
Hilman terkejut mendengar penolakan Risa yang jelas begitu terang-terangan, sedikit banyaknya Hilman merasa geram pada wanita yang masih santai duduk di kursi kebesaran nya itu.
"Aku ini bukan hanya atasan mu!" kata Hilman mengingatkan Risa.
"Memangnya apa lagi, selain atasan tuan?" Risa mulai memperbaiki duduknya, bahkan ia mulai bersandar dan menaikan kakinya ke atas meja. Sebenarnya Risa tahu itu tidak sopan, tapi hanya tidak ingin terlihat lemah Risa merasa tidak masalah. Sebab ia tidak suka di rendahkan, apa lagi dengan lelaki yang baru ia kenal seperti Hilman.
Hilman terkejut melihat tingkah Risa yang semakin menjadi-jadi, bahkan kaki Risa yang mengarah padanya, "Aku ini suami mu! Mungkin kau lupa, biar aku ingatkan!" Hilman mengangkat sebelah alisnya, seakan kali ini ia menang dan tidak salah.
"Ahahahahah......apa iya?" tanya Risa dengan terus di selingi tawa kecil, "Aku hampir saja lupa, untung anda ingatkan," ejek Risa lagi, "Menikah, menjadi pengantin pengganti. Tapi dituduh mendapatkan bayaran dan menikah karena uang, ada ya orang seperti itu. Sudah di tolong bukan bilang terima kasih malah ingin menindas," Risa menyindir Hilman, ia hanya menatap kukunya tapi kata-kata yang di keluarkan untuk menyadarkan Hilman.
"Turunkan kaki mu!" geram Hilman.
"Kenapa?" tanya Risa santai.
"Sial!" Hilman rasanya kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan Risa, bahkan berdebat dengan wanita dihadapannya hanya semakin membuat tekanan darah tinggi nya naik.
Drettt.
Ponsel Risa berdering, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan berharap yang menghubunginya adalah Doni. Sebab ia sudah sangat lapar, dan ingin segera makan siang. Tanpa perduli pada Hilman yang menatapnya, Risa terus berbalas pesan.
"Ok...." Risa menurunkan kakinya dari atas meja, ia berdiri, "Saya pamit tuan, sudah waktunya makan siang. Katanya punya suami tapi sayang, cuman istri tidak di anggap," celetuk Risa.
Risa berjalan menuju pintu, dan melewati Hilman yang menatapnya dengan tajam. Tanpa perduli ia langsung berjalan, namun saat ia akan membuka pintu tiba-tiba pintu sudah terbuka duluan dan seorang wanita dengan paras cantik langsung melenggang masuk.
"Sayang, apa kabar?" sapa Prea dan langsung memeluk lengan Hilman.
Risa menatap dari jarak beberapa meter, ia tersenyum miring saat melihat Hilman melihat kearah nya. Setelah itu Risa keluar begitu saja, bahkan tanpa perduli ataupun mau tahu siapa wanita yang tengah bersama Hilman.
"Prea cukup!" Hilman mendorong Prea agar menjauh darinya, "Aku sudah beristri!" tegas Hilman.
"Sayang, aku tahu kau bukan menikah dengan Hanna kan. Tapi dengan pembantu keluarga Agatha Sanjaya," ujar Prea.
"Tidak usah banyak berbicara, pergi dari sini!" geram Hilman yang tidak ingin lagi terus berhubungan dengan mantan kekasih nya itu.
Prea tidak perduli, ia masih terus mencoba memeluk Hilman. Tapi masih saja sama, Hilman tidak ingin di peluk Prea, "Prea cukup! Dulu saat kita akan menikah kau membatalkan sepihak, sekarang kau datang lagi dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa, keluar dari sini atau tangan ku sendiri yang menyeret mu keluar dari tempat ini!" ancam Devan dengan penuh amarah.
"Ish...." terpaksa Prea keluar dari ruangan Hilman, karena ia tahu Hilman tidak pernah main-main dengan ancamannya, "Sampai kapan aku bisa berjuang untuk mendapatkan nya lagi?!" gumam Prea sambil berjalan keluar dari perusahaan milik Hilman.
Mata Hilman menatap seorang wanita di bawah sana, ia tahu itu adalah Risa bersama seorang karyawan yang bernama Doni. Walaupun ia hanya melihat dari jendela kaca dengan ukuran cukup besar, tapi ia dapat memastikan jika Risa lah yang tengah bersama seorang pria.
