Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Sah


__ADS_3

"Adam kamu jangan gila!!!" geram Hanna.


Adam tersenyum miring mendengar kata-kata Hanna, karena ia tahu apa yang kini tengah di rasakan oleh Hanna.


"Coba katakan kau tidak ingin menikah lagi dengan Kak Dev?!" tantang Adam.


Hanna meneguk saliva, sambil sebelah tangannya berusaha melepaskan tangan Devan yang memegang lengannya dengan erat.


"Kenapa kau diam Kak Hanna?!" tanya Adam lagi.


Hanna seketika menatap Devan, dan sama saja Devan juga tengah menatap dirinya. Dengan cepat Hanna menatap wajah-wajah yang juga sedang menatap dirinya.


"Kau saat ini sedang merasakan gusar, gundah, takut. Karena kau salah langkah, rasa cemburu mu itu kau lampiaskan dengan menjauhi Kak Dev dan menerima Hilman!" tebak Adam.


"Itu tidak benar!" kesal Hanna.


"Itu benar, kau cemburu saat aku duduk di pangkuan Kak Devan. Dan kau mengira kami memiliki hubungan khusus, tanpa bertanya kau langsung mengambil kesimpulan sendiri!! Dan kau hanyut dalam kemarahan hingga menutup kedua mata mu, dan menjadikan kesalahan Kak Dev saat dulu sebagai pelampiasan masalah mu!!" timpal Risa dengan cepat.


Kini semua mata langsung menatap Risa, sebab ia tahu semua tentang Hanna. Bahkan saat Hanna menjalani masa sulit sekalipun.


"Itu salah!!" kata Hanna membela diri.


"Kalau begitu sekarang kau dan Hilman yang akan menikah, sedangkan Kak Dev akan menikah dengan wanita lain!" tegas Risa lagi.


Deg.


Mata Hanna langsung berkaca-kaca mendengar kata-kata Risa, tidak tahu dengan hati dan perasaan tapi Hanna memang masih ingin dengan Devan. Hanya saja Hanna tidak menyukai cara Devan saat ini.


"Kenapa diam?" tanya Risa.


"Aku memang masih ingin bersama dengan Mas Devan, tapi tidak begini caranya!!!" jawab Hanna.


"Lalu caranya yang bagaimana?" tanya Devan, "Bahkan saat melihat ku dengan wanita yang bagian dari keluarga ku saja kau sudah salah paham, sampai menunggu kedua orang tua ku saja kau sudah memutuskan untuk pergi! Cara seperti apa yang kau mau. Kita sudah tua, sudah sama-sama dewasa, jadi mengertilah setiap masalah penyelesaian nya adalah duduk bertanya, dan berbicara!" timpal Devan lagi.


"Sudah-sudah......" Mom Citra sebenarnya tidak begitu mengerti dengan pembahasan anak-anaknya, namun ia melihat hanya ada keterangan di sana. Lagi pula Mom Citra takut kedua cucunya melihat pertengkaran tersebut, "Tolong, duduk dan kita bicara baik-baik, kasihan dua cucu Mom kalau mereka mendengar," pinta Mom Citra lagi.

__ADS_1


"Siapa yang akan menjadi wali nikah kami?" tanya Devan.


"Mas, hiks....hiks...hiks..." Hanna mendongkak menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca, "Aku dan Mas Hilman akan menikah," kata Hanna lagi, sebab ia mengingat wajah Ibu Hilman yang sangat bahagia mendengar ia dan Hilman akan menikah.


"Justru itu, sebelum dia menikahi mu. Maka malam ini kau harus ku nikahi!" tegas Devan.


Hanna tidak menyangka dengan jawaban Devan, tapi ia baru tahu sipat Devan ini. Hatinya memang menginginkan Devan, tapi ia juga membenci cara Devan saat ini. Di tambah lagi ia tengah memikirkan Hilman.


"Adam saja!" kata Adam.


Devan menatap Mom Citra, dan Dad Arsielo Anderson.


"Dad terserah kalian saja," kata Dad Arsielo Anderson.


Kemudian Devan menatap Mom Citra, ia melihat apa yang akan di katakan oleh Mom Citra.


