
Ada yang bilang, Thor cerita Adam dan Kinanti mana penasaran,
Nih Othor kasih.
****
"Mas tunggu di rumah kita," bisik Adam
Kinanti mengangguk mengerti.
Adam bangun dari duduknya, menenangkan diri dan mengambil tas nya.
"Sayang," suara Renata membuat suasana menegang.
Keputusan yang di ambil Adam benar, andai saja barusan itu terjadi sudah pasti mata Renata jelas melihat apa yang di lakukan Adam dan Kinanti.
Mungkin semuanya juga akan terkuak, kebenaran Kinanti adalah istrinya juga.
"Apa sudah di lepas perban nya?"
Kaki Renata melangkah semakin masuk, melihat jelas tangan Kinanti.
"Sudah Nyonya," jawab Kinanti sudah paya.
"Em," Renata mengangguk dan merasa lega, "ya, sayang, aku sudah tidak lagi merasa bersalah saat kita pergi liburan," Renata bergelayut manja di lengan Adam.
Kinanti terdiam menunduk.
Mengikuti langkah kaki Adam kemana melangkah, bergelayut manja pada suami layaknya pengantin baru yang baru saja menikah.
Itu lah yang dirasakan oleh Renata, ingin terus berduaan saja dengan suaminya. Tanpa ada orang lain, tanpa ada rasa jenuh.
"Sayang, hari ini aku ikut kamu ke rumah sakit, atau kemanapun."
Adam berhenti sejenak, begitu pula dengan Renata yang berjalan di samping Adam.
"Kamu yakin?"
"Iya, emang enggak boleh?"
"Boleh."
Setelah mendapat persetujuan dari Adam, Renata segera masuk kedalam mobil suaminya.
Adam mengambil ponsel dari saku kemejanya mengirimkan pesan kepada Kinanti.
Adam : Mas, ke rumah sakit sekarang, Renata juga ikut.
Setelah mengirimkan pesan Adam segera masuk kedalam mobil menyusul Renata, duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
"Sayang, kita besok jadikan liburannya?"
Sudah berulangkali Renata meminta waktu Adam hanya untuk nya dari awal menikah sampai detik ini.
Sehingga kali ini Adam tidak bisa menolak, karena takut Renata curiga pada nya.
Adam tidak sanggup jika harus kehilangan Renata, sekalipun harus memilih. Adam lebih memilih Renata dari pada Kinanti.
"Jadi," Adam mengelus kepala Renata, kemudian kembali mengemudi.
Sampai di rumah sakit keduanya berjalan beriringan, bergandengan tangan dengan mesra.
Siapa yang tidak tahu Renata, anak seorang pengusaha sukses yang kini menjadi istri dokter Adam Agatha Sanjaya. Sekaligus pemilik rumah sakit Pelita Bunda.
"Selamat pagi Dok."
"Selamat pagi Ibu Renata."
Beberapa rekan kerja Adam menyapa dengan ramah.
Bahkan beberapa perawatan juga memberikan senyuman.
Semua mata memandang sampai memuji dengan terang-terangan bertapa Renata dan Adam adalah pasangan serasi.
__ADS_1
Satu tampan dan satunya lagi cantik.
Sempurna.
Satu kata yang mewakili perasaan siapa saja yang melihatnya.
"Sayang, kamu tunggu di sini ya," Adam membuka pintu untuk Renata.
Ruang pribadi yang dimiliki Adam cukup nyaman untuk Renata menunggu.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ada jadwal operasi, jadi kamu tunggu di sini."
Renata setuju, segera ia duduk di sofa sambil menunggu Adam, entah berapa lama.
Sementara menunggu Adam, Renata mulai memainkannya ponsel. Mencari sesuatu yang mungkin cukup menarik.
Dua jam berlalu Renata sudah tertidur pulas di atas sofa.
Perlahan pintu terbuka lalu Adam masuk.
"Sayang," Adam berjongkok dan membangunkan Renata.
Kelopak matanya bergerak, dan perlahan manik matanya menatap Adam.
"Adam, aku ketiduran ya," seketika Renata tersadar dan segera bangun.
"Kalau kamu lelah, atau jenuh, sebaiknya kamu pulang saja, aku masih lama," ujar Adam.
Adam kasihan kepada Renata, wajahnya terlihat lelah.
