
"Terima kasih."
Hilman mulai menyeruput kopi buatan Risa, entah sadar atau tidak, tapi Hilman mulai candu akan kopi buatan Risa yang menurutnya sangat pas di lidah seorang Hilman.
"Tuan," Risa duduk di sofa saling berhadapan dengan Risa.
"Em," Hilman mulai melihat Risa yang duduk berhadapan dengan nya.
"Permisi Bos," Niko yang tidak mendapatkan kabar keberadaan sang Bos langsung menyusul ke rumah, dan ternyata Hilman ada di rumah.
Hilman yang awalnya melihat Risa kini beralih melihat Niko, "Ada apa?" tanya Hilman dengan wajah dinginnya.
"Ada meeting dengan tuan Devan Anderson company," kata Niko.
Hilman mengangguk, dan ia beralih melihat Risa yang mulai menyeruput kopi sisa Hilman, "Itu kopi ku!" kesal Hilman.
"Hehe...." Risa terkekeh, "Tapi ini buatan ku," Risa pun tidak mau kalah bila berdebat dengan Hilman.
Hilman kembali mengambil alih kopi miliknya, dan menyeruput sampai habis, "Rasanya berubah pahit," bohong Hilman sambil kembali meletakan cangkir pada meja.
"Tadi enak, manisnya juga pas," Risa masih mengingat kopi buatan nya yang cukup enak, tapi anehnya Hilman malah mengantarkan tidak enak.
"Karena kau yang meminum, jadi kopi ini berubah pahit!"
"Ish...mana ada!"
Hilman berdiri dan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya, pikiran Hilman kini hanya pada pekerjaan nya. Bagaimana pun ia tetap harus profersional kerja, sekalipun Devan adalah orang yang kini menjadi rekan bisnisnya. Sebenarnya bisnis tersebut sudah terjalin sejak dulu, dan sampai akhirnya ada masalah di antara keduanya.
Tap tap tap.
Hilman berjalan masuk menuju perusahaan Anderson company, dengan seorang wanita yang berjalan di sampingnya.
Risa berjalan di samping Hilman, karena ia memang masih asisten Hilman. Walaupun sebenarnya Risa hanyalah asisten yang malah menjadikan Hilman sebagai bawahannya, tapi tetap saja Hilman menjadikan Risa sebagai asisten.
Niko mengikuti langkah Hilman dan Risa, dengan tas yang berisi beberapa berkas di dalam nya.
"Silahkan masuk Tuan Hilman," Farhan mempersilahkan Hilman masuk, dan Risa juga ikut masuk.
Hilman duduk dengan Risa yang juga duduk di sampingnya, sejenak semua diam tanpa ada yang berbicara. Mengingat masih ada ketegangan antara Devan dan juga Hilman.
"Ehem," Risa mulai berdehem, sebab ia tahu dua lelaki itu sama-sama dingin dan irit dalam berbicara.
"Bagaimana dengan kabar mu?" tanya Devan melihat Risa.
"Tuan Devan Anderson, kita sedang meeting ya. Dan jangan anggap aku adik mu di sini!" kata Risa dengan angkuhnya.
__ADS_1
Devan tersenyum samar, ia dapat menebak hari-hari Hilman yang sudah pasti pusing menghadapi adiknya. Tapi di hati Devan ia ingin Hilman dan Risa bisa bahagia, "Ya," Devan mengangguk.
Rapat selesai, semua berakhir dengan berbagai ide-ide yang cukup memuaskan. Menghasilkan suatu keputusan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak perusahaan.
"Kak Dev, kapan Mom kembali ke Indonesia?" tanya Risa, sebab saat ini Mom Citra sedang kembali ke Italia.
"Secepatnya," jawab Devan, "Apa dia menyakitimu?" Devan menatap Hilman.
"Adik mu itu yang membuat ku pusing," kata Hilman, dan ia langsung berdiri.
Devan menatap Hilman yang sudah berdiri, "Tidak ingin berdamai, aku akui aku salah."
Hilman menatap tangan Devan, kemudian ia menatap Risa. Dan perasaan Hilman saat ini tidak lagi membenci Devan, sebab Risa juga bisa membuat hidupnya seketika berubah penuh tawa.
"Tidak ada salahnya," Hilman membalas uluran tangan Devan, dan keduanya saling melempar senyum.
