terlibat pembicaraan yang begitu bahagia.


"Derren mana Han, aku kangen banget," ujar Risa dengan antusias.


"Ya ampun Derren, kamu udah gede banget....aku kangen tau," Risa tidak perduli Derren yang baru saja tidur, ia menciumi pipi tembem Derren. Tapi sepertinya Derren begitu lelah hingga ia tidak terusik sedikitpun pun.


Sementara di luar sana, Farhan hanya berdiri dan menyaksikan dua wanita di dalam sana. Dan badannya berbalik, namun ia sangat terkejut ada Devan di sana.


"Bos," kaki Farhan bergetar, dan ia sangat takut sekali akan amukan Devan.


Devan diam saja dengan wajah dinginnya, ia menatap Farhan dengan tajam.


"Bos, ini bisa aku jelaskan," kata Farhan ketakutan.


Devan berjalan masuk, bahkan menyenggol Farhan yang berdiri di depannya. Ia berdiri di depan pintu, dan melihat Hanna yang memunggunginya. Sementara Risa yang memeluk Derren. Perlahan tangan Risa meletakan Derren kembali pada kasur bulu, dan ia melihat ada Devan di depan pintu.


"Sa, kamu kenapa?" tanya Hanna yang belum tahu apa-apa.


Risa menatap Hanna, kemudian kembali menatap Devan yang berdiri di depan pintu.


Hanna penasaran dan ia berbalik, dan ternyata ini begitu mengejutkan. Ada Devan di sana.


Deg.

__ADS_1


Jantung Hanna berdetak, bukan karena kerinduan akan Devan. Tapi Hanna takut jika kedatangan Devan hanya untuk mengambil Derren saja darinya. Hanna menatap Devan, dan menatap Risa dengan penuh tanya.


"Enggak Han, aku datang ke mari itu enggak bilang ke siapapun!" Risa ketakutan dan ia sangat takut bila Hanna membencinya.


Hanna percaya pada jawaban Risa, karena ia pun bisa bebas dari rumah Devan karena bantuan Risa. Jadi Hanna tidak mencurigai Risa lagi. Dengan cepat Hanna mengambil Derren, dan menggendong Derren dengan menggunakan kain. Walaupun sedikit kesulitan tapi Hanna tidak ingin Devan mengambil anaknya. Hanna dengan cepat pergi menuju pintu belakang, dan membawa anaknya.


"Hanna," Devan dengan cepat mengejar Hanna, dan memegang lengan Hanna.


"Lepas!" Hanna terus bergerak, hingga Derren terbangun dan menangis. Sebab ia merasa tidur nya sangat terganggu sekali.


"Oe....oe.....oe.."


"Aku tidak akan mengambil Derren!" kata Devan dengan jelas, agar Hanna tidak lagi banyak bergerak. Karena Devan pun takut terjadi hal buruk pada kandungan Hanna.


Mendengar kata yang di ucapkan oleh Devan, Hanna tidak lagi bergerak.


"Aku tidak akan mengambil kedua anak ku!" ujar Devan lagi.


Deg.


Jantung Hanna benar-benar terpacu mendengar kata yang di ucapkan oleh Devan, "Kedua?" tanya Hanna sambil mendongakkan menatap Devan yang lebih tinggi darinya.


"Derren dan anak yang di kandungan mu," jelas Devan.


"Enggak, ini bukan anak mu!" kata Hanna. Ia tidak percaya lagi dengan kata-kata Devan, karena buktinya semua kata manis Devan hanya sebuah kebohongan saja. Hingga Hanna benar-benar ingin Devan tidak menganggap anak di kandungan nya sebagai anaknya.


"Aku tahu itu anak ku!" kata Devan lagi, dan ia melepaskan lengan Hanna.


"Sayang," Hanna berusaha menenangkan Derren yang tengah menangis, dan beberapa saat kemudian Derren berhenti menangis, "AUuu...." ringis Hanna, ia memegang dinding dan duduk di lantai.


"Hanna," Devan panik dan ia juga ikut berjongkok.


"Hanna kamu kenapa?" Risa cepat-cepat mengambil Derren, karena Hanna terlihat kesakitan.


"Hanna," Devan berusaha memegang lengan Hanna.


"Jangan sentuh aku," Hanna menghempaskan tangan Devan.


"Tapi kau kenapa?" tanya Devan semakin panik.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Hanna dengan suara lemahnya, sambil menahan sakit, "Aku tidak apa, ini hanya bagian kecil dari sakit yang kau berikan, jangan sentuh aku kita bukan lagi suami istri. Aku sudah menerima talak mu!" tegas Hanna.

__ADS_1


__ADS_2