
"Aku harap kamu mau, usia aku udah tiga puluh satu tahun. Aku udah enggak muda lagi, enggak ada waktu untuk main-main lagi," jelas Hilman lagi, sebab ia ingin segera memiliki seorang istri.
Deg.
Devan yang berdiri di kejauhan mendengar dengan baik apa yang tengah di bicarakan oleh Hanna dan Hilman, rasanya Devan tidak sanggup dan ia langsung saja pergi. Sebab melihat wanita yang kita cintai bahagia adalah suatu kebahagiaan tersendiri, walaupun cukup menyakitkan.
"Devan," Sarah menepuk pundak Devan, kemudian ia melihat Hanna dan Hilman tengah duduk berdua. Sarah dapat menebak perasaan yang ada di hati Devan, tapi ia tidak ingin ikut campur lagi dalam urusan pribadi anak-anak nya. Sarah hanya ingin yang terbaik saja, sebab ia tidak ingin lagi kehilangan anak-anak nya.
Devan tersenyum pada Sarah, "Devan pergi dulu Ma," pamit Devan.
"Kamu mau kemana lagi, rumah mu di sini," kata Sarah yang mulai panik.
Devan menarik nafas dan menatap Sarah dengan wajah serius, kedua tangan Devan memegang kedua lengan bagian atasnya, "Devan enggak bisa tinggal di rumah ini lagi, tapi. Devan janji Devan bakalan sering temuin Mama, Devan janji dan Mama boleh pegang janji Devan," kata Devan agar Sarah tidak lagi was-was apa lagi merasa sedih.
"Apa itu benar?" Sarah mendongkrak dan menatap Devan dengan pandangan yang berkaca-kaca.
Devan menangkup wajah Sarah dengan kedua tangannya, "Devan janji, Devan bakalan sering nemuin Mama. Devan ada pekerjaan sekarang, lagian Devan juga mau dekat dengan anak-anak Devan, jadi Devan akan sering kesini....liat anak-anak dan lihat Mama juga," ujar Devan lagi meyakinkan Sarah.
"Kamu janji?"
"Asal Mana sembuh, kalau Mama sakit begini. Kurus begini, Devan enggak akan mau jenguk Mama," jelas Devan.
Sebenarnya itu hanya kata-kata saja, agar Sarah tidak terus bersedih karena memikirkan dirinya. Sebab Devan akan merasa bersalah jika Sarah terus sakit karena memikirkan dirinya, Devan sangat menyayangi Sarah bahkan sayang Devan pada Sarah jauh lebih besar dari pada sayangnya lada ibu kandungnya. Sebab Sarah lah wanita yang sudah lama ia panggil Mama, walaupun kekayaan Arsielo Anderson jauh lebih besar tapi menurut Devan Sarah jauh lebih berharga.
"Mama enggak akan sakit lagi, kalau kamu enggak tinggalin Mama lagi," jawab Sarah.
Hanna mulai melihat ternyata beberapa meter dari nya ada Sarah dan Devan, ia perlahan mendekati Sarah dan Devan yang tengah berpelukan.
"Mama kenapa?" tanya Hanna, ia takut bila Sarah tengah kesakitan.
"Enggak papa, Mama cuman kangen sama Devan," jawab Sarah sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Devan pamit dulu, besok Devan ke sini lagi," kata Devan sambil mengangkat tangannya, ram mengarahkan jari kelingking nya pada Sarah. Sebab itu adalah kebiasaan keduanya sejak Devan kecil.
"Janji," Sarah mengikatkan jari kelingking nya pada jari kelingking Devan.
"Enggak boleh nangis lagi, tadi udah janji," Devan kembali memeluk Sarah.
"Iya," Sarah mengangguk dan merasa bahagia.
"Hanna saya pamit, besok saya ke mari lagi. Tolong ijinkan saya bertemu anak-anak, dan Mommy dari Italia juga akan datang ke Indonesia untuk melihat kedua cucunya, dan sekali lagi tolong ijinkan," pinta Devan penuh harap.
Hanna tersenyum, menurut Hanna tidak ada yang salah dengan keinginan Devan barusan, "Silahkan," dengan hati tanpa beban sedikitpun.
