Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Menderita


__ADS_3

"Sayang kita pulang ke rumah ya, Ibu nangis terus. Tadi juga Mas dapat kabar kalau Ibu sedang sakit, Mas takut kalau darah tinggi Ibu tiba-tiba kambuh."


Hilman merasa keadaan Risa kini sudah lebih tenang, akan tetapi Hilman juga sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu Sintia yang tidak baik-baik saja. Hingga menurutnya membawa Risa pulang adalah keputusan yang sangat benar.


"Tidak!"


Arsielo Anderson yang tiba-tiba masuk ke kamar anaknya langsung menjawab pertanyaan Hilman, ia tidak akan mengijinkan jika putrinya di bawa begitu saja.


Risa dan Hilman langsung menatap suara tersebut, ternyata kini sudah ada Dad Arsielo dan Mom Citra yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Kau tidak boleh membawa putri ku!" tegas Dad Arsielo pagi.


Hilman mengangguk mengerti, ia tahu seperti apa perasaan Dad Arsielo Anderson saat ini. Sama halnya dengan dirinya yang tidak bisa jauh dari Risa, apa lagi mengingat istri nya tengah mengandung buah hati mereka.


"Tuan Arsielo Anderson, saya ingin membawa istri saya," kata Hilman dengan wajah memohon, ia tidak ingin berdebat. Karena menurut Hilman tidak pantas bisa berdebat dengan mertuanya sendiri.


"Mas, dia itu Daddy ku," kata Risa yang kesal pada Hilman.


"Iya sayang, Mas tahu," jawab Hilman.


"Lalu kenapa memanggilnya tuan?"


Hilman kembali menatap Dad Arsielo Anderson, "Maaf Dad, tapi aku hanya ingin membawa istri dan juga anak ku yang masih di kandungan nya," Hilman berusaha untuk memperbaiki setiap kata-kata nya, berusaha agar hormat pada Dad Arsielo Anderson.


"Sudah," Mom Citra merasa Hilman dan Risa berhak untuk menentukan keinginan mereka, apa lagi Risa yang memang wajib mengikuti kemana Hilman membawanya, "Kalau kalian mau kembali ke Indonesia tidak apa, asal jangan ada masalah lagi."


"Aku tidak setujui!" timpal Dad Arsielo Anderson, "Aku takut dia menelantarkan putri ku lagi!"


"Kita kembali ke Indonesia bersama, Davi dan Derren sudah sangat lama di tinggalkan di sana. Mereka sudah merengek meminta Mama nya pulang," timpal Devan.


Semua menatap Devan, karena tiba-tiba Devan muncul.


"Kau sama saja seperti Dad mu," kata Risa dengan kesal.

__ADS_1


Kini semua berpindah menatap Risa sambil sedikit bingung.


"Suka muncul tiba-tiba!" lanjut Risa agar semuanya mengerti.


Devan langsung mengetuk kepala Risa, "Seperti nya kau anak pungut!" jawab Devan.


"Enak saja!" jawab Risa yang tidak mau mengalah.


"Sudah.....sudah," Mom Citra merasa semua sudah lebih baik dan tidak ada alasan untuk tetap berkeras kepada Hilman untuk tidak membawa Risa.


"Mom, Dad, kalau bisa Hanna sedikit meminta boleh?" tanya Hanna dengan ragu.


"Apa, kau mau bilang sesuatu?" tanya Mom Citra.


Hanna mengangguk, "Tidak bisakah kita tinggal di indo saja, Davina dan Derren juga ingin mengenal Mom dan Dad," pinta Hanna.


Mom Citra dan Dad Arsielo terdiam sejenak, kedua saling melihat dan menimbang.


"Dad," Mom Citra menatap Dad Arsielo penuh harap, sebab ia merasa kedua cucunya juga harus merasakan memiliki mereka sebagai nenek juga.


Hilman meneguk saliva, tapi tidak masalah menurutnya. Karena mereka bisa tinggal di kediaman nya, mungkin itu lebih baik dari pada tinggal di kediaman milik Arsielo Anderson. Walaupun Hilman tidak sekaya Dad Arsielo tapi ia masih bisa untuk memenuhi kebutuhan Risa, lagi pula ia akan sangat gengsi bila menumpang hidup di sana.


