Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Di bawa pulang


__ADS_3

Kabar tentang keadaan Risa sampai di telinga Arsielo Anderson, padahal ia baru pagi tadi sampai ke Indonesia. Karena ia ingin berkunjung ke kediaman Hilman, mengingat ia sudah sangat merindukan putri bungsu nya. Namun, malam ini ia mendapatkan kabar tentang Risa yang di larikan ke rumah sakit membuat emosinya benar-benar tidak bisa di bendung. Malam itu juga ia langsung ke rumah sakit bersama dengan Mom Citra. Untuk melihat keadaan Risa, apa lagi ia mendapatkan laporan tentang Risa yang hanya di tinggal sendiri di rumah.


"Risa," Mom Citra langsung memeluk Risa, ia sangat merindukan putri nya.


"Mom," Risa juga memeluk Mom Citra dengan tidak kalah eratnya.


"Kau akan ikut Daddy kembali ke Italia," kata Dad Arsielo Anderson tanpa ingin di bantah.


Risa terdiam dan mencengkram erat selimut, "Risa di sini saja," lirih Risa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak, kau pikir Dad tidak tahu dia meninggalkan mu pergi begitu lama. Kau harus ikut Daddy dan Mom kembali ke Italia!"


Air mata terus saja menetes, tidak tahu harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya. Risa kini di atas jet pribadi milik Dad Arsielo Anderson hanya terdiam, ia hanya memeluk perutnya tanpa tahu harus apa. Sedih, sakit, dan perih hanya itu yang dirasakan oleh Risa.


"Kamu minum dulu," Mom Cinta membawakan segelas jus untuk Risa.


Risa mengangguk dan meneguk jusnya, setelah itu ia memberikan kembali gelas nya pada Mom Citra.


"Istirahat ya," Mom Citra menarik selimut untuk menyelimuti Risa.


Risa menutup mata saat Mom Citra mengecup keningnya, setelah itu ia tertidur pulas karena pengaruh obat yang baru saja ia telan.


Mom Citra dan Dad Arsielo tidak tahu tentang kehamilan Risa, bahkan saat di rumah sakit pun Adam tidak memberi tahu pada kedua orang tua Risa, karena saat pagi itu Dad Arsielo langsung membawa Risa pergi karena memilih merawat sendiri. Adam tidak bisa menahan, ia kemudian memberikan obat dan menyetujui keinginan keluarga.


Italia adalah negara tempat Risa di lahirkan, bahkan ia juga dibesarkan di sana. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan kini kembali ia tempati, tidak ada yang berubah dari kamar tersebut. Semua masih saja sama saat ia tinggalkan dulu.


"Risa, kamu sudah minum obat?" tanya Mom Citra.


"Sudah Mom," jawab Risa.


"Nanti ada dokter yang akan memeriksa keadaan mu," ujar Mom Citra.


"Mom, aku mohon tidak usah," tolak Risa.

__ADS_1


"Clarisa, ayolah demi kesembuhan mu," pinta Mom Citra penuh harap.


"Tolong Mom, apa aku harus menangis lagi?" lirih Risa dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Mom Citra tidak lagi memaksa Risa, ia segera keluar dari kamar Risa dan melihat Dad Arsielo yang ternyata berdiri di depan pintu bahkan mendengar sendiri apa yang barusan di katakan oleh Risa.


"Jangan paksa dia Dad, aku mohon," pinta Mom Citra.


Dad Arsielo mengangguk, ia menuruti keinginan Mom Citra. Ia juga tidak tega melihat keadaan Risa saat ini.


Tidak ada hari tanpa menangis, Risa hanya menangis dan diam tanpa bicara. Tidak ada lagi tawa, canda dan juga Risa yang selalu usil. Yang ada hanya Risa yang murung dan pendiam.


"Risa," Hanna yang tahu keadaan Risa langsung meminta Devan untuk membawanya ke Italia, ia juga ingin melihat keadaan Risa. Dulu Risa yang selalu ada untuknya, dan sekarang Hanna yang akan selalu ada untuk Risa.


