
Malam ini dua keluarga besar berkumpul di kediaman keluarga Sintia, karena mereka ingin saling mengenal dan juga minta maaf atas kejadian yang sangat tidak menyenangkan beberapa hari ini. Sintia merasa makan malam keluarga ini perlu di adakan mengingat Risa pun sudah menjadi anggota keluarga nya, ada baiknya jika tidak ada lagi yang menyimpan kemarahan. Dan saling terbuka seta saling memaafkan, sebab Sintia ingin pernikahan Risa dan juga Hilman bisa sampai selama-lamanya.
"Terimakasih tuan Arsielo Anderson, sudah hadir di kediaman kami yang sederhana ini," kata Sintia berusaha merendahkan diri, padahal ia juga tidak begitu miskin. Sebab Hilman juga seorang pengusaha sukses, di tambah lagi harta warisan sang Ayah yang kini sudah jatuh ke tangan Hilman, tapi sikap rendah hati Sintia tidak pernah berubah.
Arsielo Anderson mengangguk, "Kami yang juga berterima kasih, sudah repot-repot menjamu kami di sini," jawab Arsielo Anderson.
"Tidak masalah tuan, ini demi keutuhan keluarga kita," Sintia tersenyum ramah.
"Jeng, saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Dan saya mohon bimbingan anak saya yang masih sangat bodoh itu," tutur Mom Citra dengan mata yang berkaca-kaca.
Sintia tersenyum, dan bangun dari duduknya ia mendekati Mom Citra, "Dia itu sudah sangat baik, dan dewasa. Kita bimbing bersama," Sintia mengerti dengan perasaan Mom Citra, hingga ia meyakinkan dengan pasti akan menyayangi Risa seperti putri kandungnya sendiri.
"Terima kasih," Mom Citra membalas pelukan besannya yang begitu hangat.
"Bu, Hanna juga minta maaf," lirih Hanna dengan wajah tertunduk, dan mata yang berkaca-kaca.
Sintia tersenyum, ia kembali duduk kursi nya, "Tidak apa, mungkin kalian tidak berjodoh. Maaf juga karena kemarin Ibu sempat berbicara kasar," kata Sintia.
"Terima kasih Bu," Hanna mengangguk dan merasa sedikit lega karena Sintia terlihat tidak menyimpan dendam pada dirinya.
Sedangkan Devan hanya diam saja, ia hanya memikirkan Risa yang tidak ikut bergabung makan malam bersama dengan mereka.
"Risa di mana Bu?" tanya Hanna yang mengerti dengan raut wajah Devan.
"Risa ada di kamar nya, mungkin masih lelah. Semalam itu acaranya sampai larut bukan?" tanya Sintia.
"Iya, tapi apa boleh Hanna bertemu dengan Risa?"
"Tentu saja boleh, sebentar biar Ibu minta Pelayanan yang memanggil Risa dan Hilman," ujar Ibu Sintia.
__ADS_1
Di dalam sebuah kamar dengan ukuran yang sangat besar dan mewah, Risa dan Hilman duduk dalam diam. Risa duduk di atas ranjang seolah ialah pemilik kamar, dan Hilman duduk di atas sofa sambil fokus pada tab di tangannya.
"Yes!!!" seru Risa yang tiba-tiba bersorak gembira, bahkan sampai meloncat-loncat di atas ranjang.
Hilman menatap Risa dengan kesal, apa lagi Risa meloncat di atas ranjang miliknya. Hingga membuat kasurnya berantakan.
"Hey monyet, ini rumah bukan hutan!" tegur Hilman.
Risa langsung berhenti meloncat dan menatap Hilman dengan tajam, "Anda bilang saya monyet?"
"Iya, apa kau juga tuli!"
"Kalau saya monyet!" Wajah Risa yang serius tiba-tiba tersenyum, "Anda sudah menikahi monyet, berarti anda juga monyet tuan kaya... Ahahahhaha....." Risa mulai mengejek Hilman, apa lagi melihat wajah Hilman yang kesal padanya bagaikan hiburan tersendiri bagi Risa untuk melepaskan rasa jenuhnya.
"Dasar aneh!" kesal Hilman.
