
Bagi yang di bawah umur, atau belum menikah tolong di skip!!! Kalau masih ngeyel rasakan sendiri akibatnya!!!
*
Saat ini Devan tengah memeluk istrinya di bawah selimut tebal, ia masih ingin terus memeluk Hanna dengan kehangatan.
"Mas," suara Hanna terdengar begitu kecil, ia sangat malu sekali di peluk Devan dalam tubuh yang tampa sehelai benang di bawah selimut.
"Em," jawab Devan dengan malas, ia begitu menikmati saat-saat memeluk Hanna dengan erat.
"Lepas," rengek Hanna.
"Kenapa?" Devan semakin memeluk Hanna dengan erat, bahkan tanpa ingin melepaskan Hanna.
"Hanna pengen mandi," kata Hanna lagi.
"Nanti saja, Mas masih ingin seperti ini," bisik Devan di telinga Hanna dengan nafas yang mulai memburu.
Hanna tahu saat ini hasrat Devan kembali membara, bahkan ia masih ingat saat-saat malam pertama nya dulu dimana Devan terus menggempur nya sampai pagi.
"Tapi Hanna udah ngerasa gerah Mas," pinta Hanna lagi.
Devan melepaskan pelukannya, "Ya sudah, ayo mandi sana," kata Devan.
Hanna mengangguk, dan ingin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tidak boleh pakai selimut sayang, jalan saja begitu," pinta Devan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hanna malu Mas," rengek Hanna.
"Ayo cepat sebelum Mas berubah pikiran," ancam Devan.
Dengan gerakan cepat Hanna meloncat dari atas ranjang, bahkan tanpa sehelai benang pun. Karena takut ancaman Devan yang memang tidak main-main.
Selesai mandi Hanna langsung melilitkan handuk di tubuhnya, karena ia tidak memiliki baju bersih. Lagi pula baju yang ia pakai barusan sudah di tarik oleh Devan dengan kuat, hingga sedikit sobek. Dengan mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu Hanna melihat keluar dan Devan tidak ada di sana.
__ADS_1
"Sayang kau sedang apa?" tanya Devan yang tiba-tiba kembali kedalam kamar, dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Karena barusan ia memesan barang, dan paketnya sampai. Kemudian ia mengambilnya ke depan pintu.
Hanna bagai maling yang kini tengah ketahuan, ia ketakutan dan berusaha memegang handuknya dengan cukup kuat. Gundukkan nya yang yang besar dan penuh membuat handuk hanya bisa menutupi setengah nya saja, dan jangan lupakan pahanya yang nampak dengan mulusnya.
"Ini baju ganti untuk mu,"Devan memberikan paperbag di tangannya pada Hanna.
"Makasih Mas," Hanna langsung menyambar paperbag itu dengan bahagia, kemudian ia berlari kembali kedalam kamar mandi.
Devan menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup, "Simpan saja dulu terimakasih mu itu istri ku sayang," gumam Devan dan ia kembali duduk di sofa sambil melihat ponselnya.
Sedangkan Hanna tengah dilanda keterkejutan, bayangkan saja semua isi paperbag itu adalah lingerie. Tidak ada yang bisa menutupi tubuhnya dengan sempurna, "Apa ini salah yang ngantar paket ya," gumam Hanna, ia kembali melihat lingerie tersebut, dan mendesus. Setelah lama menimbang akhirnya Hanna kembali membuka pintu kamar mandi, dan mengeluarkan kepalanya saja, "Mas kayaknya pengantar nya salah deh, masa iya isi paperbag nya baju haram semua!!" teriak Hanna agar Devan dengar, bukan bermaksud tidak sopan. Tapi karena jarak mereka yang memang cukup jauh.
"Itu tidak salah sayang, pakai saja!!!" jawab Devan.
Glek.
Hanna rasanya tidak percaya dengan jawaban Devan, karena lingerie itu ternyata memang Devan yang dengan sengaja memesannya.
"Sayang cepat pakai, atau kau tidak usah pakai apapun!!!" teriak Devan dengan senyuman bahagia.
Perlahan Devan mulai melihat Hanna dari ujung kaki, kemudian naik ke atas hingga menatap kaki mulus Hanna. Lalu berlanjut ke atas lagi, perut rata Hanna yang juga terlihat begitu indah dan semakin ke atas gundukan Hanna yang sangat besar bahkan gundukan itu hanya penuh bila kedua tangannya yang memegang. Bagian favorit Devan hingga Devan tidak bisa beralih pada lain nya, sebab di balik baju yang dikenakan oleh Hanna selama ini ada tubuh yang indah di dalam sana.
