
"Hebat juga dia, hidup sesuka hati nya. Bahkan naik ojek, anak Arsielo Anderson naik ojek," Hilman benar-benar tidak habis pikir dengan Risa, ia bahkan tidak menyangka ternyata menikahi anak seorang konglomerat. Tapi yang anehnya Risa malah terlihat seperti orang biasa, bahkan pakaian yang dipakai Risa pun bukanlah barang-barang bermerek.
Kini Hilman tidak ingin terlalu memusuhi Risa, sebab ia sadar ternyata Risa lah yang sudah berkorban untuk dirinya. Bahkan Risa sudah menyelamatkan nama baik ibunya, namun tiba-tiba sepeda motor yang di tumpangi Risa berhenti dan Hilman dari kejauhan juga menepikan mobilnya.
"Kok berhenti Mas?" tanya Risa sambil beranjak turun dari atas sepeda motor.
"Maaf mbak ban motor saya kempes," pria tersebut menunjukan ban motor bagian belakang.
Risa juga melihat jelas dan ia mengeluarkan uang dari tas tangan miliknya, "Ya udah saya jalan aja Mas, mana tau di depan sana ada tumpangan lain," kata Risa sambil memberikan uang pada sopir ojek tersebut.
"Enggak usah, kan mbaknya belum saya antar sampai tujuan," tolak pria tersebut.
"Buat tampal ban," kata Risa.
"Terima kasih, dan sekali lagi maaf Mbak."
Risa terus berjalan kaki, ia merasa cuaca begitu terik dan tidak ada taxi ataupun ojek yang ia temui.
"Kenapa di saat aku butuh kendaraan umum seperti ini malah tidak ada satupun yang muncul, kalau aku tidak menunggu maka kendaraan umum itu berlalu Lala," gerutu Risa, "Aduh...." kakinya tiba-tiba tersandung, dan langsung terjatuh sampai lutut nya mengeluarkan cairan merah, "Sssssttt....." Risa mendesis karena terasa cukup sakit.
Hilman yang berniat meminta Risa naik ke mobilnya tiba-tiba melihat Risa terjatuh, "Kau baik-baik saja?" tanya Hilman sambil berjongkok.
Risa seketika melihat Hilman, ia terkejut melihat keberadaan suaminya di sana, "Ish masih nanyak!!" ketus Risa, ia merasa Hilman akan mengajaknya berkelahi. Jadi biar ia yang langsung memulai perkelahian.
"CK," Hilman memegang lengan Risa, "Duduk di sana," tangan Hilman menunjukan kursi yang terletak di sisi jalanan.
Risa duduk tanpa banyak bicara, bahkan saat Hilman mengobati kakinya juga ia tetap diam saja karena menahan sakit.
"Selesai," kata Hilman setelah ia mengobati dan menutup luka nya dengan perban.
Risa duduk dalam diam, Hilman yang mengemudi dan ia yang duduk di belakang. Sepertinya saat ini Hilman bukan suami, tapi supir Risa. Pasangan yang aneh namun terlihat lucu, tapi siapa yang akan tau jika keduanya adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah.
"Mana bayaran untuk ku?" Hilman memarkirkan mobilnya di depan rumah, namun setelah itu ia berbalik ke belakang.
Risa tersenyum miring mendengar kata Hilman barusan, tidak ingin mengalah dan tersudut Risa menantang balik Hilman, "Bayaran apa?" tanya Risa.
__ADS_1
"Kau sudah menumpangi mobil ku," jelas Hilman menatap Risa dari kaca spion.
"Mana uang belanja untuk ku, bukankah aku istri mu! Bukankah istri itu berhak atas uang suaminya. Sudah tiga hari ya tuan kaya kita menikah, belum sepeserpun kau memberiku nafkah!" entah nafkah apa yang di maksud oleh Risa, tapi itulah yang ia tahu istri itu mendapat uang dari suami yang di sebut nafkah.
"O, begitu," Hilman mengangguk, kemudian ia turun terlebih dahulu. Dan sesaat kemudian membuka pintu mobil bagian belakang dan ada Risa di sana, "Nafkah apa yang kau maksud?;" Hilman mencondongkan tubuhnya pada Risa, bahkan tanpa jarak, "Sial kenapa wanita ini wangi sekali," batin Hilman. Padahal ia sedang ingin menakutkan Risa, tapi ia malah tidak ingin menjauh.
"Apasih!!" Risa langsung mendorong wajah Hilman dengan tangannya, kemudian menatap Hilman dengan permusuhan.
Hilman tentu juga tidak mau tersudutkan, "Tadi kau bilang nafkah?"
