Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Semakin gila saja


__ADS_3

Hari-hari terus berganti bulan, Hanna menghilang tanpa jejak. Ia menghilang entah kemana, bahkan sampai saat ini entah dimana keberadaan nya. Sedangkan Devan semakin berubah dingin, semua pekerja nya kini semakin bagus. Tapi tidak dengan sikapnya, karena kini tidak ada yang boleh bermain-main dalam bekerja. Bahkan tidak ada yang boleh tersenyum, hingga semua karyawan hanya menunjukan wajah datarnya saja.


Seperti pagi ini, semua karyawan tengah berbincang hangat. Namun tiba-tiba semua diam karena Devan tengah melewati mereka, tidak ada yang berani berbicara atau pun tersenyum mereka lebih memilih aman dari pada di pecat secara tidak hormat. Tanpa pesangon sekalipun.


Devan mulai duduk di kursi kebesaran, seperti biasanya Farhan yang selalu kini bersamanya, "Apa sudah ada kabar tentang Hanna?" tanya Devan lagi.


"Tidak bos," jawab Farhan.


Devan menatap Farhan dengan tajam, rasanya ingin sekali ia mencabik-cabik Farhan saat ini, "Aku merasa kau semakin tidak becus, dan semakin tidak ada gunanya!" geram Devan.


Farhan meneguk saliva, tapi apa yang bisa ia katakan saat ini. Karena semua memang sangat menyulitkan nya.


"Atau kau sedang tidak setia pada ku?" tanya Devan yang mulai curiga pada Farhan.


"Maksudnya bos?" tanya Farhan seolah tidak mengerti.


"Lima bulan sudah Hanna pergi, sampai saat ini juga belum ada kejelasan atau pun berita yang pasti," terang Devan, "Aku tahu cara kerja mu seperti apa, tapi kali ini sepertinya aku tidak bisa mempercayai mu lagi," Devan menatap Farhan dengan penuh intimidasi.


Farhan berusaha tenang, ia tidak ingin di salahkan tentunya, "Bos, Diana tidak mau menandatangani berkas perceraian ini. Sebelum mendapatkan uang dua miliyar lagi dari anda," kata Farhan. Ia ingin mengalihkan pembahasan Devan tentang Hanna yang hannya menyudut dirinya saja.


Devan melihat berkas itu dan memang belum ada tanda tangan Diana di sana, "Apa kau sudah menemukan siapa Ayah dari anak yang di kandungnya itu?" tanya Devan.


"Apa anda yakin itu bukan anak anda bos?" tanya Farhan, karena Farhan tahu Diana adalah istri sah dari sang bos. Tapi ia tentu saja tidak tahu seperti apa hubungannya yang lainnya antara Devan dan Diana.


"Apa maksudmu?!" geram Devan. Ia berdiri dan langsung menarik kerah kemeja Farhan, padahal ada meja pembatasan di tengahnya.


"Bukan begitu maksud ku bos," Farhan perlahan melepaskan diri.


Setelah Devan melepaskan tangannya, ia kembali duduk di kursi nya, "Bukan, aku yakin untuk kali ini aku bukan Ayah nya," jelas Devan dengan tegas dan yakin, karena tidak mungkin hanya tidur satu ranjang bisa hamil itu aneh sekali. Sedangkan mereka hampir satu tahun tidak berhubungan layaknya suami istri.

__ADS_1


"Tapi ada yang aneh bos," ujar Farhan.


"Apa?" tanya Devan.


"Sopir Diana yang bernama Taha itu menghilang tanpa jejak, bahkan istrinya pun terus mencarinya," kata Farhan yang memang terus memantau gerak-gerik dari Taha.


"Apa hubungannya dengan ini?" tanya Devan yang belum mengerti, "Apa mau aku colok kedua bola mata mu itu!"


"Tenang bos tengang bukan begitu maksudnya," Farhan kini merasa berhadapan dengan orang gila, karena Devan tidak lagi bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, "Karena aku yakin Taha adalah Ayah biologis dari anak Diana. Dan aku ingin sekali setelah anak itu lahir segera melakukan tes DNA," jelas Farhan.