"OMG, kalian kok saling pandang?" tanya Risa dengan otak yang berpikir aneh.
"Tidak usah aneh-aneh!" Hilman langsung menarik Risa.
Risa langsung terhuyung, dengan cepat ia juga mengikuti langkah kaki Hilman. Sampai akhirnya keduanya kembali ke perusahaan Brawijaya group.
Risa tidak mau duduk di sofa, tempat duduknya adalah kursi kebesaran Hilman. Saat ini pun sama, Risa dengan santainya duduk manis di sana. Namun anehnya Hilman tidak marah sama sekali, ia diam saja dan duduk di sofa.
"Tuan kaya," panggil Risa.
"Lapar," kata Risa lagi.
"Makan apa?" tanya Hilman tanpa melihat Risa.
"Apa saja, asal jangan makan hati. Sudah puas aku ini makan hati karena anda?"
Hilman langsung melirik Risa dengan bibir yang tertarik ke masing-masing sudutnya, kemudian ia mengambil ponselnya dan meminta Niko untuk memesan makanan untuk ia dan Risa. Sebab waktu sudah siang, tapi keduanya belum makan.
"Enak sekali," Risa langsung melahap makanan yang di bawa oleh Niko, bahkan dalam waktu yang cukup singkat.
Hilman hanya geleng-geleng melihat kelakuan Risa yang apa adanya, cerewet, tidak cengeng dan berbuat sesukanya. Bahkan Hilman sedikit bingung karena kini mulai tertular virus konyol Risa, pertama kalinya ia membawa motor dengan ugal-ugalan bahkan sampai di kejar polisi. Tentu saja itu akan menjadi sejarah tersendiri.
"Tuan kaya, badan ku sakit sekali. Tolong pijatkan!" Risa menunjukkan kedua pundaknya.
Hilman tidak perduli, ia terus saja duduk di sofa sambil berfokus pada laptop nya.
Plak!
Risa melemparkan satu buah bolpoin tepat mengenai kepala Hilman.
__ADS_1
Hilman sangat tidak suka dengan Risa yang melakukan hal tersebut, menurut Hilman itu sangat keterlaluan. Ia menatap Risa dengan tajam, kemudian berdiri dan berjalan kearah Risa.
Glek.
Risa merasa Hilman sangat menyeramkan, dan ia sedikit takut.
Tangan Hilman meletakan kembali bolpoin yang sempat mengenai kepalanya pada tempatnya, dengan mata setajam elang yang terus menatap Risa.
"Aku tidak suka dengan istri yang tidak sopan pada suaminya, karena aku juga sudah berusaha untuk memperlakukan mu dengan baik layaknya manusia. Tanpa menghina, ataupun bermain kasar pada mu," tegas Hilman.
Risa benar-benar takut, dan ia sadar ia salah, "Maaf, tuan kaya aku minta maaf," lirih Risa dengan takut.
"Kau memanggilku siapa?" tanya Hilman yang kini berdiri di hadapan Risa.
"Mau nya apa?" tanya Risa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas!" kata Hilman, "Panggil Mas!"
"Iy....iya," Risa mengangguk.
"Iya apanya?" gertak Hilman, tapi sebenarnya ia hanya menggertak saja. Wajah Risa saat ini seperti kelinci yang menggemaskan.
"Mas," panggil Risa.
"Bagus!"
Risa diam dan meneguk air mineral, "Tapi kalau lagi mau aja ya, lagi malas enggak deh," tawar Risa.
Peltak.
Hilman langsung menyentil kening Risa, sebab ia sangat gemas pada kelucuan Risa, "Masih menawar!" kata Hilman yang berpura-pura marah.
"Mas, pijitin," Risa menunjuk pundaknya, "Sakit banget pas kejatuhan dari motor," keluh Risa.
Hilman kini berdiri di belakang kursi yang di duduki Risa, dan tangannya mulai memegang pundak Risa.
"Agak ke kanan, agak ke kiri. Agak ke bawah, ke atas, bagus!"
Hilman mendesus dan mengikuti keinginan Risa, walau tanpa sadar ia yang kini sudah menjadi asisten Risa.
"Bos yang meresahkan!" kesal Hilman.
"Hehehe!" Risa terkekeh karena Hilman kesal padanya.
*
__ADS_1
Tolong like dan Vote ya Kak, tolong bantu aku biar tetap semangat.