Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Seperti semalam


__ADS_3

"Davina Papa di mana?" tanya Agatha.


Pagi ini semua sudah duduk di kursi meja makan, karena akan segera sarapan pagi bersama sebelum melakukan aktivitas seperti biasa nya. Namun Agatha tidak melihat keberadaan Devan di antara mereka, padahal semalam Agatha yakin jika Devan menginap di rumah nya.


"Semalam Papa bobo di kamar Davi, tapi tadi pagi udah enggak ada," jawab Davina.


"Ayo makan," Oma Sarah mulai mengisi piring Davina dan Derren dengan nasi goreng dan telur dadar kesukaan keduanya.


Davina mulai memegang sendok, lalu ia memulai sarapan nya yang begitu nikmat.


"Hanna apa Devan pulang?" tanya Agatha yang kini beralih menatap putrinya.


Dari tadi Hanna sebenarnya merasa takut, dan ia pun ingin menghindari sarapan pagi. Tapi Art barusan memintanya untuk ikut makan bersama dan itu atas perintah Agatha, hingga mau tidak mau Hanna terpaksa makan bersama.


"Hanna enggak tahu Pa," jawab Hanna dengan susah payahnya.


"Lho, bukankah kalian tidur bersama. Kan Papa yang nyuruh," kata Agatha lagi.


Wajah Hanna semakin memerah, perlahan nasi yang ia kunyah sudah terasa tidak enak. Tangan nya mulai meletakan sendok pada piring, sebab suasana berubah semakin horor.


"Davina, kamu enggak bobo sama Mama dan Papa?" kini Agatha beralih menatap Davina.


Davina yang tengah mengunyah makanan dengan lahapnya menggeleng, "Papa enggak mau, padahal Davi udah ajak Papa," jelas Davina.


"Papa sama Mama enggak akan mau bobo sama Davina," timpal Adam.


"Tenapa?" tanya Davina dengan polosnya, dan sedikit cadelnya. Bahkan dengan mulut yang terisi penuh, matanya terus menatap Adam karena ingin mendengar jawaban Adam.


"Karena mereka pengen bobo berdua aja," celetuk Adam.


Uhuk....uhuk... uhuk...


Hanna langsung terbatuk-batuk mendengar kata-kata Adam, dan sungguh pagi ini sangat menyudutkan dirinya.


"Hanna pamit, Pa," Hanna langsung bangun dari duduknya, dan ia ingin pergi.


"Duduk!" titah Agatha tanpa ingin di bantah.


Hanna urung melangkah, dan ia kembali berbalik tapi dengan kepalanya menunduk, "Hanna ada meeting Pa," kata Hanna memberi alibi.


"Hari ini jadwal mu ke puncak, termasuk Devan!" ujar Agatha.


Glek.


Hanna meneguk saliva, karena ia lupa tentang hari ini tapi Agatha tahu. Tidak perduli Agatha tahu dari mana, yang jelas Hanna hanya ingin lolos dari posisinya yang tengah sangat canggung ini.


"Duduk!!" titah Agatha lagi.

__ADS_1


Dengan terpaksa Hanna duduk, walaupun terasa sangat sulit sekali.


"Bagaimana hubungan mu dengan Devan?" tanya Agatha to the point.


"Ya begitu Pa, seperti semalam. Kan Adam yang minta Papa buat periksa mobil Kakak Dev," kata Adam.


Hanna seketika menatap Adam, karena ternyata Adam adalah orang yang sangat bersalah hingga membuat nya tersudut di pagi ini.


"Apa?" Adam menaik turunkan kedua alis matanya, ia sangat bahagia melihat wajah Hanna saat ini, "Seharusnya semalam Papa nikahin aja lagi Kak Hanna sama Kak Dev, atau Adam juga bisa kan jadi walinya," tambah Adam dengan penuh kemenangan.


"Wali di sekolah ya Yah?" tanya Davina tidak mengerti.


"Bukan, Davi pengen punya Adik?" tanya Adam pada Davina.


"Mau dong," kata Davina tersenyum.


"Adam!!!" Hanna langsung beralih menatap Adam dengan tajam.


Adam tersenyum dan menunjukan giginya, karena ia tahu Hanna kini akan meluapkan amarahnya. Dan sedetik kemudian Adam langsung melarikan diri.


"Adam!!!" seru Hanna.


Buuk.


