Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Jabatan Baru


__ADS_3

Setelah mendapatkan jabatan yang baru, Risa kembali mengganti pakaiannya dengan pakaian lebih formal. Celana berwarna hitam senada dengan blazer hitam yang terlihat pas di tubuhnya. Cantik, tubuh langsing, rambut terurai dengan bulu mata lentik, bola mata berwarna keabu-abuan membuat pesona seorang Clarisa Anderson tidak di ragukan lagi.


"Apa kau seorang sarjana?" tanya Hilman, padahal ia sudah tahu siapa Risa. Dan ada sedikit rasa menyesal dengan kata-kata kasar nya beberapa waktu lalu pada Risa, setelah Hilman tahu jika Risa bukan wanita yang di bayar. Apa lagi ia juga sangat terkejut sudah menikah putri seorang konglomerat.


Risa menatap mata Hilman, dan tidak tahu mengapa ia mendadak merasa aneh, "Memangnya kenapa?" tanya Risa balik yang tidak mau mengalah.


Hilman tidak pernah merasa baik-baik saja bila berbicara dengan Risa, bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan nya saja sangat membutuhkan perjuangan dan emosi, "Kalau di tanya di jawab, jangan balik bertanya!"


"Tidak penting!" jawab Risa.


"Kita ada rapat!" Hilman tidak ingin berdebat dengan Risa, ia jauh lebih memilih mulai bekerja dari pada terus berdebat yang tidak menghasilkan apa-apa sama sekali.


Rapat di mulai, Risa yang sebelumnya sudah di pinta Hilman untuk mempelajari hal-hal mengenai materi meeting terlihat begitu cekatan. Bahkan saat beberapa kolega bertanya ia menjawab tanpa ada rasa gugup ataupun lainnya, ada yang memandang kagum, ada juga yang langsung memuji terang-terangan akan kepintaran Risa.


"Semoga kerja sama kita bisa saling menguntungkan."


"Terimakasih Tuan," Risa tersenyum dan membalas jabatan tangan seorang rekan bisnis barunya.


"Salam kenal Nyonya Risa," sapa yang lainnya yang juga mengulurkan tangannya.


Risa tersenyum dan membalas uluran tangan tersebut, namun Hilman merasa tidak suka pada beberapa rekan kerjanya yang terus menatap Risa.


Sampai meeting selesai, Hilman masih diam tanpa kata. Semua mulai mengundurkan diri, namun tiba-tiba seorang pria masih berdiri di sana. Ia tersenyum pada Risa.


"I hope we can get to know more," kata pria tersebut sambil mengulurkan tangannya.


Risa membalas uluran tangannya dan memberikan sedikit senyuman, "Sure, why not," jawab Risa.


"Ehem....." Hilman berdehem, hingga pria tersebut melepaskan tangan Risa.


"Sampai jumpa lagi Nona."


Risa menatap Hilman dengan jenuh, kemudian ia mengambil beberapa berkas di atas meja dan memberikan pada Hilman.


"Apa-apaan ini?" geram Hilman.


"Bawa bos, tangan ku sakit," bohong Risa.


"Mmmmfffffpp...." Niko menahan tawa melihat sang bos yang malah di perlakukan seperti asisten, padahal sudah jelas yang asisten itu adalah Risa. Dan Niko tahu Risa adalah istri pengganti untuk Hilman, yang tidak di sangka adalah bos besar yang dingin bisa di bohongi oleh seorang wanita yang baru di kenalnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hilman melihat Niko menahan tawa.


Niko langsung diam, karena takut, "Enggak bos," jawab Niko.


"Bawa ini!"


Jika biasanya asisten yang berjalan dibelakang bos, maka saat ini berbeda karena Bos yang berjalan di belakang asisten. Siapa yang bisa melakukan itu, tentu saja Clarisa Anderson. Seorang wanita tangguh, ceria dan tidak mudah ditindas sekalipun Hilman yang menjadi lawannya. Itulah salah satu alasan mengapa Arsielo Anderson memberikan kepercayaan pada putrinya bungsunya.


"Bos," Risa berbalik dan berhenti di hadapan Hilman.


"Dasar!" geram Hilman karena Risa memang sangat suka berbuat sesuka hati nya.


