Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pengen Bobo Sama Mama dan Papa


__ADS_3

Acara Ulang tahun Davina sudah selesai, bahkan selesai sebelum waktunya. Sebab setelah Hanna beberapa saat lalu berpamitan ke kamar, sampai saat ini pun ia belum juga kembali ke taman belakang untuk bergabung kembali merayakan hari ulang tahun Davina.


"Davina," Devan berjongkok di hadapan Davina, dan tangannya memegang kedua lengan bagian atas Devina, "Papa pulang dulu, besok Papa bakalan datang lagi buat nemuin Davina," pamit Devan.


Davina langsung tertunduk sedih, sebab acara ulang tahun nya yang tidak selesai sesuai dengan keinginan nya.


"Lho, kok anak Papa yang paling cantik sedih?" tanya Devan. Devan menaikan dagu mungil Davina dengan perlahan, dan ia menatap manik mata bulat Davina yang berkaca-kaca. Sepertinya sebentar lagi akan ada air turun dari sana.


"Tapi Davi masih pengen sama Papa, Davi pengen kayak temen-temen bisa main sama Papa. Di antar sekolah sama Papa, di jemput sekolah sama Papa," jawab Davina sambil meneteskan cairan bening dari bola mata indah nya.


Devan mengusap air mata Davina dengan ibu jarinya, ia tidak ingin membuat Davina menangis. Sudah cukup Hanna hamil saat untuk Davina hanya sendiri, merawat dan membesarkan Davina hanya sendiri. Hingga kini Devan hanya ingin membuat anak-anak nya bahagia.


"Davi juga mulai besok di antar dan di jemput sama Papa," ujar Devan sambil tersenyum.


Davina langsung tersenyum menatap Devan, "Papa serius?" tanya Davina dengan wajah yang sangat berharap.


"Iya dong, Papa antar Davina ke sekolah. Papa jemput juga, nanti sekali-kali Papa bawa kekantor buat nemenin Papa kerja," jelas Devan agar Davina bahagia.


Wajah Davina yang murung seketika berubah menjadi ceria, Hanna yang kini berada di pintu taman melihat Davina begitu bahagia. Ia tersenyum karena melihat putri kecilnya bisa bahagia.


"Dasar anak kecil," timpal Derren.


Semua pasang mata langsung menatap Derren dengan bingung dan bertanya-tanya.


"Kenapa?" tanya Davina geram.


"Di antar jemput sama Papa, itu enggak dewasa lah.....Bang Derren mau cari doi biar bang Derren yang antar jemput doi," Derren menyisir rambut nya, seolah ia tengah tebar pesona pada gadis-gadis cantik yang kini banyak di hadapan nya.


"Dasar gila!" seru Davina.


Oma Sarah dan Opa Agatha menggeleng karena Derren memang terlihat bergaya dewasa, dan juga memang hanya ingin di panggil Abang oleh para wanita yang ia sebut doi.


"Hehehe......" Devan juga terkekeh karena Derren terlihat sangat lucu sekali.


"Ok, Abang Derren masuk dulu. Mau bobo ganteng," pamit Derren lalu masuk, ia menatap Mama Hanna yang berdiri di depan pintu, "Bye Mom, good night," pamit Derren dan ia berlalu begitu saja.


Hanna juga hanya bisa menahan tawa melihat anaknya yang lucu itu, tapi tetap saja hanya berdiri di depan pintu. Hanna masih terlalu malu untuk bergabung dengan yang lainnya, mungkin sampai Devan pulang.


"Kalau gitu Papa pulang ya," pamit Devan lagi pada Davina.


"Enggak mau, Davi pengen bobo sama Mama sama Papa. Besok di sekolah Davi bakalan cerita ke temen-temen kalau Davi bobo sama Papa sama Mama," kata Davina dengan bahagia.


Glek.


Devan meneguk saliva, ia kini beralih menatap Sarah yang tengah menutup mulut sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Mama!!!" seru Davina, saat menyadari Mama Hanna yang ternyata tengah melihat dirinya.


"Iya," Hanna tersenyum kecut, ia mendengar dengan baik permintaan Davina barusan. Dan bagaimana caranya mereka tidur bersama, sedangkan ia dan Devan bukan lagi pasangan suami istri. Mungkin jika kedua masih memiliki hubungan yang buruk, namun masih menjadi suami istri yang sah Hanna tidak akan menolak. Tapi untuk kali ini ia dan Devan sudah tidak halal lagi, jadi bagaimana bisa.


"Ye...... Davina bobo sama Mama sama Papa!!!" seru Davina kegirangan.


Devan dan Hanna saling pandang, tampaknya Davina tidak mengerti dengan keadaan kedua orang tuanya. Dan tidak ada yang berani menjelaskan nya pada Davina, sebab keadaan nya Davina sudah terlalu bahagia. Apa lagi itu adalah impian Davina sejak lama, tentu saja tidak akan ada yang tega menghancurkan nya.


"Oma, sama Opa pamit ya. Davina bobo sama Mama dan Papa kan?" seloroh Sarah sambil menatap Hanna dan Devan bergantian.


"Iya dong Oma," jawab Davina sambil melompat kegirangan.