Adam tanpa sengaja menabrak seorang wanita, Kinan adalah pengasuh Davina dan Derren.


"Aaa....." teriak Kinan.


"Mmmmfffffpp....." Hanna juga sangat bahagia melihat wajah Adam saat ini.


"Tuan tolong bangun!" pinta Kinan.


"Sial!" umpat Adam.


"Ayo bangun entar nyaman!" celetuk Hanna.


Adam yang berada di atas tubuh Kinan segera bangun, setelah itu Kinan juga ikut bangun.


"Apa!" kesal Adam menatap Hanna.


"Ahahahhaha.........Azab!!!" seru Hanna sambil tertawa bahagia melihat wajah Adam.


Adam langsung pergi, karena ia tidak ingin terus di ejek Davina dan Hanna.


"Kinan kamu baik-baik saja?" tanya Oma Sarah, sebab mengingat jika tubuh putra nya baru saja menimpa tubuh kecil Kinan.


"Iya, saya ke belakang dulu Nyonya," pamit Kinan, karena badannya terasa sakit, di tambah lagi jus yang barusan ia bawa habis tumpah di bajunya.

__ADS_1


Oma Sarah mengangguk, namun tiba-tiba di sana ada yang kurang.


"Lho, Hanna di mana?" tanya Oma Sarah.


Agatha juga mulai tersadar dan putri memang sudah tidak berada di sana lagi.


"Dasar anak itu!" kesal Agatha.


"Mama tadi kabur Oma, Opa, lari," jelas Derren yang dari tadi diam kini berbicara.


"Kok enggak pamitan?" tanya Oma Sarah.


Derren hanya mengangkat bahunya, karena ia memang tidak banyak bicara dan itu adalah sipat sang Papa yang tidak perduli pada urusan orang lain. Termasuk urusan di dalam tempat tinggal nya sendiri.


"Warisan Devan sudah menurun," ujar Agatha.


Sementara Hanna kini sudah mengemudi dengan kecepatan yang tinggi, demi bisa melarikan diri dari setiap pertanyaan Agatha. Sampai di kantor Hanna memarkirkan mobilnya dengan asal, dan security yang akan memarkirkan mobilnya.


"Bu," panggil Jessie.


Hanna menarik nafas dengan panjang, kemudian ia berusaha untuk tetap tenang.


"Ada apa?!" tanya Hanna dengan wajah dinginnya.


Jessie merasa takut melihat wajah dingin Hanna, tapi ia tetap harus berbicara, "Tadi Tuan Devan kemarin," kata Jessie.


Mendengar nama Devan Hanna langsung tersenyum, bahkan melupakan kemarahan nya, "Oh ya?"


"Iya," Jessie merasa Hanna berubah sekejap saja.


"Terus dia bilang apa?" tanya Hanna tidak sabaran, padahal mereka kini masih berada di lobi.


Jessie menatap tangan Hanna yang memegang kedua pundaknya.


"Ya dia bilang apa?" tanya Hanna lagi dan dengan cepat ia melepaskan tangan nya.


"Katanya Ibu di suruh datang ke hotel Anderson company," kata Jessie dengan bingung.


"Ok, terimakasih," Hanna langsung saja berbalik dan pergi, meninggalkan Jessie yang kebingungan.


"Ada apa Bu Bos pagi ini? Tadi marah-marah, wajahnya garang, tiba-tiba senyum-senyum," gumam Jessie kebingungan. Sebab ia tidak tahu hubungan antara Hanna dan Devan, sebab selama ini tidak ada yang berani bertanya ayah dari kedua anak Hanna.


Sementara Hanna kembali melanjutkan mobilnya, seperti orang gila atau puber kedua yang kembali menyapanya. Hanna seakan begitu bahagia, bahkan sejak semalam Hanna tidak bisa tidur dengan lelap. Bayangan wajah Devan begitu menghantui, bahkan hanya memejamkan mata juga terlalu sulit. Bahkan Hanna sudah bertekad untuk meminta Devan rujuk kembali.


Kaki Hanna mulai melangkah memasuki hotel Anderson company, entah apa yang di pikirkan oleh Hanna tapi kini kakinya melangkah dengan tidak sabaran menuju ruang direktur utama dari hotel Anderson company perlahan Hanna mulai mendorong pintu.


*

__ADS_1


Jeng.. jeng.


Like dan Vote ya Kakak.


__ADS_2