Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Ehem Ehem


__ADS_3

Davina begitu bahagia mengetahui akan memiliki adik, dengan cepat Davina berlari ke ruang tamu. Dimana ada Oma Sarah, Opa Agatha, Grenmom, dan Grendad.


"Gn!!!!" seru Davina sambil memeluk Mom Citra.


Semua mata tertuju pada Davina, semuanya tentu saja bingung.


"Gn?" tanya Mom Citra.


"Iya," Davina mengangguk.


"Apa itu?" tanya Oma Sarah yang tidak kalah penasaran.


"GrenMom," jelas Davina.


Semua semakin bingung dengan penjelasan Davina.


"Terus kenapa di singkat?" tanya Oma Sarah yang di angguki oleh Mom Cinta sambil memangku Davina.


"Soalnya, kalau Grenmom ribet. Jadi Davi enggak mau pusing. Manggilnya GM, dan GD."


"Gd? Apa lagi itu?" tanya Mom Citra lagi.


"Grendad," jawab Davina.


"Mmmmfffffpp......" ketiga paruh baya itu benar-benar menahan tawa saat mendengar penjelasan Davina.


"Fhoto copy-an nya Adam," timpal Opa Agatha.


"Persis, tidak mau pusing," tambah Oma Sarah yang sangat tahu seperti apa putra keduanya, lalu Davina yang mewarisinya.


"Tadi Davi, teriak manggil GM kenapa?" tanya Mom Citra, sesuai keinginan Davina yang memanggilnya GM.


Davina menepuk dahinya, "Hampir lupa," Davina cepat-cepat turun dari pangkuan Mom Citra, "Davi bakalan punya adik bayi, kata Mama adik bayinya ada di dalam perut Mama," jelas Davina.


Oma Sarah, Mom Citra, Opa Agatha tersenyum bahagia. Karena seperti nya kebahagiaan mereka semakin bertambah.


"Oya?" tanya Mom Citra.


"Yes GM!" Davina mangguk-mangguk, meyakinkan Mom Citra.


"Waw!"


"Aunty Risa sama Om Hilman mana, Oma?"


"Di kamar, kamu ke sana. Aunty Risa juga akan punya adik bayi. Cepat sana kamu liat!"


Davina mengangguk, dengan cepat berlari menuju kamar yang kini di tempati oleh Risa dan Hilman.


"Aunty!!!"

__ADS_1


Bukan anak Devan namanya jika tidak menjengkelkan, dan itulah yang kini sedang terjadi. Tanpa ia tahu sudah mengganggu pasutri yang sedang melepaskan rindu.


Hilman cepat-cepat bangun, mengusap wajah hingga berkali-kali karena kedatangan Davina di saat yang tidak tepat.


Risa juga cepat-cepat bangun dari tidurnya, padahal tadi ia sedang bercumbu mesra dengan suaminya. Tetapi harus berusaha tenang karena kedatangan bocah yang lucu namun, cukup mengesalkan. Karena datang di waktu yang tidak tepat.


"Aunty!!!!"


"Iya, anak Aunty?" Risa berusaha tetap tenang sambil menatap wajah kesal Hilman.


"Mama mau kasih adik sama Davi, kata Mama Adiknya ada di perut Mama," jelas Davina dengan air liur yang menyembur hingga mengenai wajah Risa.


"Waw, tokcer," Risa tertawa terbahak-bahak, mengingat Hanna jika sudah bersama Devan pasti sudah hamil lagi, "Ahahahhaha....." Risa sampai memegang perutnya, karena tawanya benar-benar sulit untuk dihentikan.


Hilman sampai bingung melihat Risa yang tertawa sampai terbahak-bahak, padahal tidak ada yang lucu menurut nya.


"Apa kau sudah tidak waras?" tanya Hilman bingung.


Risa langsung berhenti tertawa, dan melihat Hilman yang kini berpindah duduk di atas sofa.


"Mas, jadi dulu itu Hanna sama Devan itu ya begitu. Tapi selama mereka masih berstatus sebagai suami istri, Hanna terus saja hamil. Padahal selalu memanas," jelas Risa yang hanya menjelaskan dengan cara yang unik, agar Davina tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.


"Memanas?" tanya Hilman tidak mengerti.


"Nanti Mas tahu sendiri, ada...." Risa menatap Davina yang tengah menatapnya bingung.


