
"Waktunya tiup lilin," Oma Sarah tahu di antara Hanna dan Devan mulai ada keterangan, ia merasa itu wajar. Sebab permintaan Davina yang cukup aneh.
"Yuk," Davina tersenyum dan menampakan gigi ompong nya, ia tidak lagi mengingat permintaan nya.
"Lho dek gigi kamu di mana?" tanya Hanna yang baru menyadari jika gigi bagian depan putri nya sudah tidak ada.
"Copot tadi Ma, pas bikin kue," jelas Davina, "Memang giginya juga udah goyang-goyang Ma," kata Davina lagi.
"O," Hanna mengangguk.
"Dasar Nenek!" ejek Adam
"Enak aja, Davina itu masih kecil!" geram Davina, keduanya memang sangat dekat. Tapi tidak jarang juga keduanya terlibat pertengkaran kecil.
"Kecil apanya, orang ompong itu ya Nenek!" kata Adam lagi yang sangat suka menjaili Davina.
"Oma!!!!" seru Davina kesal.
"Adam," Oma Sarah menatap Adam kesal, karena Adam sangat suka mengganggu cucu kesayangan nya.
Devan tersenyum, ia merasa ternyata selama ini sudah kehilangan saat-saat yang membahagiakan seperti ini. Melihat pertengkaran kecil Adam dan Devan artinya keduanya sangat dekat, dan Devan iri akan hal itu. Sebab ia belum sedekat itu dengan anak-anak nya, tapi Devan juga bersyukur Adam sangat menyayangi anak-anaknya. Sampai akhirnya Adam bersedia di panggil Ayah, agar Derren dan Davina merasa memiliki orang tua yang lengkap.
"Ompong!!" ejek Adam lagi yang tidak mau kalah.
"Mbak Kinan Ayah bilang I love you!!!!" teriak Davina.
"Mmmmfffffpp......" Devan menahan tawa melihat anaknya yang lucu.
"Dasar suntelkenyut!!!!" Adam langsung mengangkat Davina, dengan kaki di atas dan kepala ke bawah.
"Wahahaaaa....." Davina bukannya takut tapi malah tertawa dengan kencang, sebab itu memang biasa terjadi di antara keduanya.
"Sudah.....sudah," Oma Sarah mengambil Davina dari tangan Adam, dan ia langsung memeluk cucunya.
"Ayah kemarin ngintip Mbak Kinan!" ujar Davina.
Sarah mengangkat sebelah alisnya, karena Davina tidak pandai berbohong. Lagi pula Davina biasanya hanya mengatakan apa yang ia lihat, ataupun apa yang orang lain ajarkan padanya.
"Kamu ngintip Dam?" tanya Oma Sarah.
__ADS_1
"Mama juga, suntelkenyut ini di dengarkan!" Adam ingin merebut Davina kembali, tapi tidak bisa, "Kamu kalau ngomong jangan asal ya, kemarin itu Ayah enggak sengaja masuk ke toilet dapur. Dan ternyata ada Mbak Kinan di sana," jelas Adam.
"Ngintip! Kamar mandi di kamar Ayah ada kenapa harus ke dapur!!!" ejek Davina yang tidak mau mengalah.
"Bener tu Dam, kenapa harus ke kamar mandi dapur!" timpal Oma Sarah.
"Kamar mandi Adam kemarin di kunci sama ini suntelkenyut, dan dia lupa di mana narok kuncinya. Akhirnya Adam ke toilet dapur," jelas Adam sambil berusaha merebut Davina.
"Davina apa itu benar?" tanya Hanna, "Mama enggak suka kalau ada orang tukang bohong."
"Hehehe bener Ma, tapi Davi enggak bohong kalau Ayah ngintip Mbak Kinan," kata Davina lagi karena ia merasa benar.
"Enak saja!" geram Adam.
"Sudah.....sudah," kata Oma Sarah dengan sedikit pusing, "Kapan kita tiup lilin kalau bertengkar terus?" tanya Oma Sarah.
"Ayah ayo tiup lilin," Davina melepaskan diri dari pelukan Oma Sarah, kini ia memegang tangan Adam.
"Huuuufff...." Oma Sarah menarik nafas dengan panjang, karena Adam dan Davina sekarang sangat baik dan tidak pernah berkelahi lagi seperti barusan.
