
Setelah membersihkan diri, Risa baru sadar ternyata ia tidak memiliki baju ganti. Bahkan saat tadi siang menuju hotel ia tidak membawa koper sama sekali.
"Ya ampun, terus aku harus pakai baju apa?" gumam Risa sambil menepuk jidatnya, "Gimana aku bisa keluar dari sini, atau apa iya aku pakai handuk saja lalu keluar. Tapi tidak apa kan dia itu, ah siapa namanya?" Risa bahkan lupa siapa nama suaminya sendiri, "Entahlah...." tidak ingin pusing berlama-lama, Risa tidak ingin terus memikirkan siapa nama pria yang baru saja menikahinya. Sungguh manusia yang sempurna dengan segala kekonyolan, "Tapi aku yakin dia tidak akan masuk ke kamar ini," Risa memutar gagang pintu lalu keluar, tapi ternyata ia salah menduga. Sebab saat ia akan keluar ternyata Hilman masuk, dan dengan terpaksa Risa kembali menutup pintu kamar mandi lalu mengurungkan niatnya untuk keluar, "Ya ampun, sampai kapan aku di sini," gerutu Risa, karena tidak juga menemukan solusi akhirnya Risa duduk di lantai dan bersandar pada dinding, dengan jubah handuk yang menutupi tubuhnya.
Karena rasa lelah yang begitu besar, waktu tengah malam pun tiba. Akhirnya Risa tertidur dengan duduk di lantai, tidak tahu entah apa yang terjadi semakin lama tidurnya semakin nyaman. Hingga tiba-tiba mata Risa terbuka dan ternyata ia sudah berada di bawah selimut, awalnya ia tidak memikirkan nya. Namun ingatan sebelum ia tertidur muncul, cepat-cepat Risa mendudukkan tubuhnya sambil melihat kebawah selimut. Dan ternyata ia masih menggunakan jubah handuknya, sedetik kemudian ia melihat ke depan dan ada Hilman yang tengah berkutat dengan ponsel nya di sana. Risa bingung apakah ia mengigau hingga naik ke atas ranjang, apa mungkin Hilman yang mengangkat dirinya. Tapi Risa hanya diam tanpa berani bertanya.
"Berapa Hanna membayar mu?!" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Hilman, ia yang awalnya menatap ponselnya kini beralih menatap Risa.
Risa terkejut karena ia pikir tadinya Hilman tidak tahu ia sudah terbangun, tapi ternyata tidak. Lalu pertanyaannya Hilman yang aneh membuat Risa merasa lucu, "Membayar?" Risa tidak ingin salah mendengar hingga ia kembali bertanya.
"Berapa uang yang kau terima, hingga kau mengorbankan diri menikah dengan ku?!" tanya Hilman lagi.
Risa memutar bola matanya, hidup yang mewah terbiasa dengan uang tidak akan ada yang bisa membelinya. Tapi Risa tidak ingin sombong, dan mengatakan siapa dirinya, "Dasar lelaki egois, sudah di tolong malah nuduh yang enggak-enggak!" geram Risa yang tidak mau mengalah, "Apa kau tidak ingin mengucapkan terimakasih pada ku?" tanya Risa lagi dengan sinis.
Hilman mulai bangun dari duduknya, "Terimakasih?" tanya Hilman.
"Sama-sama!" jawab Risa dengan menatap Hilman, ia juga tidak ingin kalah dengan Hilman.
"Baiklah, karena kau sudah masuk dalam hidup ku. Maka kau akan sulit untuk keluar!" tegas Hilman, "Kita sudah menikah, dan aku berhak atas diri mu. Tidak ada drama ataupun aturan yang bisa kau buat kecuali aku, dan malam ini juga kau harus menjalankan tugas mu sebagai seorang istri!" tambah Hilman lagi.
Risa seketika diam dan mencerna perkataan Hilman, "Maksud anda?"
__ADS_1
"Malam ini, malam pertama kita. Dan kau tidak boleh menolak ku!" jelas Hilman.
Deg.