"CK...." Risa tidak ambil pusing dengan wajah Hilman, menurutnya itu bukan hal yang penting dan tidak perlu di pikirkan, "Ye....aku di terima kerja!!!" kata Risa bersorak gembira, karena ia sudah mendapatkan pekerjaan.
"Panas banget sih," Risa mengambil remote AC dan menaikan suhunya, "Nah kan adem," gumam Risa.
"Hey, ini kamar ku. Kenapa kau yang berkuasa?!" geram Hilman, sebab ia tidak suka suhu AC yang terlalu dingin.
"Ish.....apasih!!" Risa tidak mau mengalah, ia menyimpan remote AC di belakang tubuhnya.
"Kembalikan!!" pinta Hilman.
"Enak aja!!!"
Hilman terlalu kesal karena Risa yang sangat lancang, menurut Hilman saat ini Risa harus di bawah perintah nya, "Kembalikan!!!"
__ADS_1
"Enggak, ini sudah jadi kamar kita berdua!!!" Risa yang terbiasa dimanja dan mendapatkan apa yang ia inginkan tentu saja tidak akan mau mengalah begitu saja, "Aku juga berhak!"
"Kembalikan!" Hilman terus berusaha mengambil remote AC dari tangan Risa, sampai akhirnya tanpa sadar Risa terlentang di atas ranjang dan Hilman yang berada di atas tubuhnya, bahkan dengan bibir Hilman yang menyentuh bibir Risa.
"Daras tidak waras!!!" Risa mendorong Hilman dengan cepat dari atas tubuhnya.
Hilman juga tersadar dan ia cepat-cepat bangun, "Aku tidak sengaja, dan tidak Sudi mencium mu!"
Risa turun dari atas ranjang dengan nafas yang naik turun, "Apa kau pikir aku Sudi, kau itu sudah mengambil ciuman pertama ku!!" seru Risa dengan penuh amarah.
"Ahahahhaha....." Hilman tertawa mendengar kata-kata Risa.
"Dasar gila!" gerutu Risa.
"Kau bilang ciuman pertama?" tanya Hilman dengan terkekeh seolah mengejek Risa, "Aku tidak yakin, apa lagi dengan pakaian mu yang seperti wanita tidak berharga diri begini!" ejek Hilman dengan menatap remeh Risa.
Risa mendongkak, tubuhnya Memang tidak terlalu tinggi dengan dress mini di tubuhnya ia terus semakin mendekat, "Maksud anda aku ini wanita liar?" tanya Risa.
"Entahlah tapi kau dapat menyimpulkan nya," jawab Hilman dengan remeh.
"Iya, dan apakah kau tidak tertarik pada wanita liar ini?" tanya Risa sambil terus menatap Hilman, bahkan sedikit mencondongkan dadanya. Sebenarnya ini bukanlah Risa, tapi mengingat kata-kata Hilman begitu menusuk, tentu saja Risa tidak ingin mengalah. Sebab harga diri di atas segalanya, lagi pula Hilman adalah suaminya dan tidak ada yang salah.
Hilman mundur selangkah demi selangkah, tiba-tiba kini ia merasa tidak nyaman. Sebagai lelaki normal ia juga punya hasrat, namun tidak mungkin ia meluapkan nya pada Risa, sekalipun Risa adalah istri sahnya. Sama saja ia menjilat ludah yang sudah ia buang.
Tok...tok....tok....
"Nyonya muda, ada nyonya Hanna di bawah menunggu anda," kata sang pembantu.
"Iya saya akan menemuinya," jawab Risa, kemudian ia kembali menatap Hilman, setelah itu Risa menjauh dan ia pergi begitu saja. Lagi pula ia tadi hanya menggertak Hilman saja, karena ia juga takut jika Hilman benar-benar menantangnya di atas ranjang. Risa masih takut dengan itu semua, apa lagi Hilman tidak mencintai dirinya. Kenal saja baru tadi malam, bahkan masih terus berkelahi tanpa alasan yang jelas sampai sekarang.
__ADS_1
*
Ya ampun tolong ya Kakak semuanya di like dan Vote, tolonglah. Atau saya enggak semangat up.