"Uang!" jelas Risa.
"Nafkah batin juga sekaligus!" kata Hilman lagi, baru nafkah uang.
"CK..... enggak usah nafkah-nafkahan aku juga bisa cari nafkah sendiri," Risa langsung turun dari mobil, luka kakinya tidaklah membuat nya serta pincang berjalan, hanya berdarah saja. apa lagi Risa bukan wanita cengeng.
Hilman juga ikut menyusul Risa turun, ia berjalan di belakang tubuh kecil Risa.
Dengan mudahnya Risa melempar tas ke atas ranjang, setelah itu ia juga ikut naik dan mengistirahatkan tubuh lelahnya. Bayangkan saja hari ini pekerjaan nya menyapu dan mengepel, sungguh sangat melelahkan sekali.
Sedangkan Risa sama sekali tidak perduli pada Hilman, ia merasa Hilman itu tiada dan tidak perlu di pedulikan. Kata-kata Hilman juga sudah jelas jika ia tidak akan menyentuh nya, jadi Risa tidak takut sama sekali. Ia berbaring dan mulai memainkan ponselnya.
Hilman yang keluar dari kamar mandi sehabis mencuci wajah merasa aneh, gundukan Risa yang besar terlihat jelas, "Sial!" gumam Hilman dan ia melihat kearah lainnya.
"Tuan kaya, berapa gaji anak buah mu ini perbulan nya?" tanya Risa.
"Berhenti memanggil ku tuan kaya, nama ku Hilman!" kesalnya.
Risa langsung duduk, dan menatap Hilman, "Nama ku Risa," Risa dengan lucunya mengulurkan tangannya.
Hilman menatap tangan Risa yang terulur padanya, "Kau kenapa?" tanya Hilman bingung.
"Dasar bodoh!" seru Risa.
"Kau katakan aku bodoh?!" geram Hilman, "Kau gila!!" balas Hilman.
__ADS_1
"Enak aja!"
"Lalu kenapa tangan mu begitu, mau mencium punggung tangan ku?" tanya Hilman.
"Kenalan," jawab Risa dengan jelas.
Hilman menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena merasa bingung pada tingkah laku Risa.
"Kita pernah kenalan sebelumnya?" tanya Risa.
Hilman menggeleng, mereka menikah tanpa berkenalan bahkan tanpa saling mengenal.
"Nah makanya kita kenalan dulu, lebih baik terlambat daripada tidak, aku Risa si cantik manis dan imut," Risa langsung memegang tangan Hilman yang menggantung di sampingnya, walaupun Risa masih duduk di sisi ranjang dan Hilman berdiri menatapnya. Tapi Risa tetap melihat wajah Hilman dengan mendongkak.
"Dasar aneh," umpat Hilman, "Apa kau tahu nama ku?" tanya Hilman dengan konyolnya nya.
Risa terkekeh dan tersenyum, "Tau pak Presdir. Nama perusahaan bapak Brawijaya, dan nama anda Hilman. Kemungkinan nama tuan kaya itu Hilman Brawijaya!!" tebak Risa.
"Pintar!"
Peltak.
Hilman langsung menyentil kepala Risa, karena baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang aneh seperti Risa. Bayangkan saja mereka sudah menikah selama tiga hari, tapi baru hari ini berkenalan.
"Sakit!!!" kesal Risa dan ia berdiri di atas sisi ranjang agar sama tingginya seperti Hilman, kemudian tangan nya ingin membalas Hilman. Namun tiba-tiba ia hampir terjatuh karena kakinya yang terperosok, dan tiba-tiba Risa Refleks malah memeluk Hilman.
Hilman tahu Risa tidak sengaja memeluk nya, tapi rasanya sangat aneh. Karena gundukan Risa begitu terasa di dada nya, otak Hilman mendadak berpetualang karena ini sudah kejadian untuk kesekian kalinya.
"Maaf ya," Risa cepat-cepat menjauh kali ini ia tahu ia yang salah.
"Em...." Hilman meneguk saliva karena merasa tidak baik-baik saja.
Sedetik kemudian Risa kembali menjauh, dan naik ke atas ranjang namun tiba-tiba ia membuka blazer nya dan hanya memakai tenk top dengan rok mininya. Yang anehnya Risa sama sekali tidak perduli dengan Hilman.
"Sial aku ini juga normal!" gumam Hilman dan i pergi begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Risa sibuk memainkan ponselnya, kata-kata Hilman ia pegang dengan baik. Jika Hilman tidak selera padanya, dan dengan polosnya Risa percaya.