Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Rumah Sakit


__ADS_3

"Mbok Minah!!!" seru Risa memanggil seorang Art.


"Ya Non, aduh Nyonya muda yang geulis pisan tidak usah ke dapur teh, biar saya saja ke kamar," jawab Mbok Minah yang tengah beberes di dapur.


Risa tersenyum sambil melihat wajah Mbok Minah, "Mbok Risa pengen nasi goreng, bisa buatin enggak?"


"Bisa atuh Non, sebentar ya."


"Mbok antar ke kamar saja ya."


"Sebenarnya teh, kata orang kampung seperti Mbok pamali orang hamil makan di dalam kamar. Tapi ya sudah atuh, dari pada Non Risa tidak makan. Mbok siap mengantarkan ke kamar," kata Mbok Minah dengan semangat.


"Risa tunggu di kamar Mbok."


Entah mengapa malam ini Risa ingin sekali memakan nasi goreng, sebenarnya ia ingin Hilman yang membuatkan tapi karena Hilman tidak ada jadi ia meminta Mbok Minah saja.


"Satu porsi nasi goreng sampai," Mbok Minah langsung meletakkan nya di atas meja.


"Makasih ya Mbok," kata Risa dengan bahagia.


"Sama-sama atuh Non, Non ini sudah malam. Mbok istirahat dulu. Semua Art juga sudah istirahat biar besok bangunan segar, Non kalau butuh sesuatu bangunin Mbok saja ya."


Risa melihat jam dinding yang sudah menunjukan tengah malam, semua orang sudah terlelap tapi tidak dengan dirinya. Sesekali Risa menyapu air mata sambil menatap nasi goreng buatan Mbok Minah, rasanya nasi goreng tersebut tidak seperti apa yang di bayangkan oleh Risa. Yang ia inginkan saat ini adalah Hilman yang membuatkan untuk nya, "Apa aku terlalu lebay ya?" Risa tersenyum miring, ia menyadari dirinya yang terlalu mendramatisir keadaan.


Waktu terus berlalu bahkan jam menunjukan pukul 02:00 dini hari, mata Risa belum juga mengantuk ia masih betah berlama-lama duduk di balkon. Menatap dedaunan yang di tiup oleh angin, kemudian Risa masuk dan ia kembali melihat nasi goreng buatan Mbok Minah. Nasi goreng sudah dingin karena sudah cukup lama, dan ia duduk di sofa sambil berniat mencoba mungkin saja nasi goreng itu lezat pikir Risa.


Risa duduk di sofa, dan ia menatap bingkai foto Hilman yang cukup besar terpasang di dinding. Dengan ide yang terpasang di kepalanya Risa menurunkan fhoto tersebut dan meletakkan di atas sofa dengan saling berhadapan dengan nya, "Temani Risa makan ya Mas," kata Risa dengan suara yang bergetar, "Risa enggak tahu kenapa Risa jadi cengeng begini, gampang nangis juga. Risa lebay ya Mas," kata Risa seolah ia tengah berbicara dengan Hilman, padahal ia hanya berbicara pada bingkai foto yang ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap air mata yang terus saja tumpah tanpa bisa di tahan.

__ADS_1


Risa mulai menyendok nasi, memasukan ke dalam mulutnya dan mencoba untuk menelannya. Risa menggeleng karena rasanya benar-benar tidak cocok di lidah nya, "Rasanya tidak enak Mas, dan Risa tidak suka," tangan Risa dengan sengaja melempar piring beserta isinya hingga membentur dinding, semua isinya berhamburan di lantai, "Tidak enak Mas," Risa tersenyum getir saat menyadari dirinya yang seperti orang gila, tapi tidak masalah yang penting ia dan janinnya baik-baik saja, "Risa seperti orang....." Risa mendadak merasa sakit pada perutnya, dengan cepat kedua tangannya memegang perutnya, "Sssstttt....." Risa meringis merasakan sakit yang sangat luar biasa.