"Kenapa menunggu lahir? Kenapa tidak saat ini saja?!"


"Dasar egois, apa dia tidak kasihan pada anak yang tidak berdosa itu," batin Farhan.


"Apa kau sedang mengumpat aku?!" tebak Devan sebab ia tahu dari tatapan Farhan padanya.


"Bukan begitu bos, tapi terlalu beresiko jika melakukan tes DNA sebelum bayi itu lahir. Bagaimana pun bayi itu tidak salah, jadi rasanya tidak pantas bila dia yang menanggung kesalahan orang tuanya,," jelas Farhan agar Devan mengerti.


"Manusia seperti apa ini, egois sekali," batin Farhan lagi, "Setelah bayinya lahir saja bos, kita juga manusia dan masih punya hati," kata Farhan.


Brak!!!


Devan menggebrak meja lagi dengan kuat, hingga Farhan bangun dan menjauh.


"Apa kau pikir aku ini manusia tidak punya hati!" tanya Devan dengan wajah berkabut amarah.


"Bos baik dan punya hati, aku tahu itu," kata Farhan dengan cepat. Karena Devan kini terlihat sensitif dan sangat mudah tersinggung.


Devan kembali duduk, walaupun tatapannya masih terlalu tajam. Tapi ia berusaha meredam emosinya.

__ADS_1


"Bos apa kita berikan saja uang yang di pinta Diana, atau bagaimana?" tanya Farhan yang tidak ingin membuat kesalahan lagi.


Devan mengangguk, "Berikan saja uang yang Dia inginkan, dan cepat minta dia tanda tangan disini," kata Devan sambil melemparkan berkas perceraian nya pada Farhan, "Aku ingin setelah ini hanya fokus mencari Hanna," kata Devan. Perkiraan nya kini Hanna sudah mengandung sekitar enam bulan, dan usia Derren sudah menginjak tiga belas bulan. Dan ia sampai saat ini pun belum menemukan keberadaan Hanna.


"Baik bos."


"Apa Diana di luar negeri?"


"Dia baru kembali dari luar negeri, tapi anehnya saat dia kembali mendadak Taha yang menghilang," jelas Farhan lagi.


"Aku tidak bertanya Taha, itu bukan urusan ku!" geram Devan.


"Dia memang sudah gila, semakin gila juga!" batin Farhan.


"Katakan kalau ada yang ingin kau katakan, jangan membatin!"


Glek.


Farhan meneguk saliva, karena Devan selalu bisa menebak apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


"Apa ada lagi yang harus di lakukan bos?" tanya Farhan, karena ia tidak ingin lebih lama berada di ruangan Devan yang hanya membuat nya ikut gila seperti Devan yang terlihat mulai tidak waras.


Devan mengangguk, "Aku rasa ini sudah tidak penting lagi, sekarang kau harus dapat tanda tangan wanita tidak berguna itu. Dan kami resmi bercerai, karena yang terpenting saat ini Hanna. Aku yang akan mencari Hanna sendiri!" tegas Devan, "Dan ingat Farhan, sampai aku tahu suatu hari nanti ini ada campur tangan mu." Devan memegang mengepalkan kedua tangannya di atas meja, "Habis kau!"


"Baik bos," Farhan keluar dan ia ingin mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Devan, agar Devan dan Diana segera bercerai itulah yang di perintahkan Devan. Tapi Farhan juga sedang tidak ingin lebih lama di depan bos nya yang sedang marah-marah itu, karena merindukan istri dan anaknya.


Sedangkan Devan masih bingun dan memijat kepalanya, hingga tangannya mengambil pas bunga dan melemparnya tepat mengenai dinding dan hancur berantakan.


Krang!!!

__ADS_1


"Hanna kamu dimana?" gumam Devan, "Adam," tiba-tiba Devan mengingat nama itu, semenjak Hanna pergi Adam juga tidak pernah lagi menampakan dirinya.


__ADS_2