Risa melihat Hanna dan langsung memeluknya dengan sangat erat, seakan Risa ingin memberitahukan kepada Hanna jika perasaannya kini sedang tidak baik-baik saja.


"Gimana caranya aku buat bantu kamu?" tanya Hanna yang menawarkan dirinya, mungkin saja Risa butuh bantuan darinya pikir Hanna.


Hanna tidak mengerti dengan perasaan Risa saat ini, apakah Risa ingin berpisah atau tidak dan tidak ada yang tahu tentang perasaannya sebab Risa hanya diam.


"Risa kamu cerita ya," pinta Hanna.


Risa tersenyum getir, apa yang bisa ia katakan saat ini, "Aku harus cerita apa?" Risa juga tidak tahu harus mengatakan apa.


"Perasaan mu saat ini."


"Aku hanya pasrah saja dengan keadaan, terserah keadaan yang akan membawa ku kemana," jelas Risa.


Risa tahu ia sudah mencintai Hilman, lalu bagaimana dengan Hilman. Jika saat dulu ia tidak butuh pengakuan cinta maka tidak dengan sekarang, saat perhatian Hilman yang mulai renggang Risa merasa tidak lagi di butuhkan.


"Dad akan mengurus perceraian mu!" kata Dad Arsielo Anderson yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Risa langsung melihat Dad Arsielo Anderson, "Risa tidak mau," jawab Risa sambil memikirkan nasib janin yang tengah di kandung nya.

__ADS_1


"Apa kau mencintainya?"


"Iya," jawab Risa dengan pasti.


Devan, Hanna, Mom Citra dan Dad Arsielo tercengang saat mendengarkan jawaban Risa yang sangat di luar pikiran. Sebab mereka berpikir jika Risa tidak menyukai Hilman sama sekali.


"Lalu apa dia mencintai mu? Atau pernah mengatakan cinta pada mu?" Dad Arsielo memperjelas pertanyaan nya agar Risa mudah memahami nya.


Risa hanya diam tanpa menjawab, karena memang tidak pernah ada kata cinta yang luar dari bibir Hilman.


"Kenapa kau diam?" tanya Dad Arsielo.


"Apa itu penting Dad?" tanya Risa.


Dad Arsielo diam sejenak, ia melihat raut wajah putrinya yang terlihat begitu bersedih, "Tentu saja penting, Kak Dev dan istrinya saling mencintai, Dad dan Mom juga saling mencintai dan kami bisa hidup bersama sampai sekarang karena saling mencintai," jelas Dad Arsielo lagi.


Risa hanya diam dan mengusap air matanya, ia menutup wajahnya sambil terisak.


"Dad cukup," Mom Citra langsung mengusap punggung Risa, dan memeluk putrinya.


"Dad punya tawaran untuk mu, kalau kau bercerai dari dia Dad akan mengijinkan mu berlibur kemana saja dan berapa lama yang kau mau," tawar Dad Arsielo, "Kau juga Dad beri kebebasan," Arsielo Anderson tahu putrinya ingin liburan dengan sesukanya, serta memiliki kehidupan bebas tanpa ada aturan.


"Terserah pada Dad saja," jawab Risa dengan pasrah.


"Dad, cukup!" Devan meminta Dad Arsielo untuk tidak berdebat dengan Risa, mengingat Risa masih sangat terpuruk.


Arsielo diam kemudian ia segera keluar dari kamar putrinya, di susul oleh Devan yang juga langsung mengikuti Dad Arsielo menuju ruang kerjanya.


"Dad tidak tahu mengapa Clarisa bisa begitu sedih, dia itu putri ku yang cerewet, kenapa dia bisa begitu," ujar Dad Arsielo.


"Berikan dia waktu Dad, tidak perlu buru-buru" jawab Devan.


"Tapi suaminya nya itu keterlaluan, dia pergi dan menelantarkan putri kesayangan Dad."

__ADS_1


__ADS_2