Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pura-pura bodoh


__ADS_3

Risa masih saja diam mematung di tempatnya, ia masih sangat bingung antara ikut Hilman atau tidak.


"Hey sedang apa di sana?!" tanya Hilman yang kembali turun dari mobil, karena Risa hanya diam saja.


Risa melihat kanan, lalu ke sebelah kiri. Memutar ke belakang, dan kembali melihat Hilman, "Saya?" tanya Risa.


"Dasar aneh," Hilman kembali menaiki anak tangga, "Pak bawa koper ini!" titah Hilman pada sang sopir agar memasukan koper milik Risa pada bagasi mobil, "Cepat masuk, jangan membuang-buang waktu ku yang berharga!"


"Yang bisa di buang itu uang, bukan waktu. Dasar aneh!" kesal Risa dan kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil Hilman.


Hilman juga ikut masuk, dan duduk di jok belakang bersama Risa yang duduk di sampingnya.


"Ya ampun, aku ini kok ngerasa jadi anak tiri ya. Pagi-pagi itu biasanya dapat sarapan, ini malah kemarahan," gerutu Risa sambil melihat keluar dari jendela mobil.


Hilman tidak perduli dengan sindiran Risa, ia hanya diam sambil memegang dahinya yang terasa pusing. Menikah dengan orang asing karena di kecewakan oleh Hanna sungguh membuat Hilman seakan tidak mengenal orang baik, terutama wanita. Kini hanya ada kebencian pada wanita, karena baginya wanita itu adalah penghianat. Begitu juga Risa yang ia yakin sekali hanya wanita bayaran.


Mobil mulai berhenti melaju, kini mereka sampai di sebuah kompleks perumahan elite. Risa memang sudah pernah ke rumah itu saat hari ia datang bersama dengan yang lainnya, tapi kali ini tanpaknya ia akan menetap di sana dan entah sampai kapan. Sebab ia sama sekali tidak yakin dengan kelangsungan hidup nya bersama Hilman.


"Masuk, apa yang kau lihat di sana!"


"Iya," Risa juga ikut masuk bersama dengan Hilman, dan ia mulai melihat dengan jelas interior rumah tersebut.


"Kenapa menatap rumah ku begitu, kau akan menikmati nya selama kita masih bersama. Karena kau berhasil menikah dengan seorang pengusaha," sergah Devan.


"O, iya....." Risa mengangguk, seolah ia adalah orang miskin yang haus akan harta, "Pura-pura bodoh asik juga sepertinya," batin Risa yang merasa idenya cemerlang. Ia berjalan mendekati sebuah figuran, dan sedikit memegang nya, "Wah ini bagus sekali," kata Risa, sebenarnya ia juga geli dengan tingkahnya. Tapi tidak ada salahnya untuk sekedar menghibur diri, dari pernikahan yang terpaksa itu.


"Dasar kampungan!"

__ADS_1


Risa tersenyum samar saat mendengar kata yang keluar dari mulut Hilman, "Anda pengusaha tuan?" tanya Risa lagi.


Hilman tidak menjawab, ia hanya menatap Risa dengan remeh.


"O," Risa mengangguk dan memasang wajah seolah paham, "Berarti anda tuan kaya dong, kan anda banyak uang. Dan saya akan memanggil anda tuan kaya," ejek Risa.


Hilman tampak tidak suka dengan ejekan Risa, tapi ia tetap maklum karena Risa adalah seorang wanita miskin dengan haus harta. Tidak sepenuhnya Hilman sombong, ia begitu karena belum tahu siapa Risa sebenarnya. Dan Hilman pun sebenarnya tidak sombong pada orang miskin, hanya saja menurutnya Risa adalah wanita busuk yang hanya haus akan uang. Hingga dengan mudahnya Hilman menghina Risa.


"Risa anak Ibu," Sintia mulai menyapa menantunya yang sudah sampai di rumah.


"Assalamualaikum Bu," suka atau tidak, tapi Risa tetap sopan pada Sintia yang kini sudah menjadi ibu mertuanya. Hingga ia mencium punggung tangan Sintia.


"Ayo masuk, kamu pasti belum sarapan," tebak Sintia.


