
"Kakak Ipar, nge mall yuk," ajak Risa, ia ingin sekali mengganti ponselnya dengan yang baru, sebab kemarin Hilman tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Hingga retak pada bagian layarnya. Entah mengapa kini Hilman bagai memiliki hobi baru, yaitu memeriksa ponsel Risa dengan diam-diam. Dan sampai saat ini misteri tersebut belum bisa terpecahkan oleh Risa sendiri.
Hanna tidak akan menolak keinginan Risa, "Udah ijin ke suami kah?" tanya Hanna.
"Udah, tadi udah minta ijin," jawab Risa.
Hanna, Risa, Devan dan dua bocah lucu hari ini sepakat untuk berbelanja di mall. Karena atas permintaan Risa. Namun, tanpa di duga Mama Sarah juga mendengar rencana para anggota keluarga nya. Dan ia juga tidak ingin ketinggalan.
"Mama ikut ya," pinta Mama Sarah.
"Iya Ma," jawab Hanna.
Sampai di mall Davina dan Derren langsung bermain dengan banyaknya permainan, sampai kedua merasa lelah dan hari pun sudah menjelang sore.
"Ma, kita makan yuk," ajak Davina.
"Iya," Hanna mengangguk.
Selesai makan Davina dan Derren mencari mainan kesukaan mereka, namun saat di toko mainan tiba-tiba Hanna tanpa sengaja menyenggol seseorang.
"Maaf Mbak," Hanna cepat-cepat minta maaf saat menyadari kesalahannya.
"Sayang kau baik-baik saja?" Devan yang panik langsung memeluk Hanna, Devan benar-benar belajar dari kesalahannya. Hingga kini ia sangat menjaga Hanna.
"Diana?" Hanna terkejut karena ternyata orang yang berbenturan dengan nya adalah Diana sekaligus mantan istri Devan.
Devan yang mengenali nama tersebut ikut melihat arah tatapan Hanna, dan benar saja Diana yang di maksud Hanna adalah orang yang sama.
__ADS_1
"Diana apa kabar?" tanya Mama Sarah dengan ramah, sebab bagi Sarah masalah dulu sudah tidak harus di perpanjang lagi. Mengingat dulu mereka juga pernah tertawa bersama, hati Mama Sarah yang tidak pandai menyimpan dendam seakan dengan mudahnya memaafkan begitu saja. Apa lagi ia juga bukan wanita yang baik, namun ia terus mencoba untuk terus berusaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Diana tersenyum sinis, ia bahkan terlihat tidak suka pada Mama Sarah, "Keluarga tidak tahu diri sedang bahagia," kata Diana menyinggung Mama Sarah.
Hanna yang tahu suana tidak baik-baik saja memutuskan ingin pergi, karena hari ini ia benar-benar ingin menikmati kebahagiaan bersama dengan keluarganya.
"Apa maksud mu?" tanya Mama Sarah yang malah geram dengan kata-kata Diana.
Diana menepuk tangannya, hingga mengundang banyak perhatian pengunjung lain di sekitarnya, "Kalian semua harus tahu, wanita tua itu bisa bernafas sampai saat ini karena aku," Diana menunjuk wajah Mama Sarah, "Namun, dia tidak tahu diri dan menggeser posisi ku sebagai menantu karena dia," tangan Diana kini mengarah pada Hanna, "Namanya Hanna, dia parasit dalam rumah tangga ku dan juga dia mantan suami ku!" Diana beralih menunjuk Devan, "Dan kebahagiaan mereka itu karena aku, keluarga penghianat!" papar Diana penuh rasa kemenangan.
"Aku tidak pernah merebut suami mu, jangan pernah kau katakan lagi aku seorang perempuan perebut suami mu!" suara Hanna memang pelan, namun di setiap kata yang ia ucapkan penuh dengan penekanan. Agar Diana Pahan jika tidak pernah ia merebut Devan, dan menjelaskan pada orang-orang yang menonton mereka jika apa yang di katakan Diana tidak benar.
