
Brakkk!!!
Devan menendang pintu apartemen milik Adam, kini Devan tidak percaya lagi pada orang suruhan nya. Karena tidak ada satupun yang menghasilkan. Hingga Devan kini memutuskan untuk mencari Hanna dan Derren sendiri saja. Dan kini tujuannya adalah apartemen Adam.
Tap tap tap.
Kaki Devan melangkah masuk, dan ia melihat Adam tengah duduk santai sambil memainkan ponselnya. Adam terlihat santai saja, bahkan saat ia melihat Devan.
"Apa kau tidak bisa sopan sedikitpun?!" kata Adam dengan sinis.
Devan tidak perduli, ia melihat Adam dengan penuh amarah, "Dimana Hanna?!" tanya Devan to the point.
Adam menatap remeh Devan, ia bahkan tersenyum miring.
"Apa kau tidak mendengar ku?" geram Devan. Ia menarik kerah kemeja Adam.
"Lepas!" Adam tidak tinggal diam, ia mendorong Devan hingga Devan melepaskan tangan nya.
"Jawab? Dimana Hanna?!" tanya Devan dengan geram.
"Hanna?" Adam tidak berniat menjawab, yang ada ia ingin bermain-main dengan Devan, "Hanan siapa?" tanya Adam.
"Hanna istri ku!" tegas Devan.
Adam tersenyum, "Istri mu?" Adam terkekeh, "Istri mu itu Diana Kak Dev," Adam merapikan kemejanya dan kembali duduk santai, "Kalau Hanna itu pengasuh Derren, sekaligus dia itu calon adik ipar mu," Adam santai bahkan ia menyisir rambutnya dengan tangan nya.
"Kalau bicara jangan sembarang!" geram Devan, dan ia ingin mencekik Adam.
Adam yang dapat membaca gerakan Devan, cepat-cepat meloncati sofa. Hingga keduanya saling berhadapan tapi dengan sofa yang menjadi pembatas, "Apa aku salah bicara Kak Dev, tapi itu benarkan," Adam menaik turunkan kedua alis matanya, "Kau tau Kak Dev, Hanna itu tengah mengandung anak ku," bohong Adam. Ia melakukan itu hanya untuk memanas-manasi Devan saja.
"Kau!" Devan mengepalkan tangannya.
"Ya....ya....ya.....Kak Dev," Adam tersenyum bahagia melihat wajah Devan saat ini, "Aku salahnya dimana? Beberapa bulan lalu, Kau sendiri yang mengatakan jika Hanna itu pengasuh anak mu. Lalu sekarang dia itu istri mu, yang benar itu yang mana? Yang salah itu siapa?" tanya Adam sambil terkekeh, "Jangan berbelit-belit, jadilah lelaki yang tegas, lihat aku. Sekali aku mencintai seorang wanita maka aku akan memperjuangkan nya."
"Hanna itu istri ku!" tegas Devan.
"Diana?"
__ADS_1
"Kami sudah bercerai!" jawab Devan.
"Lalu kenapa kau mencari Hanna kemari?" tanya Adam lagi sambil tersenyum mengejek.
"Maksud mu?"
"Kak Dev," Adam menepuk pundak Devan, "Kau bilang Hanna istri mu, tapi kenapa menanyakan istri mu pada lelaki lain?" tanya Adam dengan jelas, bahkan masih terkekeh karena melihat wajah kesal Devan, "Kau lucu Kak Dev, kau sedang melawak kah?"
Devan terdiam mencerna pertanyaan Adam, "Tapi aku yakin kau tahu dimana Hanna!"
"Ahahahaaa.....kalau sudah tiada baru terasa...." Adam malah tersenyum sambil bernyanyi.
"Adam!!!" Devan semakin geram dengan tingkah Adam yang tidak mau menjawab pertanyaan nya dengan baik.
"Keluar dari rumah ku!" Adam menunjuk pintu, "Cari istri mu sendiri! Tapi tunggu Kak Dev. Bukankah kau sudah menceraikan Hanna?" tanya Adam, "Berarti mantan suami dong, Ahahahhaha....." Adam sangat suka sekali melihat Devan yang seperti ini, Devan yang selalu emosi bila melihatnya.
"Aku tidak akan menceraikan Hanna!" sergah Devan.
"Tapi Kak Dev, Hanna pernah bilang kalau kau sudah menceraikan Hanna. Dan satu lagi Kak Dev, kau tidak mengakui anak yang dia kandungan. Tidak apa aku siap menerima kedua anak itu, biar aku saja yang menjadi Ayah nya," kata Adam lagi dengan bangganya, "Oh....ya Kak Dev, aku mau bilang kalau anak kedua ku itu perempuan," ujar Devan tersenyum bahkan tanpa beban sekalipun.
