
Hilman cepat-cepat menuruni jet pribadi milik nya dengan tidak sabaran. Sebenarnya jadwal pesawatnya esok pagi. Namun, karena sudah tidak sabar untuk menemui istrinya, Hilman memutuskan untuk kembali dengan jet pribadi miliknya yang memakan biaya cukup besar. Selama kurang lebih 18 jam akhirnya ia sampai di Jakarta, tangannya membawa sebuah paperbag sekaligus ia ingin meminta maaf pada Risa. Karena ia sangat sibuk beberapa hari ini, bibir Hilman semakin tertarik pada masing-masing sudutnya. Ia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari, mata Hilman langsung melihat Ibu Sintia yang duduk di sofa sambil menangis. Hilman bingung, dan bertanya-tanya. Dengan langkah yang pelan dan perasaan bertanya-tanya ia mendekati Ibu Sintia.
"Assalamualaikum Bu," sapa Hilman.
Ibu Sintia seketika tersadar, ia langsung menatap Hilman dengan penuh amarah serta kebencian yang sudah ia tahan beberapa hari ini.
"Untuk apa kau kembali? Pergi saja dan tidak usah kembali ke rumah ini!" sergah Ibu Sintia.
Hilman semakin di buat bingung akan sikap Ibu Sintia, "Bu, ini ada apa?" tanya Hilman, "Risa mana Bu?" Hilman mengedarkan pandangannya dan berusaha menemukan wanita yang ia rindukan beberapa hari ini.
"Risa sudah pergi!" seru Ibu Sintia.
"Pergi?" Hilman sangat bingung dan juga terkejut, "Maksud Ibu bagaimana?"
"Ini semua karena kau!" Ibu Sintia mengambil bantal sofa dan langsung memukuli Hilman dengan membabi buta, "Risa pergi, dan ini karena kau!!!"
"Pergi Bu?" Hilman tercengang saat mendengar kalimat pergi yang dikatakan oleh Ibu Sintia, "Dia pergi ke mana Bu?" paperbag di tangan Hilman langsung terjatuh begitu saja, "Bu?" suara Hilman mulai bergetar saat bertanya kepada Ibu Sintia.
Ibu Sintia mendudukkan dirinya, ia terus menangis sambil mengusap air matanya, "Dia kembali ke Italia bersama kedua orang tuanya, dan kau tahu Hilman?" Ibu Sintia menatap wajah Hilman dengan kesedihan, "Dia pergi dengan membawa cucu ku yang masih berada di dalam rahimnya," jelas Ibu Sintia dengan penuh luka.
Deg.
Jantung Hilman seakan berpacu dengan kencang, ia mendadak gagu saat mendengar penuturan Ibu Sintia, "Bu, maksud nya bagaimana?"
__ADS_1
"Sesibuk apa kau? Risa setiap hari menangis menantikan kepulangan mu, tidak makan tidak tidur, karena menunggu mu!" geram Ibu Sintia, ia bangun dari duduknya dan langsung pergi karena sudah tidak kuat lagi menahan kesal pada Hilman.
Dengan perasaan kacau Hilman cepat-cepat masuk ke kamar, matanya melihat kamarnya dengan begitu berantakan. Mulai dari ponsel yang pecah sampai nasi yang berserakan dilantai, di tambah lagi bingkai foto nya yang pecah juga. Namun, mata Hilman melihat benda kecil yang jatuh di lantai. Dengan perlahan Hilman berjongkok dan mengambil benda tersebut, "Tastpack?" Hilman juga melihat dua garis merah yang muncul, "Risa...." Hilman mencengkram erat benda kecil di tangannya, Risa pergi dengan membawa kandungan nya bahkan tanpa ia ketahui.
Sejenak Hilman terdiam, ia seakan terkejut dengan apa yang kini ia ketahui. Hilman sangat bahagia dengan kehamilan Risa, tapi saat ini ia juga merasa terpuruk karena kepergian Risa. Dengan tergesa-gesa Hilman menuju ruang kerjanya, ia menyalakan laptop dan melihat rekaman cctv yang terpasang di kamar dan di bagian sudut rumah lainnya.