"Saya permisi," pamit Devan.
"Papa!!!" seru Derren.
Devan tersenyum dan ia dengan cepat mendekati Derren dan menggendong putra nya yang sudah berusia 5 tahun itu. Devan juga menciumi pipi gembul Derren.
"Papa kok pulang?" tanya Derren sebab ia sempat mendengar saat Devan berpamitan.
Derren diam dan tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bingung menatap Devan.
"Besok Papa bawakan mainan yang banyak, Derren mau mainan apa?" tanya Devan.
"Apa aja Pa, kata Ayah Adam Devan boleh mainan apapun asal bukan perasaan," jawab Derren.
Devan, Sarah dan Hanna merasa lucu dengan jawaban Derren. Dan itu memang ulah Adam, karena Adam memang sangat lucu sekali.
"O, begitu," kata Devan sambil menahan tawa, "Tapi Papa harus pamit, Papa harus kerja dulu, besok Papa janji datang lagi," kata Devan.
"Iya Pa."
__ADS_1
Setelah berpamitan pulang pada Sarah, kemudian Derren. Devan langsung pulang.
Sampai di hotel Devan menyandarkan tubuhnya, ia merasa kepalanya sangat pusing karena memikirkan Hanna dan Hilman yang seperti nya sudah sangat dekat. Bahkan Hilman sudah mengutarakan niat baiknya.
"Kenapa Bos?" tanya Farhan yang melihat wajah Devan begitu murung, "Apa karena tadi Hanna di lamar Hilman?"
Devan langsung melihat Farhan yang kini duduk di sofa dengan saling berhadapan dengan nya, "Apa kau kembali jadi mata-mata?!"
"Tidak juga, tapi tadi tanpa sengaja saya melihat bos ikut turun menyusul Hanna yang sudah duluan berjalan ke taman belakang. Tapi bos enggak jadi ikut gabung dengan mereka waktu dengar mereka sedang bicara apa."
Devan diam dan apa yang di katakan oleh Farhan memang benar adanya, entah sampai kapan ini akan terjadi. Bahkan Devan bingung sendiri, "Apa mungkin aku dan Hanna tidak ditakdirkan bersama? Lalu kenapa aku tidak pernah bisa hilang dari bayangan-bayangnya. Padahal aku dengan susah payah terus berusaha melupakan nya, tiga tahu bukan waktu yang sebentar untuk menghilang dari Hanna. Tapi kenapa rasa itu masih ada," Devan benar-benar tidak mengerti dengan dirinya, entah sampai kapan ia bisa bertahan dalam cinta yang terus menggebu namun hanya bisa di tahan.
Farhan mengangguk dan mengerti dengan perasaan Devan, "Tapi janur kuning belum melengkung bos, artinya masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan Hanna," ujar Farhan memberikan semangat.
"Entahlah Farhan! Aku pusing sekali," Devan tertunduk dan mengusap wajahnya, "Kau tidak ingin menikah?" tanya Devan.
"Pengen si jelas bos, ini juga sedang usaha," Farhan tersenyum sambil membayangkan wajah wanita yang ia sukai.
Devan merasa geli dengan senyuman Devan, "Siapa wanita itu?" tanya Devan penasaran.
"Dia cantik, manis, imut tapi sedikit galak. Tapi tidak apa, aku tetap menyukainya," jawab Farhan sambil menutup mata.
"Dasar gila," kesal Devan.
"Demi cinta apapun."
"Siapa wanita yang kau sukai?" tanya Devan penasaran, sebab ia baru tahu ternyata Farhan sudah jatuh hati pada seorang wanita.
"Ada di sana," Farhan tidak ingin memberitahukannya saat ini, sebab menurut Farhan ini bukan waktu yang tepat.
"Dasar gila!" Devan menepuk pundak Farhan.
__ADS_1
"Aku memang sudah tergila-gila padanya bos," Farhan merentangkan kedua tangannya seolah sudah terbang ke awan menggapai cintanya.
Devan berjalan ke arah jendela, ia memandang malam yang gelap namun banyak bintang yang bertaburan di langit, Devan tersenyum menatap wajah Hanna yang seakan tersenyum padanya.