Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Bonus 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari resepsi pernikahan Hilman dan jugal Risa, semua terlihat begitu bahagia dengan suasana pesta yang begitu meriah.


Sekalipun Risa tengah mengandung tetapi resepsi harus di laksanakan, mengingat kini Risa sudah sering mengikuti kemanapun Hilman pergi.


Jadi sudah sepantasnya orang-orang di luar sana tahu siapa Risa, dan begitu juga dengan keluarga besar Risa memperkenalkan Hilman pada semua anggota keluarga yang datang dari Jerman.


"Cie Ayah Adam, Mbak Kinan mana?" ejek Davina dengan gigi ompong nya.


"Dasar suntelkenyut," Adam menarik gemas hidung Davina yang selalu mengejek dirinya.


"Hehehe......" Davina cengengesan dan matanya mulai melirik Kinan yang tengah menata minuman, "Bunda, Ayah kirim salam," seru Davina.


Semua tamu langsung melihat Davina, suara Davina yang melenting seketika mengundang rasa penasaran para tamu undangan.


"Kak Hanna, bawa kecebong Kak Dev sialan ini pergi menjauh dari ku!" kesal Adam sambil mengangkat tubuh kecil Davina untuk diberikan kepada Hanna.


Hanna mulai mengambil alih Davina, tetapi tidak cukup lama menurunkan nya karena tidak sanggup menggendong Davina yang sudah cukup besar. Apa lagi Hanna juga tengah mengandung anak ketiga nya dari Devan.


"Kau yang mengajarkan nya mengerjai orang, dan sekarang kau rasakan akibatnya!" papar Hanna lalu pergi, tanpa membawa Davina.


Adam melirik Davina, kemudian menyentil kepala keponakan kesayangannya itu.


"Ayah rambut Davina rusak," Davina sangat marah bila dandanan yang terlihat begitu cantik, berpadu gaun hijau rusak.


"Centil!" ejek Adam lagi.


"Enak aja, Mbak Kinan!!!!" teriak Davina.


Kinanti yang kini berpindah menatap kue beralih menatap Davina.


"Kata Ayah Adam i love youuuuuu!!!!" seru Davina dengan suara yang menggelegar.


Beberapa tamu undangan mulai berbisik-bisik, bahkan ada yang langsung bertanya pada Sarah.


"Jeng, apa dia calon mantu Jeng?"


Sarah tersenyum lembut, "Tidak Jeng, dia itu hanya pengasuh Davina dan Derren. Tetapi bila Adam dan Kinanti berjodoh juga tidak masalah, tidak ada yang salah kan Jeng dengan seorang pengasuh?" tanya Sarah.


Beberapa teman Sarah mengguk-mangguk membenarkan penjelasan Sarah, walaupun begitu ada juga yang terlihat tidak sependapat dengan pikiran Sarah.


"Iya sih Jeng, pengasuh bayi kan juga manusia," ujar Dita.


"Enggak ah jeng, gengsi. Adam kan tampan, Dokter Obgyn pula," timpal Sifa dengan sinis.


"Tapi Adam kan sudah punya Renata jeng, cantik, baik dan sekelas lah sama kita. Kalau di bawa enggak malu-malu in," Fika juga juga tidak mau ketinggalan.


Sarah tidak menjawab, semua orang bebas berpendapat akan tetapi keputusan adalah hak masing-masing orang.


"Davina, kamu jangan teriak-teriak ini pesta bukan hutan!" kesal Adam.


"Hehehe!" Davina tersenyum dan matanya mulai melirik Risa dan Hilman berjalan menuju pelaminan.


Acara di buka dengan rasa hangat dan bahagia, bagi yang membawa pasangan di wajibkan untuk berdansa.


Devan langsung menarik Hanna, keduanya berdansa dengan begitu mesra di samping Risa dan juga Hilman.

__ADS_1


"Oma kok enggak dansa?" tanya Davina penasaran.


"Oma jomblo," seloroh Sarah sambil terkekeh, karena ia tahu suaminya tidak akan mau di ajak berdansa.


"Oma," Opa Agatha langsung datang dan menarik lengan Oma Sarah, "Opa mau di taruh di mana?" seloroh Opa Agatha.


"Hehehe," Oma Sarah tersenyum dan merasakan bahagia karena Opa Agatha mau berdansa dengan nya.


Hilman tidak pernah bisa beralih dari Risa, entah mengapa wanita tomboi itu benar-benar mengalihkan dunianya.


Rasanya sangat tidak mungkin kini keduanya merasakan resepsi pernikahan, mengingat keduanya terus saja beradu argumentasi.


"Mas apa sih, risih tau," Risa merasa tidak nyaman, saat tatap Hilman terus menatapnya dengan sayu.