Lagu ulang tahun pun segera di nyanyikan, kemudian di lanjutkan dengan tiup lilin.
Piuh..
"Horeee!!!!!" seru yang lainnya.
"Ayo potong kue nya," kata Oma Sarah.
Davina tersenyum dan ia mulai memotong kuenya, setelah kue nya terpotong. Dan Oma Sarah membantu Davina untuk meletakan nya pada piring.
"Ayo kasih Mama atau Papa dulu kuenya?" tanya Oma Sarah.
Davina sejenak diam dan ia bingung harus menyuapi yang mana terlebih dahulu.
"Kok diam?" tanya Adam.
"Davi bingung mau suapin Mama atau Papa duluan, soalnya Davi sayang dua-duanya," jawab Davina.
Devan terharu dengan jawaban Davina, ia padahal sudah lama pergi. Tapi tetap saja Davina begitu menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Davina suapin Mama aja dulu, terus Oma. Papa terakhir aja," ujar Devan karena ia merasa belum pantas di sayangi begitu besar oleh Davina.
"Emmmm.... padahal Davi sayang sama Papa," Davina tertunduk sedih.
"Ya udah sekalian aja, Davina pegang kue nya di kedua tangannya terus sekalian suapin Mama dan Papa," usul Oma Sarah.
Davina tersenyum, "Iya Oma, Davina setuju," jawab Davina karena merasa menemukan jalan keluar dari kebingungan nya.
Kini di tangan kanan Davina memegang kue dan tangan kirinya juga memegang kue, dengan Devan yang berada di kanan dan Hanna di sebelah kiri.
"Ayo Ma, Pa," kata Davina, kini ia berdiri di atas kursi agar lebih tinggi.
Hanna dan Devan merasa itu tidak masalah, sebab keduanya tidak makan kue dalam satu potong yang sama. Lagi pula keduanya masih cukup memiliki jarak, namun saat Hanna dan Devan mulai mendekat tiba-tiba Davina tertarik ke belakang. Dan kaki Hanna tiba-tiba ada yang menendang, hingga hal mengejutkan justru terjadi. Karena malah bibir Hanna menempel pada bibir Devan.
Cup!
Hanna dan Devan shock, karena posisi mereka. Dengan cepat Hanna menjauh begitu juga dengan Devan.
"Ooouu...." kata Davina.
Adam segera menutup mata Davina, "Ini khusus orang dewasa, anak di bawah umur dilarang keras," bisik Adam.
"Ish...." Davina kesal dan ia tetap mencoba membuka mata, tapi sayang Hanna dan Devan sudah berjauhan.
Agatha dan Sarah menunduk, karena keduanya merasa lucu dan juga sedikit terkejut melihat apa yang barusan terjadi.
Hanna menatap sekitar nya, dan ia merasa malu sekali atas apa yang barusan terjadi. Dan itu terjadi karena Adam yang menarik Davina kebelakang, kemudian menendang bagian kaki Hanna. Hingga akhirnya bibir Devan dan Hanna saling berbenturan.
"Adam!!!!" geram Hanna.
"Main Sosor aja!" kata Adam sambil bersiap-siap untuk melarikan diri, "Kak, Dev menang banyak nih," ejek Adam lagi.
Devan sangat malu sekali, tapi sungguh ini membuat jantung nya berdebaran.
"Dasar gila!" geram Devan.
"Hehehe....." Adam langsung melengos pergi, karena ia tidak ingin menjadi sasaran amukan Hanna dan Devan.
"Sudah....sudah, ayo kita lanjutkan acara selanjutnya," Oma Sarah sebenarnya masih menahan tawa, tapi mau bagaimana lagi. mungkin sebentar lagi ia akan tertawa dengan kencang. Karena adegan yang barusan di pertunjukan Devan dan Hanna.
__ADS_1
"Hanna ke kamar dulu Ma," pamit Hanna.
Hanna cepat-cepat pergi, dan kemudian ia masuk kemar. Sampai di kamar Hanna mencuci wajahnya, "Jantung ku kenapa ya?" Hanna memegang dada yang terus saja berdebaran, "Cuci muka lagi," Hanna kembali mencuci wajah berharap dengan begitu ia bisa menenangkan dirinya yang mulai tidak karuan.