Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Ugal ugalan


__ADS_3

Risa berdiri di depan gerbang, sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang yang akan menjemput dirinya. Namun tiba-tiba sebuah motor keluar dari dalam gerbang rumah mewah yang di tempati oleh Risa, Hilman keluar dengan motor miliknya.


"Naik!" titah Hilman sambil memberikan helm, ia menatap ke depan tanpa melihat Risa.


Risa melihat Hilman dengan bingung, dan kemudian ia sejenak menimbang pergi bersama Hilman atau tidak.


"Kenapa diam?" Hilman menggerakkan helm yang berada di tangan nya, sebab Risa belum juga mengambil helm tersebut.


"Tapi saya juga lagi nunggu jemputan," Risa melihat ke arah lainnya, dan melihat orang yang biasa mengantarkan dirinya pulang dan pergi ke kantor.


"CK," Hilman turun dan langsung memasang helm pada kepala Risa.


"Aduh," Risa terkejut saat tiba-tiba Hilman memakaikan helm, "Tuan kaya....."


"Nanti saya ajarkan naik motor!"


Risa langsung tersenyum dan sangat setuju dengan tawaran Hilman, menaiki motor adalah keinginan nya sejak lama. Hingga tidak lagi menimbang tawaran Hilman ia langsung saja setuju, "Ok... berangkat!" Risa memegang pundak Hilman, seakan ia takut jatuh.


"Kenapa kau memegang jas ku!" Hilman merasa aneh pada Risa yang memegang pundaknya, dan itupun hanya jasnya saja.


"Saya pikir anda kuda tuan kaya!" celetuk Risa sambil cekikikan.


"Enak aja!" kesal Hilman, dan ia langsung melajukan motornya.


Risa yang belum siap duduk dengan benar terkejut, bahkan ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat ia memeluk Hilman, demi menyelamatkan diri agar tidak terjatuh.


"Ahahahhaha....." Risa bukanya takut, malah ia tertawa karena merasa lucu sekali.


"Dasar aneh!" kata Hilman yang melihat tingkah aneh Risa.


"Itu bukan aneh tuan kaya, tapi itu lah yang di namakan dengan seni," kata Risa dengan rasa yang penuh bahagia.


Hilman benar-benar merasa lucu dengan tingkah Risa, wanita ceria yang tidak kenal bersedih. Bahkan bibirnya selalu tersenyum walaupun ia hidup dengan orang asing, menikah dengan Hilman selama hampir dua minggu dengan tidak saling mengenal bukanlah hal yang mudah. Namun Risa mampu melewati dengan begitu mudah.


"Bos, yang kencang...." pinta Risa dengan bibir yang terus tersenyum.


"Pegangan ya," kata Hilman, kemudian ia mulai menambah laju kecepatan sepeda motor miliknya.


"Ok....bos....." seru Risa dengan bahagia.


Motor yang di kendarai Hilman melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan melewati mobil dan sepeda motor yang berada di depan mereka.

__ADS_1


"Yang di depan juga kalahkan bos!!!" pinta Risa.


Risa sudah seperti anak kecil yang minta kepada Ayahnya untuk balapan di tengah jalan raya, bahkan Hilman juga seperti seorang Ayah yang tengah berusaha membahagiakan anaknya.


"Terobos lampu merah.....ini namanya uji nyali bos!!!" teriak Risa yang duduk di belakang tubuh Hilman, karena jika tidak berteriak Hilman tidak akan mendengar. Sebab jalanan yang ramai kendaraan juga, dan Hilman yang membawa motor ugal-ugalan di jalanan.


"Ok....uji nyali!" Hilman langsung menarik gas dan menerobos lampu merah.


Tin....tin....tin.....


Suara klakson mobil dan sepeda motor lainnya yang merasa kesal pada Hilman dan Risa.


Brem...brem.....


Hilman malah menarik gas sesuka hatinya.


"Mobil polisi bos, ayo kita tantang!" ajak Risa.


Brem....brem....brem.


Dalam sekejap sepeda motor yang di kendarai Hilman dan Risa langsung di kejar oleh mobil polisi.


"Tuan kaya, kita di kejar polisi," teriak Risa yang sesekali melihat ke belakang.