Hilman memeluk Risa dengan erat, meluapkan rasa cinta yang tak terbendung, "Aku mencintai mu," bisik Hilman.


Risa tersenyum dan terus melingkarkan tangannya pada tengkuk Hilman.


"Kenapa hanya diam?"


"Memangnya Risa harus ngomong apa?"


"Apa kau tidak mencintai ku?"


"Apa masih perlu bertanya?" tanya Risa.


"Iya mungkin!" jawab Hilman.


"Kalau Mas masih ingin ribut, malam ini Mas tidur sama Kak Dev," ancam Risa.


Hilman langsung meneguk saliva, tidak ingin satu ruangan apa lagi satu kamar dengan Devan lagi.


"Makanya, jangan aneh-aneh."


Semua terus berdansa dengan begitu mesra, sampai tiba-tiba Hanna langsung menarik Risa dari pelukan Hilman.


"Maaf," kata Hanna dengan tidak enak hati.


Hilman mendesus dan mengusap wajahnya.


"Ada apa Kakak ipar?" tanya Risa bingung.


"Aku lagi pengen di dekat kamu, lagi mual deket-deket sama Mas Dev," jelas Hanna, "Dan wangi parfum mu sedikit menenangkan aku," jelas Hanna.


Hanna juga merasa dirinya sangat lebay, tetapi untuk saat ini tanpa alasan yang jelas Hanna begitu anti berdekatan dengan Devan.


Entah apa masalah janin itu dengan sang Papa, hingga saat di dalam kandungan saja sudah bermusuhan.


"Kenapa bisa begitu ya?" tanya Risa bingung.


"Ya," Hanna tersenyum kecut, "Udah enakan, aku permisi. Sekali lagi maaf ya," Hanna melepaskan lengan Risa, kemudian pergi setelah merasa lebih baik.


"Sayang," Hilman kembali menarik Risa dan melanjutkan dansa yang sempat terhenti, "Hanna kenapa ngidam nya begitu?"


"Kok nanyain sih? Atau Mas masih sayang sama Hanna?" tebak Risa emosi.

__ADS_1


"Risa sayang, maaf. Jangan ngambek, kamu segala nya, pertanyaan tadi enggak bermaksud apa-apa," jelas Hilman sambil kembali memeluk Risa.


"Terus kenapa Mas masih nyimpen foto Hanna?" Risa masih ingat, beberapa waktu sebelum berangkat ke Jerman menemukan banyak foto Hanna.


"Sudah Mas buang, sudah tidak ada. Kemarin Mas lupa, lagian Mas enggak peduli," ujar Hilman dengan panjang lebar agar Risa yakin akan cintanya.


Risa terdiam, sambil menatap wajah Hilman.


"Sayang?"


"Enggak bohong?"


"Enggak."


Risa mengangguk, lagi pula kini acara tengah berlangsung dengan baik. Tidak mungkin Risa sendiri yang menghancurkan nya.


Kepada kedua mempelai, kami ucapkan selamat berbahagia. Dan acara pemotongan kue akan di mulai.


Kata seorang MC.


Risa dan Hilman memegang pisau bersama, dan memotong nya dengan perlahan.


"Seperti buka peraw4n ya sayang, harus hati-hati," bisik Hilman.


Mata Risa melebar seketika, sejak kapan Hilman mulai berbicara hal-hal berbau ranjang. Rasanya kini suaminya itu makin terang-terangan jika berbicara.


Jika dulu Risa mengenal Hilman sebagai lelaki gila dan galak kini berbanding terbalik, semua yang keluar dari mulut Hilman bisa membuatnya merinding.


"Jangan bilang udah ngebayangin?" tebak Hilman.


"Udah," jawab Risa dengan suara pelan agar para tamu tidak mendengar.


"Bayangin apa?" goda Hilman.


"Bikin bocah!" jawab Risa langsung, memangnya Hilman pikir Risa tidak berani berbicara langsung begitu.


"Hehehe, pintar ayo ke kamar!" goda Hilman.


"Mas ish!"


"Aduh ini kue nya kapan di makan?" tanya Mom Citra karena anak dan menantunya terus saja saling berbisik-bisik.


"Makan aja Oma," Davina sudah mencolek kue nya, karena terlalu lama menunggu.


"Dasar rakus!" ejek Derren.


"Biarin!"


"Rakus!"


Keduanya langsung saling dorong dan sampai akhirnya terjatuh pada kue yang menjulang tinggi.


Dalam sekejap kue hancur berantakan mengenai Risa dan Hilman.


Dan mengundang gelak tawa bahagia dari para tamu undangan.

__ADS_1


"Hehehe....."


Davina dan Derren menggaruk kepalanya sambil beberapa kali memakai kue yang terjatuh di kepalanya.


__ADS_2