"Terima kasih Dad," Hilman mengangguk dan tersenyum.


"Kita akan tinggal di rumah Nenek," kata Dad Arsielo lagi.


"Tapi," Hilman tanpaknya tidak setuju mengingat ia masih memiliki Ibu Sintia, wanita tua yang tidak mungkin ia tinggal, "Saya masih punya wanita yang sangat saya cintai, Ibu saya," terang Hilman.


"Kita akan tinggal bersama, bersama Derren dan juga Davina di rumah Papa Agatha Sanjaya, Ibu Sintia juga tinggal bersama kita, tidak ada penawaran!" kata Devan dengan tegas, karena ia takut jika ada yang masih berdebat.


Devan juga sudah lelah terus di landa masalah, ia juga ingin bahagia bersama dengan keluarganya tanpa ada lagi konflik yang menyita banyak emosi dan air mata.


"Mom setuju, tidak ada perdebatan!" tambah Mom Citra.

__ADS_1


"Mas," Risa menatap Hilman dengan wajah melas, ia tidak ingin berdebat lagi. Karena Risa juga ingin hidup bersama keluarga nya.


Hilman tidak bisa menolak, ia mengangguk mengingat Risa sangat menderita beberapa hari ini. Tidak ada kata penolakan untuk setiap keinginan istrinya, sudah cukup apa yang di rasakan oleh Risa.


"Baiklah, asal tidak ada yang keberatan kami menumpang di sana," kata Hilman, "Bukan ingin sombong, tapi aku ini seperti lelaki yang hanya menumpang hidup pada keluarga istri ku," batin Hilman, akan tetapi ia tetap setuju.


Waktu keberangkatan segera di siapkan, sebenarnya masih bisa menunggu besok. Akan tetapi Davina dan Derren sudah hampir satu Minggu di tinggal dan itu membuat keduanya terus menangis, hingga Mom dan Dad Arsielo juga menyetujui keberangkatan dengan waktu yang sangat cepat.


Risa dan Hanna terus bersama bahkan dari saat mulai keberangkatan, karena Hanna yang tidak mau berdekatan dengan Devan. Terdengar aneh, tapi tanpaknya melihat wajah Devan kini adalah hal yang tidak ia sukai. Bahkan ia langsung muntah-muntah, hingga dengan terpaksa Risa yang selalu di peluk Hanna. Padahal Risa juga sangat merindukan Hilman.


"Sayang," Hilman mengkedipkan sebelah matanya, karena ia ingin memeluk istrinya.


Risa bergidik ngeri, jika dulu Hilman tidak akan bertingkah begitu tapi tidak dengan sekarang. Tanpaknya kini Hilman terang-terangan dalam segala nya, hal yang baru di ketahui oleh Risa.


"Tidak usah sok mesra!" Devan sangat kesal pada Hilman dan Risa, karena Hanna akhir-akhir ini tidak suka berdekatan dengan dirinya.


"Devan, tidak bisakah istri ku itu di kondisikan," kata Hilman pada Devan, "Aku juga ingin memeluk Istri cantik ku," ujar Hilman.


Devan menatap Hanna, terlihat Hanna hanya memeluk lengan Risa sambil menunduk tanpa ingin melihat dirinya, "Sepertinya tidak, tapi ini lebih baik," jawab Devan.


"Maksud mu?"


"Paling tidak aku tidak menderita sendiri," jawab Devan.


Hilman mendesus kesal, sebab ia mengerti dengan maksud Devan, "Tapi aku tidak ingin kau ajak menderita, kau tahu aku ini sudah tidak memeluk istri ku lebih dari tiga minggu!"


"Itu salah mu, peluk saja pekerjaan mu itu!" jawab Devan santai.


"Istri mu itu tidak mengerti keadaan!"


Devan langsung meninju lengan bagian atas Hilman, "Istri ku itu Kakak ipar mu!"


"CK!"

__ADS_1


Jangan lupa like dan Vote ya Kakak.


Bukan Ipak Munthe kalau enggak ada yang kocak ya, hehehe.


__ADS_2