"Adam katakan dimana Hanna?" Devan tertunduk tanpa melihat Adam.
Adam yang berdiri di belakang sofa hanya santai tanpa ingin menjawabnya, "Nanti akan aku beritahu Kak Dev, setelah anak itu lahir talak mu akan sah Kak Dev. Nah aku akan menikahi Hanna dan kau akan menjadi salah satu tamu undangan nya," ujar Adam dengan bahagia nya. Untuk membuat Devan panas.
"Adam!" geram Devan.
"Bye Kak Dev, aku harus ke kampus dulu ya. Karena aku harus segera menyelesaikan pendidikan ku, setelah aku menjadi dokter spesialis kandungan. Aku kan bisa fokus pada bulan madu kami nantinya, Ahahahhaha......bye. Kak Dev," Adam cepat-cepat keluar dari Apartemen nya, ia meninggal kan Devan yang kesal tanpa menemukan jawaban sedikitpun.
"Adam!" Devan hanya bisa menahan amarahnya, sementara Adam sudah pergi tanpa perduli padanya.
Setelah itu Devan mengambil ponselnya, dan ia mengirimkan pesan pada seseorang.
Adam yang sedang mengemudi sedikit menyadari hal aneh, ia menatap kaca spion, "Perasaan itu mobil dari tadi ngikutin terus deh," gumam Adam. Setelah itu Adam terdiam dan kembali melihat dengan jelas, "Nah kan, dia memang lagi ngikutin. Apa itu orang suruhan Kak Dev?" tanya Adam. Bibir Adam tersenyum setelah mendapatkan ide yang cukup pinta di otaknya, ia mencari jalan lain dan berputar-putar di kota, "Ikutin terus sampai malam, sampai purnama tiba, Ahahahhaha....." Adam tertawa membayangkan wajah kesal Devan. Ia yakin anak buah Devan 0asti susah menghubungi Devan.
Adam kemudian mendapatkan ide baru, ia masuk ke perumahan kumuh. Bahkan jalanan itu cukup sempit sekali, "Ayo ikuti terus," gumam Adam tersenyum. Adam memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah, ia kemudian turun dan menggedor pintu rumah tersebut.
Tidak lama kemudian Devan sampai, sepertinya anak buahnya sudah mengirimkan lokasinya pada Devan.
__ADS_1
Tok tok tok.
Devan mengetuk pintu rumah tersebut, tidak lama kemudian pintu terbuka.
Clek.
Seorang nenek yang terlihat berdandan nyentrik mulai berdiri di depan pintu.
"Ada apa ganteng?" tanya Nenek tersebut dengan centil.
Devan bergidik ngeri melihat Nenek tersebut. Tapi ini demi Hanna pikir Devan, "Hanna nya ada Nek," tanya Devan.
"Hanna?" Nenek tersebut balik bertanya, "Ada," kata Nenek tersebut mengangguk.
"Saya boleh masuk?" tanya Devan dengan bahagia.
"Boleh dong," Nenek itu membuka pintu lebar dan Devan langsung masuk, "Dimana Hanna Nek?" tanya Devan dengan bahagia.
"Di sana," Nenek tersebut menunjuk sebuah pintu.
Devan cepat-cepat masuk ke kamar itu, tapi tidak melihat siapa-siapa. Hingga sang Nenek masuk dan mengunci pintu, tidak tanggung-tanggung Nenek tersebut mengantongi kunci kamar itu.
"Dimana Hanna Nek?" tanya Devan yang mulai merasa aneh.
"Hanna siapa? Bukannya tadi kamu nyari aku suminten....kamu pengen ke kamar aku kan, panggilnya jangan Ayang aja ya tampan," kata Nenek itu dengan centilnya.
Ting.
Ponsel Devan berdering dan ada sebuah pesan, [Selamat menikmati!] Adam.
"Sial!" gumam Devan karena ternyata ini jebakan Adam.
Saat tadi Adam menggedor pintu, ia juga di sambut seorang Nenek yang aneh. Tapi Adam tersenyum karena merasa mendapat ide cemerlang, ia berpura-pura menumpang ke kamar mandi. Kemudian ia keluar lewat pintu belakang, hingga meninggalkan mobilnya di sana. Dan benar saja Devan terkena jebakan nya.
"Sayang ayo nodai aku," kata Nenek tersebut yang sudah tidak sabar.
Glek.
__ADS_1