"Hehehe....." Risa cengengesan karena ia tahu ia salah, "Bos, jam kerja udah selesai kan? Saya boleh pulang?" tanya Risa.


"Ayo pulang," kata Hilman.


"Enggak, saya pulang sama Dino aja. Saya duluan ya Bos," pamit Risa.


"Tunggu dulu," Hilman entah mengapa merasa berat melepaskan Risa pulang lengan orang lain, apa lagi orang itu adalah laki-laki.


"Apa lagi?" tanya Risa dengan malas.


Risa terkejut mendengar masih ada pekerjaan, padahal sudah jelas ia melihat tidak ada lagi jadwal rapat atau pun hal lainnya untuk Hilman. Dan seharusnya ia bisa pulang sekarang.


"Mana ada," kata Risa dengan bingung.


"Apa kau dan dia itu kekasih, sampai-sampai kau ingin sekali pulang dengannya?"


"Dasar aneh, dia itu naik motor. Saya suka naik motor, dan Dino juga mau mengajarkan saya mengendarai motor, jadi saya duluan ya Bos," pamit Risa lagi.


"Tidak," Hilman langsung menarik Risa masuk ke dalam mobil, tanpa perduli orang-orang banyak melihat mereka dengan bingung.


Wajah Risa terus saja cemberut, apa lagi saat membaca chat dari Dino yang sudah menunggunya di depan kantor. Dan ia akan di ajari naik motor, tapi semua gagal karena Hilman. Sampai akhirnya matanya menatap taman kota dan ada seorang penjual eskrim.


"Niko stop!!!" seru Risa.


Cittttttt.


Niko terkejut dan langsung mengerem dengan mendadak.

__ADS_1


"Sial," gumam Hilman yang terhuyung ke depan, "Apa yang kau lakukan!!" geram Hilman menatap Risa.


"Hehehe..." Risa tersenyum dan menampakan dua baris gigi rapinya, "Itu," Risa menunjuk keluar, "Saya turun di sini saja, mau makan eskrim," Risa langsung turun tampa mendapatkan persetujuan dari Hilman.


"Ada-ada saja!"


Duduk di kursi taman, dengan memakan eskrim di sore hari membuat hati terasa indah. Namun Hilman masih tidak bisa melupakan kekesalannya, karena kelakuan Risa yang membuat kepalanya terbentur.


"Dasar rakus!"


Risa tidak perduli, ia terus memakan eskrim dengan dengan bergantian. Jika Hilman memakan satu esktrim saja belum habis, maka Risa sudah menghabiskan dua eskrim.


"Mang satu lagi eskrim nya," pinta Risa dan artinya itu sudah eskrim yang ketiga.


"Dasar rakus, kalau kata orang tua dulu. Makan itu harus baca doa, biar tidak makan seperti orang kesurupan seperti makan sama setan!" Hilman memperingati Risa, kemudian ia kembali memakan eskrim nya.


"Emang saya makan sama setan," jawab Risa santai, "Setan yang di sebelah saya," lanjut Risa lagi.


"Uhuk....uhuk....uhuk....." Hilman langsung terbatuk-batuk saat mengetahui Risa secara tidak langsung menyebutnya setan.


"Setan nya tersedak, karena sedang di bicarakan," kata Risa lagi sambil terkekeh.


"Dasar!!" geram Hilman dan menyenggol lengan Risa, sampai akhirnya eskrim milik Risa mengenai hidungnya.


"Ish..." Risa kesal dan tanpa sadar ia berusaha menjilat eskrim pada hidungnya.


"Dasar jorok!" kata Hilman lagi sambil terkekeh, karena Risa cukup unik.


Risa menggaruk kepalanya menyadari kebodohannya sendiri, "Hehehe.....iya juga ya? Kan jorok."


"Dasar bodoh!"


Peltak.


Tangan Hilman langsung menyentil dahi Risa.


"Ahahahhaha...." keduanya tertawa terpikal-pikal karena merasa lucu.


Devan dan Hanna melihat dari kejauhan, dan tampak melihat Hilman dan Risa tersenyum, "Jangan lagi khawatir mereka akan bahagia, lihat saja," kata Devan.

__ADS_1


"Iya Mas, semoga mereka bahagia selamanya," kata Hanna sambil memeluk Devan.


__ADS_2