__ADS_1
Ting!
Hilman keluar dari lift khusus petinggi perusahaan, kemudian ia keluar dari dalam gedung dan melihat Risa masih berada di sana.
"Bos," sapa Dino dengan sedikit menunduk.
Hilman hanya memasang wajah dinginnya, semua orang di sana sudah tahu tentang Hilman yang tidak pernah tersenyum pada karyawan maupun rekan kerjanya. Dan itu sudah tidak terasa aneh bagi mereka.
"Kau di pecat!" kata Hilman.
"Bos jangan pecat saya, " Dino langsung memohon pada Hilman, karena ia merasa tidak memiliki salah.
"Bukan kau, tapi wanita ini!" Hilman menatap Risa.
Dino beralih menatap Risa, ia bahagia karena bukan dirinya yang di pecat. Tapi ia juga tidak ingin Risa di pecat, karena itu artinya ia tidak bisa bertemu dengan Risa setiap harinya.
"Anda memecat saya tuan?" tanya Risa.
Hilman diam, tanpa reaksi apapun. Dan Risa menganggap itu adalah jawaban iya dari Hilman.
"Alhamdulillah.... akhirnya aku di pecat" Risa tersenyum, bahkan langsung bersujud karena merasa bahagia.
Risa tersenyum dan menunjukan dua baris gigi rapinya, "Tidak apa, aku kan bisa cari kerja di tempat lain," kata Risa sambil cengengesan.
Dino menggaruk kepalanya yang terasa pusing, karena keanehan Risa yang malah bahagia saat di pecat.
"Pergi!" Hilman mengusir Dino, kemudian ia menatap Risa, "Kenapa kau suka di pecat?!"
"Artinya saya tidak akan sering bertemu anda tuan, di rumah, di tempat kerja, dan hanya wajah anda. Saya muak!" jawab Risa dengan pasti.
Hilman tidak menyangka saat mendengar jawaban Risa, banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Tapi tidak dengan Risa, hingga membuat Hilman malah penasaran pada wanita yang tengah bahagia karena di pecat itu.
"Ikut!" Hilman langsung menarik lengan Risa, dan membawanya menuju mobil.
"Ish...." Risa sangat kesal, karena Hilman yang menariknya dengan tiba-tiba membuat tubuhnya yang kecil langsung terhuyung ke depan.
Sampai di sebuah restoran, Hilman langsung memarkirkan mobilnya dan kemudian membuka pintu untuk Risa.
"Ayo mau pesan apa?"
__ADS_1
"Telor ceplok 10 pakek kecap?"
Hilman lagi-lagi terkejut mendengar permintaan Risa, bahkan seorang pramusaji saja sampai menahan tawanya. Apa lagi dengan seragam OG yang di gunakan Risa, membuat orang-orang memikirkan jika ia adalah seorang wanita bisa.
"Yang lain!"
"Tidak usah makan!" jawan Risa santai.
Hilman mendesis, ia memang kesal. Tapi entah mengapa tetap tidak bisa menolak keinginan Risa.
"Buatkan apa yang dia mau!" titah Hilman.
"Tapi tidak ada menu tersebut tuan."
"Mana manager kalian, tolong tanyakan padanya berapa harga restoran ini!" geram Hilman.
Glek.
Sang pramusaji langsung meneguk saliva, "Saya akan meminta chef untuk membuatkan pesanan anda tuan."
Risa ingin tertawa melihat Hilman, tapi kenapa Hilman juga bersikap begitu. Dan lagi-lagi Risa masih sama, ia tidak mau ambil pusing sampai akhirnya ia hanya santai sambil menunggu makanannya datang.
"Mulai hari ini kau menjadi asisten ku!"
Risa tersenyum miring, "Enggak!" tolak Risa.
"Harus mau!"
"Enggak!"
"Mau mu apa?" geram Hilman.
"Di pecat!
"Kalau kau tidak mau, pria itu yang aku pecat juga!" ancam Hilman.
Risa seketika menatap Hilman, dan ia tersenyum penuh misteri, "Ok Anda jadi asisten saya," kata Risa, kemudian ia menutup mulutnya, "Ya..... maksudnya saya jadi asisten anda tuan kaya."
*
__ADS_1
Tolong like dan Vote ya Kak.