"Mom, tidak tahu harus apa," kata Mom Citra yang bingung, sebab ia juga takut Devan malah meninggalkan dirinya. Mom Citra sudah sangat bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak nya, dan tidak ingin kehilangan Devan lagi. Dengan cepat Mom Citra melepaskan cincin berlian dengan harga pantastis di jari manis tangan kanannya, dan meletakkannya di atas meja.


Mata Hanna seketika menatap cincin itu, Hanna menyimpulkan bahwa Mom Citra menyetujui nya.


Agatha bagai di tersudut oleh pertanyaan Devan, bagaimana pun Devan adalah anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang. Hingga ia bingung harus mengatakan apa.


"Kalau Papa tidak setuju, Devan akan pergi. Tidak usah menganggap Devan ada," kemudian ia menatap Hanna, "Devan juga akan membawa Davina dan Derren!"


"Mereka anak ku, kau tidak berhak!" teriak Hanna penuh amarah, "Kau bahkan tidak mengakui Davina, jadi bagaimana bisa kau mengambil mereka dari ku!!"


"Aku tidak perduli, dan aku tidak memberikan pilihan!" jawab Devan.


"Kau egois!!" seru Hanna.


"Agar kau tahu!" jawab Devan.


"Masih ada hari esok Devan," kata Agatha.


"Hari esok memang ada Pa, tapi Devan tidak bisa menunggu besok. Hari ini saja Hanna sudah memutuskan menikah dengan orang lain, bisa saja besok di sudah menikah dengan orang lain!!" terang Devan.

__ADS_1


"Sudah cukup!!!" timpal Mama Sarah, "Sudah....sudah, kalau kau mau menikahi Hanna menikah saja. Kalau tidak bawa Hanna pergi dari sini sekarang juga!" titah Mama Sarah.


"Mama bicara apa?" tanya Agatha terkejut.


"Sudahlah Pa, nanti dua cucu kita mendengar keributan ini. Mau sampai kapan mereka menjadi korban kegilaan kedua orang tuanya?" tanya Oma Sarah, "Mama dulu yang salah bukan Devan, semua yang di lakukan Devan karena Mama. Jika ada yang mau menyalahkan Devan, salahkan Mama dulu!!" tambah Mama Sarah lagi.


"Duduk!" titah Adam menunjukan sofa, dan ia meletakan sebuah Al-Qur'an di atas meja. Kemudian ia menatap mata yang lainnya, "Orang yang akan di makamkan dengan orang yang akan menikah mana yang harus di dahulukan?" tanya Adam, "Orang yang akan menikah, jadi ayo duduk!" titah Adam yang membuat semua diam.


Tidak ada yang berbicara, bahkan yang terdengar hanya suara tangisan dari bibir Hanna. Ia tidak bisa pergi karena lengannya masih di pegang erat oleh Devan.


"Papa yang menikahkan atau Adam?" tanya Adam menatap Papa Agatha.


Agatha hanya diam tanpa berbicara, ia tidak mengerti dengan apa yang harus di lakukan.


"Anak perempuan Papa hanya satu, dan apa Papa tetap tidak mau?" tanya Adam lagi.


Agatha menatap Sarah, begitu juga dengan Sarah.


"Baiklah," jawab Agatha.


Hanna tercengang mendengar jawaban Agatha, ia tidak menyangka jika Papa nya kali ini tidak membutuhkan ijin darinya.


"Demi kedua anak mu!" tambah Agatha lagi.


Semua hening dan tidak ada yang berbicara, dengan cepat Adam mengirim pesan pada Satpam untuk meminta tetangganya yang berprofesi sebagai penghulu untuk datang ke rumah, dan tidak menunggu waktu yang lama seorang penghulu dan dua orang ketua RT langsung datang menjadi saksi di pernikahan tersebut.


"Aku nikahkan engkau dengan putri kandung ku, Elinda Farhana binti Agatha Sanjaya dengan mahar berupa cincin di bayar tunai!"


"Saya terima nikahnya dengan mahar tersebut tunai!!"


Sah.


Sah.


Sah.

__ADS_1


Sah.


__ADS_2