Hilman mengangguk mengerti, Davina memang tidak baik untuk tahu hal-hal yang bisa membuatnya menjadi bingung. Apa lagi bocah itu sudah sangat bahagia saat kedua orang tuanya memutuskan untuk bersatu kembali.


"Aunty, Davi bakalan punya adik. Adiknya ada di perut Mama," jelas Davina lagi.


Risa mangguk-mangguk mengerti, "Aunty juga mau punya adik bayi," jelas Risa.


"Tadi Oma juga bilang gitu, apa adik bayinya masih di perut juga?"


"Iya."


Davina memicingkan mata menatap perut Risa, tanpaknya otaknya tengah berpikir keras.


"Davi kenapa?" tanya Risa bingung.


"Adik bayinya masuk lewat mulut, terus ke perut. Terus keluarnya gimana Aunty?" tanya Davina konyol.


Uhuk....uhuk.....uhuk....


Hilman langsung tersedak saat mendengar penjelasan Davina, belum lagi dengan pertanyaan Davina yang begitu konyol.


"Em," Risa menggaruk kepalanya sambil menatap Hilman, sebenarnya ia juga bingung untuk menjelaskan, "Davi tahu dari mana kalau masuk lewat mulut?"


"Sayang, dia hanya anak-anak," Hilman langsung menimpali, agar Davina dengan kecerdasan di atas rata-rata itu tidak semakin mengingat hal-hal tidak pantas pada usia emasnya saat ini.

__ADS_1


"Hehehe....." Risa terkekeh, ia tahu maksud Hilman.


"Tante, Adiknya kalau di perut dimana cara makan nya? Minum susunya gimana? Terus kalau Davi pengen gendong gimana. Apa bisa di tengokin kalau dia masih di dalam?" tanya Davina bertubi-tubi.


"Mampus!" gumam Risa, ia merasa tersudutkan karena pertanyaan Davina yang aneh, "Mas?" Risa menatap Hilman penuh tanya.


"Bisa, kalau di tengok...."


Buk!


Risa langsung melempar bantal guling hingga mengenai dada Hilman, Risa geram karena penjelasan Hilman yang tidak masuk akal.


"Jangan gila ya Mas!!!"


"Apasih?!" Hilman menggoda Risa, padahal ia pun tidak mungkin menjelaskan hal yang berbau dewasa pada Davina.


"Apanya yang di tengokkin?!" geram Risa.


Hilman terkekeh, "Davi cantik, nanti ada waktunya kalau Davina mau tengok Adek bayinya. Kalau udah waktunya dek bayinya lahir terus main sama Davi. Sekarang Davi keluar dulu, Om mau istirahat. Nanti kita main di taman, Davi enggak usah mikirin dek bayinya sekarang. Nanti pasti dede bayinya datang," jelas Hilman dengan gaya bicara yang ringan agar mudah di mengerti Davina, agar Davina juga tidak terus bertanya hal aneh-aneh.


"Iya, Davi ngerti Om. Ya udah Davi keluar, Om istirahat, tapi janji ya nanti kita main?"


"Iya," Hilman mengacak rambut tebal Davina, sambil tersenyum dengan yakin.


"Ok...." Davina mengacungkan jempol dan keluar, tidak lupa ia juga menutup pintu.


Huuuufff.


Risa menarik napas merasa lega, tapi ia mengakui jika Hilman cukup pintar berbicara dengan anak kecil.


"Ayo tadi mikir apa?" Hilman mengunci pintu depan cepat, kemudian kembali naik keatas ranjang.


"Apa?" wajah Risa memerah karena malu, mengingat memang barusan otaknya berpikir hal yang tidak-tidak.


"Hayo??" Hilman mencolek dagu Risa sambil terus mengejek istri.


"Enggak ada!" elak Risa sambil membuang wajah kearah lainnya agar tidak melihat wajah Hilman yang tengah mengejeknya habis-habisan.


"Yakin enggak ada?"


"Enggak ada!" Risa hampir menangis karena Hilman, tapi sebenarnya apa yang di curiga Hilman memang benar. Pikiran minus itu memang sempat ada.


"Ehem.....Ehem," Hilman berdehem sambil berbaring asal di atas ranjang.


"Mas!!!"


"Ehem-ehem....."


"Ish....." Risa yang duduk di atas ranjang langsung memukuli Hilman dengan bantal.

__ADS_1


"Ahahahhaha......"


__ADS_2