"Bu tuan Kaya itu tidak memberi ku makan," adu Risa sambil memeluk Sintia.


"Dia Bu, Risa sadar Risa cuman pembantu di keluarga Arsielo Anderson. Tapi Risa susah seperti anak mereka, sampai-sampai Tuan Arsielo menikahkan Risa," kata Risa lagi memasang wajah sedihnya.


Sintia seketika semakin bingung, tapi setahunya Risa bukan pembantu di keluarga Arsielo Anderson, melainkan anak kandung. Namun saat Risa mengkedipkan sebelah matanya Sintia mulai paham, ia mengangguk dan tidak ingin mengatakan pada Hilman siapa sebenarnya Risa. Lagi pula Sintia ingin Risa betah tinggal bersama nya, hingga ia menurut saja pada keinginan menantunya itu.


"I....iya, tapi jangan panggil tuan juga. Namanya Hilman, kamu panggil Mas Hilman," pinta Sintia.


"Enakan tuan kaya Bu," kata Risa lagi, sebab ia tahu jika Hilman tidak suka di panggil tuan Kaya.


"Terserah kau saja!" kesal Hilman dan ia mulai menuju kamarnya.


"Hilman!!!" Sintia memanggil Hilman yang sudah menaiki beberapa anak tangga.

__ADS_1


"Iya Bu?"


"Kamu ajak istri mu juga."


"Bu dia tidur di kamar lain saja," tolak Hilman.


"Hilman kamu....." Sintia merasa kesal pada jawaban Hilman dan ia tengah menahan amarah.


Hilman tidak ingin ibunya terkena tekanan darah tinggi mendadak lagi, hingga dengan terpaksa ia mengajak Risa ikut bersama nya, "Tidak Bu, maksud Hilman tadi dia bilang lapar. Jadi nanti saja ke kamar," kata Hilman berusaha memberi alibi.


"O begitu," Sintia mengerti, kemudian ia melihat Risa. Sedangkan Hilman sudah masuk ke dalam kamarnya.


Risa menyelesaikan sarapan pagi dengan baik, ia memang banyak makan apa lagi bisa sedang di landa kesal seperti saat ini.


"Maaf ya Bu, kalau Risa makannya banyak banget," kata Risa dengan tidak enak hati.


Sintia tersenyum, "Kamu suka makan pakai tangan?" tanya Sintia lagi saat tadi melihat Risa makan dengan tangan.


"Iya Bu, dulu Risa enggak suka. Tapi Nenek Risa minta buat nyoba. Dan sampai sekarang Risa suka makan pakai tangan," jelas Risa.


"Em," Sintia mengangguk, dan mengelus rambut Risa, "Terus kenapa kamu pura-pura jadi orang susah di hadapan Hilman?"


"Enggak papa sih Bu, abis Risa kesal aja. Sialnya Mas Hilman kayaknya mikir Risa ini matre," jelas Risa.


"Terserah kamu saja, yang penting kamu betah tinggal sama Ibu. Sekali lagi terima kasih karena sudah bersedia menikah dengan Hilman, Ibu sangat berterima kasih," tutur Sintia lagi penuh haru.


"Bu, sebenarnya Hanna dan Kak Devan itu saling cinta. Kak Hanna berada dalam posisi sulit Bu, dia tidak ingin berdamai dengan masa lalu nya atau menerima Kak Devan lagi. Tapi dia juga masih memiliki cinta untuk Kak Dev, karena tuntutan anak-anak nya akhirnya Kak Hanna bersedia menikah lagi dengan Kak Devan. Sampai saat menikah lagi dengan Kak Devan pun karena dipaksa Bu, jadi tolong jangan benci dia ya Bu. Kak Hanna juga baik dulu Risa kecelakaan dan setelah Risa selidiki ternyata dia yang mendonorkan darah nya untuk Risa. Padahal saat itu kami belum saling mengenal. Kalau tidak salah dia juga baru saja menjalani pendonoran ginjal untuk Ibunya Mama Sarah, padahal itu sangat beresiko sekali. Tapi dia lupa wajah Risa saat itu yang di tutupi perban, sedangkan Risa setengah sadar Bu," jelas Risa saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.

__ADS_1


__ADS_2