
"Tidak usah, aku tidak ingin lagi berpisah. Dan pernikahan ini akan terus berlanjut sampai kapan pun juga. Aku minta maaf jika aku bersalah, dan aku ingin kau memberikan aku anak-anak yang nantinya menjadi penerus ku," jawab Hilman.
Risa mengangguk, ia merasa jawaban Hilman sudah cukup jelas. Tidak perlu kata cinta yang keluar dari bibir Hilman, sebab Risa yakin Hilman pun belum mencintai dirinya. Dan itu tidak masalah bagi Risa, cinta akan datang sampai pada waktunya tiba. Sebab ia pun memang belum mencintai Hilman. Namun, Risa akan belajar untuk mejadi layaknya istri yang baik. Sambil belajar pula mencintai Hilman.
"Terkadang kau dewasa sekali, terkadang kau seperti orang bodoh!" kata Hilman mengingat Risa yang konyol, dan sangat suka bersikap semaunya.
"Kau mengatakan aku bodoh!" Risa benar-benar geram dan langsung terpancing emosi, ia mengambil bantal sofa dan melemparnya ke pada Hilman.
Plak!.
Bantal itu mengenai dada Hilman, dan tanpa sengaja kaki Risa tersandung pada kaki meja hingga ia terjatuh dan langsung menimpa Hilman.
Angin seakan berhembus dengan perlahan hingga meniup rambut Risa yang terurai dengan indahnya, tatapan mata Hilman terus tertuju pada Risa dengan penuh kekaguman. Rasa hati yang berdebar-debar seakan begitu terasa, tatapan kagum akan kecantikan Risa mulai ia sadari.
Clek.
Pintu terbuka dan Niko melihat sang Presdir yang tengah menatap istrinya penuh kagum, Niko tidak ingin pergi. Sebagai seorang jomblo tentu saja hal seperti ini terasa begitu indah, "Live, kapan lagi," gumam Niko yang terus menjadi penonton. Ia seakan tengah menonton sebuah pertunjukan yang begitu menantang dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Hilman dan Risa tidak menyadari ada orang lain selain mereka, tangan Hilman bergerak memegang tengkuk Risa dan menariknya semakin mendekat. Sedetik kemudian Hilman melahap dengan penuh kelembutan.
"Sial!" umpat Niko kesal, niat hati hanya ingin melihat saja agar sedikit membuat otaknya lebih segar dalam bekerja. Tapi malah yang ada ia merasa panas dingin, dan ia keluar sambil memukul dinding, "CK....." Niko benar-benar menyesal karena sudah menonton dua pengantin baru yang sudah mulai termakan indahnya menikah.
Ibu Sintia masih sangat penasaran dengan Hilman dan juga Risa, walaupun ia menebak jika Hilman dan Risa sudah menyatu tapi tetap saja Ibu Sintia penasaran. Dan ia malah berpikir jika Risa dan Hilman memiliki kesepakatan berdamai hanya karena dirinya, tentu saja Ibu Sintia akan marah bila benar begitu adanya. Sebab ia sebagai wanita tahu seperti apa perasaan Risa, sudah berkorban namun masih di sia-siakan begitu saja.
"Niko!" Ibu Sintia bingung karena Niko yang bersikap aneh, dengan memukuli dinding, bahkan sampai menempel seperti cicak yang menempel pada dinding.
Niko mulai tersadar ada Ibu Sintia, ia beralih menatap Ibu Sintia dan tidak lagi berperilaku aneh seperti barusan, "Ibu sudah lama?" tanya Niko dengan aneh.
__ADS_1
"Selama kamu tidak waras!" jawab Ibu Sintia.
"Hehehe...." Niko menggaruk kepalanya, karena Presdir dan istrinya yang bermesraan. Dan ia malah kepanasan.
Ibu Sintia tidak ingin lagi di buat bingung, dengan segera tangannya mendorong pintu dengan ukuran begitu besar.
"Bu jangan," Niko panik setelah mengingat apa yang membuatnya menjadi seperti orang gila, namun terlambat karena Ibu Sintia sudah terlebih dahulu masuk, "Aduh," Niko mengusap wajahnya beberapa kali, dan ia yakin Ibu Sintia kini melihat apa yang ia lihat barusan.