Dengan susah payah Risa berusaha untuk bangun, dan tanpa sengaja ia menyenggol fhoto Hilman hingga terjatuh di lantai dan pecah. Ia tidak lagi memikirkannya, Risa hanya berusaha keluar dari kamar untuk mencari pertolongan, "Mbok Minah...." suara Risa yang pelan karena ia tidak sanggup berteriak membuat semua yang tidur dengan lelap tidak ada yang mendengar, rumah yang besar dengan kamar yang berjarak cukup membuat Risa kesulitan. Bahkan ia langsung masuk kedalam lift, sebab tidak kuat bila berjalan menuruni anak tangga.


Ting.


Pintu Lift terbuka, Risa keluar dengan merangkak. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya sulit untuk berjalan, sampai di pintu utama Risa mencoba untuk membuka pintu dan keluar dengan tubuh yang terseret.


"Pak!!! Pak Satpam!!!" seru Risa dengan suara yang lemah dan keringat yang semakin membasahi tubuhnya.


Dua satpam yang tengah berjaga langsung melihat majikan mereka, keduanya bergegas berlari kearah Risa.


"Pak tolong bawa saya ke rumah sakit," kata Risa.


"Nyonya, kenapa?" tanya pak Beni seorang satpam yang sudah sejak lama bekerja dengan Ibu Sintia.


"Iya benar," jawab Pak Beni, "Maaf ya Nyonya, saya bukan maksud tidak sopan. Tapi Saya harus mengangkat anda untuk naik ke mobil," kata Pak Beni sebelum mengangkat sang majikan.


"Pak tolong," Risa mengangguk dan ia hanya berusaha untuk tetap sadar.


Pak Beni dan Pak Dodo segera membawa Risa ke rumah sakit menaiki mobil milik Risa, kedua Satpam itu tidak memberi tahu siapapun pada orang yang ada di rumah. Sebab keadaan Risa yang memprihatikan membuat keduanya lebih memikirkan Risa yang harus segera mendapatkan pertolongan.


"Nyonya sudah tidak sadar pak Beni, sebaiknya ngebut. Takutnya Nyonya kenapa-kenapa," usul pak Dodo panik.


Sampai di rumah sakit, Risa langsung di larikan ke ruang UGD.


"Siapa penanggung jawab pasien?" tanya seorang dokter.

__ADS_1


"Kami cuman satpam, dan...." Pak Dodo tidak tahu harus mengatakan apa, sampai akhirnya ia melihat Adam yang tengah melewati mereka. Adam sudah cukup sering datang ke rumah Hilman tentu saja Pak Dodo dan Pak Beni mengenali Adam, "Dokter Adam," panggil Pak Dodo.


Adam langsung melihat pak Dodo, "Pak Dodo, pak Beni ada apa kesini, istri Bapak lahiran?" tebak Adam.


"Bukan dokter, tapi Nyonya Risa tadi kami bawa ke sini. Dan....."


"Tidak apa, Pak Dodo dan Pak Beni pulang saja. Risa saya yang mengurus."


Adam langsung masuk ke ruang UGD, ia ingin melihat keadaan Risa. Dan ia yang menjadi penanggung jawab Risa di sana, setelah satu jam berlalu Risa sudah sadarkan diri. Dan ia melihat Adam yang berdiri di dekatnya.


"Adam, aku di mana?" tanya Risa dengan suara lemahnya.


"Di rumah sakit," jawab Adam, "Tidak usah bangun," Adam memegang lengan Risa, agar tidak bangun karena keadaan nya yang masih sangat lemah.


Risa memijat kepalanya yang terasa pusing, dan ia melihat sekitarnya yang hanya ada Adam.


"Kenapa kandungan mu lemah sekali?" tanya Adam.


"Aku tidak selera makan," jawab Risa.


"Kau terlalu stres, tidak makan, sampai janin mu kurang asupan nutrisi," jelas Adam, "Aku menghubungi Hilman, tapi tidak bisa," ujar Adam mengingat beberapa kali ia menghubungi Hilman.


"Iya, dia di luar negeri."


*


Kalau ada yang tanya, Thor kok Upnya lama, cuman satu. Jawaban nya kesel votenya cuman dikit, nyadar cuman novel receh jadinya aku males up.

__ADS_1


__ADS_2