Selama beberapa hari ia sibuk ternyata Risa tidak baik-baik saja, dan apa yang dikatakan oleh Ibu Sintia memang sangat benar sekali. Bahkan di saat ia kembali hanya untuk menginginkan Risa saja terlihat egois, sebab Risa merintih menahan sakit pada bagian perutnya. Lalu Risa menunggunya di depan gerbang sampai hujan turun, dan sampai pada puncaknya Risa berbicara pada bingkai foto nya karena ingin di buatkan sepiring nasi goreng.
Krang!!!
Hilman melempar semua benda yang ada di hadapannya, termasuk laptop yang masih menyala. Ia kesal dan marah pada dirinya, awalnya hanya ingin fokus bekerja dan cepat menyelesaikan pekerjaan tapi ternyata malah membuat Risa terabaikan. Pikirannya hanya ingin terus bersama Risa, dan ia berpikir Risa adalah wanita kuat dan cuek. Hingga dengan bodohnya ia terus bekerja hingga akhirnya ia bisa berlibur bersama, mengunjungi kedua orang tua Risa sambil berlibur di sana.
"Risa, aku tidak bisa bila kau pergi."
"Italia," Hilman mengambil ponselnya dan menghubungi Niko agar segera mempersiapkan keberangkatan menuju Italia, sambil itu ia juga meminta orang untuk mencari tahu alamat kediaman keluarga Arsielo Anderson dengan jelas.
Tidak bisa duduk diam dan menunggu Niko mengenai hasil dari pencarian mereka, Hilman langsung keluar dengan tergesa-gesa dari rumah dan menuju kediaman keluarga Agatha Sanjaya.
Tin..tinnn..
Kemacetan yang terjadi di tengah jalan raya membuat Hilman geram, ia sudah sangat buru-buru tapi malah begitu banyaknya mobil yang terjebak kemacetan. Setelah terbebas dari macetnya Jakarta, Hilman kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak perduli banyaknya pengguna jalan yang kesal padanya, ia terus menambah laju mobilnya. Sampai akhirnya ia sampai di kediaman keluarga Agatha Sanjaya.
"Tante," Hilman langsung masuk, ia melihat Mama Sarah yang tengah bermain dengan Davina.
__ADS_1
"Hilman, ayo duduk," Mama Sarah cukup terkejut dengan Hilman yang datang tiba-tiba, bahkan masuk tanpa salam. Hilman yang terbiasa sopan tidak biasa masuk begitu saja, tapi Mama Sarah tetap menyambut dengan ramah.
"Tidak usah Tante, saya hanya ingin bertemu Devan," kata Hilman mengatakan maksudnya menuju kediaman Agatha Sanjaya.
"Devan di Italia bersama Hanna," jawab Mana Sarah.
"Italia?"
"Iya, Risa....." Mama Sarah menatap Hilman penuh tanya.
Mama Sarah sekilas memang tahu cerita tentang Risa dan Hilman. Namun, ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Saya permisi Tante."
Perasaan menjadi suami yang paling bodoh kini begitu di rasakan oleh Hilman, rasa kesal dan penuh sesal membuatnya menjadi orang bodoh.
Tidak tahu apakah pantas ia di sebut sebagai seorang suami, tapi apa yang ia lakukan sungguh di luar dugaan nya. Ingin menghubungi Risa tapi kemana, ingin menemui Risa sekarang. Namun, Italia tidak sedekat mengerjakan kelopak mata yang langsung membuat dirinya bertemu dengan Risa. Lantas apa yang bisa ia lakukan sekarang? Terpuruk dalam penyesalan yang membuatnya hanyut dalam luka yang begitu dalam.
"Aku suami yang tidak berguna, dan yang bersalah!"
*
Aku enggak tahu ya teman-teman tapi akhir-akhir ini aku ngerasa minder banget sama penulis novel yang udah punya banyak penggemar, kadang aku males up karena ngerasa tulisan aku tidak layak. Sedih banget teman-teman.
__ADS_1