"Mas apa sih," Hanna rasanya tidak nyaman dengan tatapan Devan.
Dengan perlahan Devan bangun dari duduknya dan langsung mendekati istrinya, "Sayang kau sangat cantik," tangan Devan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istri nya. Perlahan tatapan Devan semakin menggebu dengan tangannya yang mulai menarik tengkuk Hanna.
"Mas," Hanna tersentak kaget, karena dengan cepat Devan menarik tengkuk nya lalu melahap bibirnya dengan kasar.
Semakin lama semakin menuntut, Hanna juga membalas dengan baik. Bahkan tubuhnya mulai menerima, dan terasa memanas.
Devan tersenyum saat tahu Hanna kini sudah mulai hanyut dalam permainan nya, tangan pun kini mulai berkeliaran dengan bebas. Hingga sesaat kemudian Devan membawa Hanna duduk di atas pangkuan nya, dengan Devan kini duduk di sisi ranjang.
"Sssstttt," Hanna merintih saat mulut Devan menikmati sebuah gundukan yang secara bergantian, bahkan Hanna sampai menekan kepala Devan karena terasa begitu nikmat, "Mas..." rintih Hanna.
Devan tersenyum melihat Hanna yang sudah sangat masuk dalam permainan nya, bahkan entah dimana sudah lingerie yang barusan di pakai Hanna.
__ADS_1
"Sayang ayo cepat," Devan berdiri, sedangkan Hanna duduk di sisi ranjang. Dengan cepat Devan membuang handuk putih yang melingkar di pinggang, dan menampakan sebuah pisang besar dengan urat yang menonjol.
Hanna sejenak menimbang permintaan Devan, itu sangat memalukan batin Hanna. Tapi entah mengapa ia juga begitu menginginkan benda itu, rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan nya.
"Sayang..." lirih Devan, bahkan langsung memasukan nya pada mulut Hanna.
Karena sudah terlanjur masuk, Hanna langsung menikmati dengan begitu nikmat. Lama sudah ia tidak merasakan pisang itu, hingga ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Sssssttt....." Devan memegang rambut Hanna agar tetap berada di belakang, dan tidak menjadi pengganggu kesenangannya saat ini.
"Uhuk....uhuk...uhuk...." Hanna tersedak saat Devan menekan nya, dan itu mengenai tenggorokan nya.
"Maaf sayang," kata Devan setelah tersadar. Puas dengan permainan tersebut, Devan kini kembali mengecup bagian inti dari tubuh Hanna.
"Sssstttt....." Hanna berusaha menahan suaranya agar tidak keluar, bahkan berulang kali ia mencoba menutupi miliknya.
"Sayang Mas masih ingin," rengek Devan.
"Malu Mas," kata Hanna dengan suara kecilnya.
Devan tersenyum, kemudian ia langsung memasukan miliknya yang keras, besar, dan panjang itu pada diri Hanna. Lalu bergerak dengan beriringan.
"Mas sssstttt...." rintih Hanna, "Ah....ah....ah...." ******* Hanna tidak bisa lagi ia tahan, sungguh Devan sangat luar biasa hingga ia tidak bisa menutup mulutnya untuk tidak bersuara.
Suara kedua nya menggema dalam ruangan yang kedap suara itu, suara kulit yang berbenturan juga tidak kalah kencang. Rasa nikmat yang tiada tara nya menciptakan keringat yang keluar, bahkan AC tidak mampu untuk mendinginkan suhu ruangan.
"Ah...ah...ah...Mas Dev...." desah Hanna.
Plok....plok....plok....
Suara kenikmatan itu terasa begitu indah, hingga sampai puncaknya tiba Devan dan Hanna benar-benar terkapar dengan nafas yang tersengal-sengal. Bahkan keduanya lupa waktu yang sudah mereka susun tadi, sedangkan Hanna langsung tertidur.
*
Buat Kakak yang ngatain kutang panas, bagaimana dengan ini. Masih kurangkah? Hehehe. Jangan lupa like dan Vote. terima kasih Kakak yang selalu kasih tips ya.
__ADS_1