"Kamu ini kenapa sih!" kesal Ibu Sintia dan ia cepat-cepat masuk.
Niko mencoba mendengar dari luar, apakah Ibu Sintia berteriak atau tidak. Namun lama ia memasang telinga dengan lebar suara Ibu Sintia tidak juga terdengar, akhirnya Niko memberanikan diri untuk masuk dan melihat apa yang tengah terjadi di dalam sana.
Hilman yang duduk di kursi kerjanya, dan Risa yang duduk di sofa. Niko mengusap wajahnya karena bingung, hingga akhirnya ia hanya diam mematung dalam kebingungan.
"Ibu," Risa langsung menyapa Ibu Sintia, dan Hilman yang berfokus pada laptop nya juga mulai melihat Ibu Sintia.
"Em...." Niko seakan gelagapan, ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi ia kemudian memasang senyum agar tetap terlihat tenang, padahal otaknya sedang mengingat jelas apa yang barusan Hilman dan Risa lakukan.
"Bu?" panggil Risa, sambil ia bangun dari duduknya.
"Iya, Ibu cuman mampir saja. Ibu pamit ya," Ibu Sintia menatap Niko dengan tajam, setelah itu ia keluar dari ruangan Hilman.
"Kau sedang apa di sini?!" gertak Hilman, "Sedang ingin mengintip?!" sergah Hilman.
Niko menggeleng, dan ia menebak jika Hilman tahu ia barusan mengintip.
Hilman bangun dari duduknya, ia memutari meja kerjanya dan berdiri di hadapan Risa, "Lihat ini, langsung. Tidak usah mengintip!"
__ADS_1
"Mmmmfffffpp...." Risa terkejut saat Hilman melahap bibirnya kembali di hadapan Niko, dan rasa malunya sangat tidak bisa di katakan.
Niko cepat-cepat keluar, ia takut bila Hilman nantinya memberikan hukuman padanya karena mengintip. Karena buru-buru keluar Niko sampai tidak melihat daun pintu yang tertutup, dan seketika kepada terasa pusing setelah beradu dengan pintu.
"Aduh," ringis Niko, dan cepat-cepat ia membuka pintu, "Aku menyerah, sampai kapan aku jadi jomblo!" kesal Niko dengan kaki yang berdiri di depan daun pintu yang sudah tertutup rapat.
Hilman menjauh, dan ia melihat wajah Risa yang memerah. Tangan Hilman kemudian mengacak rambut Risa dengan gemas, karena istrinya itu terlihat begitu tegang.
"Kenapa tegang sekali?" tanya Hilman, "Biasanya cerewet," celetuk Hilman lagi.
"Mas apasih," Risa berniat pergi, tapi tangan Hilman dengan cepat memegang lengan nya.
Deg.
Jantung Risa berdetak dengan kencang, entah mengapa ia merasa hubungannya dengan Hilman lebih terasa indah dari pada sebelumnya.
Hilman melangkah dan berdiri di belakang tubuh mungil Risa, "Mau kemana? Di sini saja," bisik Hilman.
Risa menutup mata, dengan rasa yang semakin tidak karuan. Tidak tahu entah itu perasaan apa, yang jelas saat ini ia sangat bahagia.
"Istriku," bisik Hilman lagi, kemudian ia menarik Risa untuk masuk ke ruang istrinya.
Mata Risa mengedarkan pandangannya, ia tidak tahu tentang ruangan yang tersimpan di balik rak buku yang tersusun rapi.
"Sssst......" Risa mengeluarkan suara yang terasa indah, seketika tubuhnya melayang dan berakhir pada ranjang dengan ukuran cukup besar.
"Aku akan hati-hati," bisik Hilman, dan sedetik kemudian ia mulai menciptakan butiran-butiran tanda kepemilikan pada tengkuk Risa. Padahal tanda yang di buat Hilman semalam juga masih ada, dan ia menutupinya dengan fodation. Tapi sepertinya Hilman akan kembali membuat yang baru lagi.
__ADS_1
"Mas...."