Jantung Risa berdetak, dengan tubuh yang bergetar sempurna. Ia bahkan tidak memikirkan sampai di sana sebab ia pikir Hilman tidak mungkin mau, tapi mendengar kata-kata Hilman barusan Risa seakan mendadak mendapatkan serangan jantung yang tiba-tiba.
"Malam pertama?" tanya Risa lagi dengan suara yang terbata-bata.
"Kenapa?" tanya Hilman.
"Tuan," Risa mencoba bernegosiasi dengan sang suami, "Aku ini....." Risa menggaruk kepalanya karena ia tidak tahu harus berkata apa. Hingga dengan cepat ia meloncat dari atas ranjang dan duduk di depan Hilman yang tengah berdiri, "Tuan aku sudah menolong mu, tidakkah kau kasihan pada ku," lirih Risa.
Deg.
Jantung Risa bagai di tusuk ribuan belati, ia menatap Hilman dengan mata yang berkaca-kaca. Inikah yang di rasakan Hanna saat dulu, inikah yang di lakukan Devan pada Hanna. Dan kini Risa juga merasakan, lalu apa kabar dengan perasaan Risa. Sakit.
"Tidak usah menangis! Aku tahu wanita seperti mu ini hanya mengincar uang!" papar Hilman lagi dan langsung melempar Risa hingga terlentang di atas ranjang.
Risa masih diam, dengan sejuta pertanyaan. Uang dan uang yang ada dipikiran Hilman sungguh membuatnya bertanya-tanya. Apakah Hilman tidak tahu ia adalah putri dari pemilik perusahaan Anderson company, lalu kenapa ia harus menjual dirinya untuk mendapatkan uang. Tapi tidak masalah, bukan Clarisa Anderson namanya jika tidak bisa membuat pria sombong di hadapannya itu berlutut di bawah kakinya, "Aku pastikan kau akan berlutut di kaki ku," batin Risa sambil mengepalkan tangannya.
"Kenapa diam apa yang kau pikirkan?" Hilman langsung melepas jas nya dan melemparnya dengan asal, setelah itu ia melepaskan beberapa kancing kemejanya dan melipat lengan kemejanya hingga siku. Dengan perlahan Hilman ikut naik ke atas ranjang dan menindih Risa, "Kau sudah siap?" tanya Hilman dengan senyum miring.
__ADS_1
"Tuan," Risa benar-benar takut jika Hilman meminta haknya, apa mungkin ia harus memberikan kesucian nya pada lelaki yang bahkan namanya saja ia lupa. Walaupun status mereka suami istri, Risa memang siap menggantikan posisi Hanna. Tapi ia tidak pernah berpikir akan malam yang akan di lewati bersama dalam satu ranjang.
"Kenapa?" tanya Hilman tanpa bangun dari atas tubuh Risa.
"Tuan, aku belum siap untuk itu," tutur Risa dengan suaranya yang bergetar.
Hilman menarik sebelah alisnya, "Sudahlah, tidak usah acting!"
Risa tidak mengerti dengan kata-kata Hilman, ia menatap Hilman penuh tanya.
"Sudah berapa lelaki yang membayar mu?" pertanyaan itu keluar dari bibir Hilman dengan begitu saja, "Tapi malam ini kau bertingkah seolah masih suci dan polos, menjijikan kau pikir aku Sudi menyentuh mu!" dengan cepat Hilman bangun dari atas tubuh Risa, dan ia kembali memakai jasnya.
Risa juga ikut turun dari atas ranjang, "Hey, jika kau pikir aku bisa ditindas oleh mu? Kau salah, sudah di tolong tapi masih berbicara seenaknya. Dasar tidak tahu diri!!" geram Risa.
Hilman hanya tersenyum remeh, bahkan ia tidak perduli dengan kata-kata wanita yang barusan ia nikahi beberapa jam yang lalu, "Aku tidak akan sudi menyentuh mu!" kata Hilman lalu ia pergi begitu saja, bahkan meninggalkan Risa begitu saja.
Setelah pintu kembali tertutup, Risa tinggal sendiri dan meremas kedua tangannya, "Jangan panggil aku Clarisa Anderson jika kau tidak memohon dan berlutut di bawah kaki ku!" geram Risa.
*
Tolong Vote.
__ADS_1