Risa langsung memeluk Hilman dengan kencang, karena mereka kini tengah berada dalam kejaran polisi. Bahkan Hilman akhirnya memasuki jalanan dengan gang yang cukup sempit demi bisa menghindari dari kejaran polisi, dan tiba-tiba di jalanan ada seorang nenek yang akan menyebrang. Hilman tentu saja tidak ingin menabrak nenek tersebut, dan ia dengan terpaksa mengerem dengan mendadak.


Cittttttt....


Keduanya menabrak kandang bebek, dan terhempas di atas kotoran bebek.


Suara bebek yang ketakutan terus membuat kehebohan, sampai sang pemilik langsung bergegas menuju kandang bebeknya dan melihat dua orang yang terjatuh di sana. Di tambah lagi sebuah sepeda motor yang juga membuat kandang bebeknya rusak.


"Kalian siapa?" tanya pemilik kandang tersebut, perut buncit dan hanya memakai kain sarung itu terlihat sangat marah. Matanya yang besar melotot pada Risa dan Hilman secara bergantian.


Hilman dan Risa saling melihat satu sama lainnya, dan keduanya merasa seram pada pria tersebut.


"Saya akan mengganti kerugian anda," kata Hilman sambil berusaha bangun.


"Memangnya kau bisa mengganti semua?" tantang si pemilik kadang.


"Rp200.000.000."

__ADS_1


"Iya saya setuju," si pemilik kandang tidak lagi mempermasalahkan nya, dan ia beralih menolong Hilman dan Risa.


"Hueekkkk....." Risa benar-benar merasa jijik dengan kotoran Bebek yang menempel pada tubuhnya, dan rasa baunya yang menyeruak kedalam hidung membuat nya ingin terus muntah.


"Ahahahhaha...." Hilman menertawakan Risa, sedangkan ia tidak begitu banyak terkenal kotoran bebek.


Risa mendekati Hilman, dan menyapukan tangannya yang terkena kotoran bebek pada wajah Hilman, "Anti jerawat!" celetuk Risa.


"Hueekkkk....." Hilman merasa mual karena bau bebek tersebut dan ia juga ikut muntah.


"Ahahahahah....." Risa kini beralih mengejek Hilman, bahkan menertawakan Hilman dengan terpikal-pikal.


"Dasar!"


Hilman dan Risa kini sudah mandi, keduanya menggunakan kamar mandi lelaki yang sudah mereka rusak kandang bebeknya.


"Baunya masih terasa banget," kata Risa yang mencium bau tubuhnya.


"Padahal sudah pakai banyak sabun," tambah Hilman.


"Sudah, ini minum dulu, nama saya Roni."


"Terimakasih Pak Roni," Risa langsung menyeruput teh yang di buat Pak Roni agar dapat meringankan rasa lelahnya.


"Kalian berdua kenapa bisa masuk ke kandang bebek bapak?" tanya Pak Roni.


Hilman langsung melihat Risa, dan keduanya malah tertawa.


"Ahahahhaha....." tawa keduanya pecah saat mengingat kembali saat-saat mereka di kejar polisi, dan demi menghindari nenek yang menyeberang jalan mereka akhirnya berakhir pada tumpukan kotoran bebek yang bau dan menjijikan.


"Kalian kenapa?" Pak Roni kini di buat bingung, karena keanehan Hilman dan Risa.


"Makasih ya Pak, dan kami permisi."


Setelah mentransfer uang ganti rugi pada pak Roni, Risa dan Hilman kini segera pergi. Keduanya di jemput oleh Niko Asisten yang sebenar, dan keduanya di antara pulang ke rumah.


"Kalian berdua dari mana?" Ibu Sintia yang tengah menyiram bunga merasa aneh, karena Risa dan Hilman baru saja pergi tapi sudah pulang lagi. Dan pakaian Hilman yang memakai celana pak Roni yang kebesaran, dengan kaos oblong pak Roni juga. Kemudian Ibu Sintia melihat Risa yang memakai daster, "Kalian dari mana?"


Lagi-lagi Risa dan Hilman hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan yang sama, "Ahahahhaha....." keduanya langsung masuk dengan Ibu Sintia yang menatap bingung keduanya.


"Mereka kesambet di mana ya?" gumam Ibu Sintia dengan bingung.

__ADS_1


*


Tolong like dan Vote


__ADS_2