"Aku maunya sama kamu."
"Tapi kalau kamu bosan, jangan dipaksa ya."
"Iya."
Adam duduk di kursi kerjanya, tiba-tiba bayangan wajah Kinanti hadir di benaknya tanpa di sadari.
Kinanti : Iya, Mas.
Adam sejenak mengangkat dagu menatap Renata yang tengah duduk di sofa, meminum teh hangat miliknya.
Kemudian Adam kembali menatap ponsel nya.
Adam : Udah makan siang?
Kinanti : Udah Mas, baru aja.
"Adam, " Renata berjalan kearahnya.
Cepat-cepat Adam memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya, beralih menatap Renata.
"Ada apa?"
"Aku pulang duluan ya, Mama ngajakin bikin kue."
Adam mengangguk dengan sejuta senyum, merasa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kinanti.
Mengingat esok hari ia akan berlibur bersama dengan Renata ke Bali dalam beberapa hari, artinya selama itu pula keduanya tidak bisa bertemu.
"Kamu hati-hati ya, sayang."
Setelah memastikan Renata pergi Adam kembali mengambil ponselnya, menghubungi Kinanti kembali.
Adam : Apa kamu sedang sibuK?
Kinanti : Baru selesai menidurkan Davina Mas.
Adam : Mas juga mau.
Kinanti : Apanya.
__ADS_1
Adam : Di tidurin
Kinanti tidak lagi membalas, entah apa yang terjadi dengan wanita itu hingga ia lebih memilih untuk meletakkan ponselnya pada meja.
Lama menunggu balasan tetapi, sampai saat ini pun tidak ada tanda-tanda.
Adam memutuskan untuk kembali mengirim pesan.
Adam : Kamu datang ke sini.
Kinanti : Kemana?
Adam : Rumah sakit, Mas tunggu.
Setelah menunggu selama 40 menit akhirnya Kinanti tiba juga di rumah sakit.
Setelah turun dari taxi Kinanti segera mengirim pesan pada Adam.
Kinanti : Mas, Kinanti udah di rumah sakit.
Bibir Adam tersenyum, entah sadar atau tidak
tetapi saat ini Adam begitu bahagia.
Adam : Langsung ke ruangan Mas.
Kinanti : Di mana.
Adam lupa jika Kinanti tidak pernah ke ruang pribadinya, saat beberapa hari lalu Adam membawanya hanya sampai di tempat praktek.
Adam : Tunggu, Mas di IGD.
Kinanti mulai berjalan menuju IGD menantikan Adam.
"Kinanti," terdengar suara seorang wanita yang menyapa dirinya.
"Nyonya Renata?"
Kinanti benar-benar shock dengan kehadiran Renata, tiba-tiba muncul di hadapan nya.
"Hey, biasa saja," Renata menepuk pundak Kinanti dengan rasa penasaran, "aku manusia, jangan-jangan kamu tadi mikir kalau aku setan!"
Tebak Renata asal.
Kinanti tersenyum kecut dengan rasa bingungnya.
"Ngomong-ngomong kamu ada apa ke rumah sakit?"
Glek!
Kinanti meneguk saliva dengan susah payah, apa yang harus Kinanti katakan.
Adam mulai terlihat di depan sana, mata keduanya bertemu walaupun dari jarak cukup jauh.
"Kinanti, kamu kenapa sih?" Renata lagi-lagi menepuk pundak Kinanti, merasakan ada yang janggal.
Tubuh Renata memunggungi Adam, hingga keduanya tidak saling melihat.
"Sa-saya."
Apa yang harus Kinanti katakan, bahkan Adam semakin mendekat ke arahnya dan Renata.
"Apa sih? Kamu ngapain ke sini, atau tangan kamu masih sakit?"
Kinanti tidak lagi mendengar apapun pertanyaan Renata, ia hanya bingung karena sedikit lagi Adam akan sampai padanya.
"Kinanti, kamu kenapa?" Tanya Renata lagi dengan kebingungan.
"Aku....." Kinanti hanya diam sambil berdoa semoga saja tidak akan ada hal buruk yang menimpa dirinya.
Ataupun ada yang tiba-tiba muncul menolongnya.
Mungkin kah?
__ADS_1
Batin Kinanti menjerit meminta tolong pada siapapun.
Renata berbalik.