"Ok....ayo Opa, l" Oma Sarah langsung pergi meninggalkan Devan dan Davina, kemudian ia mulai melewati Hanna yang berdiri di depan pintu, "Jangan khilaf lho Han, sebaiknya rujuk kalau pun khilaf udah halal," seloroh Oma Sarah sambil tertawa.


"Mama!!!" geram Hanna.


"Apa?" jawab Oma Sarah mengejek, "Pastikan hati kamu, kamu mau sama Hilman atau balikan sama Devan Mama setuju asalkan kamu dan cucu Mama bahagia," Oma Sarah menepuk pundak Hanna kemudian ia masuk, dan meninggalkan Hanna yang masih berdiri di depan pintu.


Hanna kini berbaik dan bersiap ingin melarikan diri, namun tiba-tiba Davina memanggilnya.


"Mama!!!" seru Davina.


Hanna urung untuk melangkah, kini ia terpaksa berbalik lagi dan menatap Davina.


"Lho, kok ke kamar?" tanya Hanna bingung.


"Kan Davi mau bobo sama Mama, sama Papa," ujar Davina sambil menutup pintu kamar.


"Tapi Davina," Hanna mulai panik saat pintu kamar mulai di tutup oleh Davina, udara di ruangan itu serasa sangat minim. Bahkan suasana mendadak menjadi horor.


Davina kemudian mengambil remote control dan mematikan lampu, hingga lampu tidur yang kini menyala.


"Ayo bobo," Davina menarik Devan untuk naik ke atas ranjang.


"Papa buka jas Papa dulu," Devan melepaskan jasnya, kemudian melipat kemejanya hingga sampai sikut.


"Ayo Pa," Davina terus memaksa Devan untuk naik ke atas ranjang.


Devan tidak menolak apapun keinginan Davina, rasa bersalah nya sangat besar hingga menimbulkan rasa penyesalan. Dan Devan akan melakukan apa saja yang di inginkan putra putri nya, asalkan ia tidak dibenci oleh kedua anaknya nya.


"Mama!!!" teriak Davina, sebab sang Mama hanya berdiri di depan cermin tanpa ingin mendekat.


"Davina, saja yang tidur dengan Papa. Kan Davina setiap malam tidur dengan Mama," kata Hanna dengan suara lembut agar Davina tidak memaksanya untuk tidur satu ranjang dengan Devan.


Davina duduk di atas ranjang, ia menunduk tanpaknya cairan bening akan segera turun dari matanya.

__ADS_1


"Davina kok cemberut?" tanya Devan, "Apa yang di bilang Mama tadi beneran kan? Davina udah sering bobo sama Mama. Sekarang kita berdua aja Bobonya," kata Devan yang juga berusaha merayu putri kecilnya, ia tahu tidak akan mungkin tidur satu ranjang lagi dengan Hanna. Tapi Davina masih terlalu kecil dan sulit untuk menjelaskan nya.


"Enggak mau, Mama enggak sayang sama Davi," Davina meneteskan air mata.


"Sayang," Hanna mulai panik, dan ia mendekati Davina, "Jangan nangis dong, Davina kan anak baik," kata Hanna lagi.


"Ayo Ma kita bobo bareng," pinta Davina lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


Hanna sejenak menatap Devan, begitu juga Devan yang tersadar dengan Hanna yang menatapnya.


"Only until our little princess falls asleep," kata Devan pada Hanna.


Hanna mengangguk, dan setuju dengan apa yang di katakan oleh Devan.


"Yuk," Hanna merebahkan diri dan tidur dengan memunggungi Devan Dan Davina.


Davina langsung memeluk Devan, karena ia ingin tidur dengan sang Papa.


Jam menunjukkan pukul 23:00 Hanna tentu saja tidak tertidur, ia hanya menahan nafas karena takut tidur seranjang dengan Devan.


Devan yang melihat Davina sudah terlelap mulai terbangun, ia turun dari ranjang dan ingin keluar. Tapi Devan tidak tahu apa pin pintu kamar tersebut, namun tanpa di duga Hanna langsung turun dari ranjang sang membuka pintu tersebut.


"Terima kasih," kata Devan, sambil menunduk.


"Iya," Hanna mengangguk dengan canggung.


Devan mulai melangkah keluar, namun tiba-tiba suara Hanna menghentikan langkah kakinya.


"Mas," Hanna sebenarnya malu, tapi mau bagaimana lagi.


"Iya," Devan berbalik dan melihat dirinya, lengannya menggantung jas yang tadi ia lepaskan.


"Em...." Hanna menggaruk tengkuknya, ia sangat malu sekali, "Maaf."


"Maaf?" tanya Devan bingung.


"Em," Hanna mulai berkeringat dingin, "Maaf untuk kejadian di taman tadi, aku enggak sengaja," jelas Hanna dengan bibir yang terasa berat untuk mengucapkan kata itu.


"Tidak apa, dulu juga lebih dari itu bukan?" goda Devan.


Glek.


Hanna meneguk saliva, dan Devan semakin membuatnya merasa malu. Kemudian Hanna langsung menutup pintu kamar, ia bersandar pada daun pintu.


"Huuuufff....." Hanna menghembuskan nafas dengan panjang, berharap perasaan nya bisa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2