"Lalu apa nama wanita yang masuk ke dalam rumah tangga orang lain?" tantang Diana, "Pe...la...kor...." Diana tersenyum penuh rasa bangga, sebab kaki ini ia ingin membuat Hanna malu.
Plak!
Tangan Hanna seketika melayang di udara dan berakhir pada wajah Diana.
"Diana, cukup sudah drama yang kau mainkan. Jangan sampai kau menyianyiakan kesempatan untuk melanjutkan hidup mu dengan baik!" timpal Devan, di sana banyak orang dan tentu saja nantinya akan menjadi topik hangat bila ia langsung melawan setiap kata yang di ucapkan Diana.
Diana merasa amarahnya sudah tidak terbendung lagi, "Kalian semua harus tahu, dia Ayah dari anak ku karena pelakor itu sekarang dia sudah tidak lagi mengakui anak ku!" teriak Diana.
"Diana kalau mau ribut jangan di sini, kau seperti orang tidak berpendidikan!" kata Devan memberikan peringatan, "Jangan sampai kau yang malu di hadapan banyak orang, karena memang anak mu itu bukan aku Ayahnya. Aku hanya memiliki dua orang anak, Derren dan Davina. Sedangkan anak laki-laki mu adalah anak dari sopir mu itu!" tegas Devan.
Diana terkejut saat Devan kini beralih memojokkan dirinya, lagi pula ia harus tetap membuat Devan percaya jika putra nya adalah anak Devan. Mengingat Devan adalah seorang pengusaha sukses, bahkan berasal dari keluarga berada. Agar anaknya mendapatkan banyak kekayaan, "Kalian semua penghianat, tidak tahu terima kasih, terutama kau yang berhutang nyawa kepada ku!" kata Diana menatap Mama Sarah dengan tajam.
"Siapa yang berhutang nyawa kepada mu?" Risa yang dari tadi diam saja kini ikut berbicara, ia yang dari tadi hanya duduk menjadi penonton kini berjalan mendekati Diana.
__ADS_1
"Kau hanya pembantu, tidak usah ikut campur!" Diana mendorong Risa, hingga Risa terhuyung ke belakang.
"Risa," dengan cepat Hanna yang berada di belakang Risa memegangnya agar tidak terjatuh.
Risa kembali berdiri, tidak ada penindasan dalam hidup Risa. Yang ada hanyalah keadilan, jika Seorang Hilman Brawijaya seorang pengusaha muda yang sukses saja bisa ia taklukkan lalu bagaimana dengan Diana, "Nama ku Clarisa Anderson, aku adik kandung dari Devan Agatha Sanjaya, atau Devan Anderson. Suamiku Hilman Brawijaya, agar kau tahu itu!" tegas Risa, "Dan....."
Plak...
Plak...
Tangan Risa tiba-tiba melayang bahkan sampai mendarat dengan kencang di kedua sisi wajah Diana.
"Sssssttt....." Diana meringis, ia juga tidak mau kalah. Dengan cepat ia mengangkat tangan dan ingin menampar Risa, namun tangan Devan dengan cepat mencengkram tangan Diana, "Lepas!"
Dengan kasar Devan menghempaskan tangan Diana.
"Itu untuk kau sudah mendorong ku barusan," kata Risa, "Dan jangan lagi kau bawa-bawa hutang budi, hutang nyawa, memangnya aku tidak tahu kau itu hanya seorang parasit yang seakan menjadi penolong untuk Mama Sarah. Memangnya aku tidak tahu kalah Hanna yang mendonorkan ginjal nya untuk Mama Sarah!" seru Risa.
Deg.
Diana benar-benar tidak mengerti mengapa Risa bisa tahu akan hal itu.
"Kau tahu dari mana?" tanya Diana dengan gemetaran.
"Aku Clarisa Anderson, ingat itu!" tegas Risa.
Diana merasa semuanya semakin menyudutkan dirinya, ia lebih memilih pergi dengan cepat karena ia sudah tidak punya muka lagi di hadapan orang-orang.
__ADS_1
Buk!
Mama Sarah langsung terjatuh dan ia sudah tidak sadarkan diri.