
"Lho, Hanna kamu tidur di kamar Davina?"
"Hanna mandi dulu ya Ma."
Hanna turun dari atas ranjang Davina, kemudian ia menunju kamarnya. Saat membuka pintu Hanna langsung melihat Devan yang duduk di atas ranjang sambil bermain ponsel, tidak perduli dan tidak ingin perduli Hanna melewati Devan tanpa menyapa sedikit pun.
"Hanna!" terdengar suara Devan yang berat khas bangun tidur.
Dengan terpaksa Hanna menghentikan langkah kakinya, ia berbalik dan menatap Devan dengan malas.
"Tidak bisakah kita berbicara dengan baik, dari hati ke hati?" tanya Devan yang ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan Hanna.
Sejenak Hana terdiam dan menimbang apa yang barusan dikatakan oleh Devan.
"Katakan kalau kau tidak mencintai ku lagi."
"Aku masih mencintaimu Mas, aku tidak bohong akan itu semua!" jawab Hanna.
"Lalu salahnya di mana?!"
"Salah? Ini sangat salah!" kata Hanna dengan yakin menatap Devan yang juga menatap dirinya.
Devan terdiam menantikan jawaban Hanna lagi, ia benar-benar ingin tahu apa yang akan Hanna katakan saat ini.
"Ini salah, aku ini sudah membuat janji dengan orang lain untuk menjadi istrinya. Bahkan aku yang meminta," dengan kaki yang lemah Hanna langsung duduk di sofa, ia menunduk sambil berulang kali mengusap wajah.
Devan turun dari ranjang, ia berjalan mendekati Hanna, "Ini tidak salah Hanna, karena akan lebih salah lagi jika kau dan dia yang menikah."
"Tapi aku bukan hanya mengingkari janji pada satu orang, aku juga sudah menyakiti hati wanita yang sangat bahagia mendengar aku dan Mas Hilman akan menikah," jawab Hanna lagi.
Devan duduk di samping Hanna, ia mengusap punggung Hanna dan mencoba menenangkan nya. Sejenak keduanya diam hanyut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Andai saja saat itu aku tidak buru-buru dan bisa tenang, pasti ini tidak akan terjadi," tutur Hanna sambil menyandarkan tubuhnya.
Devan menatap Hanna dan mendengarkan dengan jelas apa yang barusan di katakan oleh Hanna, "Ya, tapi ini bukan sepenuhnya salah mu juga. Aku juga bersalah karena hanya diam hingga membuat mu salah paham."
Hanna terkejut mendengar kata-kata Devan, aneh saja rasanya jika Devan mengakui kesalahannya.
"Aku juga salah Hanna, tapi kita akan semakin salah bila berpisah. Ini bukan hanya tentang cinta kita, tapi ada dua anak yang menginginkan kita tetap bersama," Devan benar-benar ingin menyakinkan Hanna, jika apa yang telah terjadi pada mereka berdua bukanlah suatu kesalahan. Melainkan satu kebenaran tentang kehidupan yang masih terus berjalan, "Aku yang akan menjelaskan semuanya pada Hilman, aku sudah berteman cukup lama dengan nya. Walaupun kami bukan teman dekat, tapi aku cukup tahu siapa dia," tambah Devan lagi.
Hanna tidak tahu lagi harus berbicara apa, hingga ia hanya bisa menangis dengan air mata yang semakin basah di pipinya.
"Dari semalam kau terus saja menangis, aku mohon berhentilah. Aku mencintai mu dan aku akan membahagiakan mu, apa pun caranya," ibu jari Devan berusaha terus mengusap air mata yang jatuh di pipi Hanna, tapi sayang air mata itu tidak pernah kering. Setiap Devan menghapusnya air mata itu kembali jatuh menetes dengan begitu saja, "Baiklah menangis lah sekuatnya, sekencangnya. Tapi berjanjilah ini tangisan mu untuk yang terakhir kalinya."
"Hiks....hiks...hiks...." dengan cepat Hanna memeluk Devan begitu erat, air mata yang terus mengalir dengan sendirinya seakan meluapkan rasa kesal yang ia rasakan.
"Kau tidak salah, aku juga salah. Semua ini demi anak-anak kita, aku yang paling bersalah. Dan aku ingin menebus semua kesalahanku pada anak-anak ku, kau ingat setiap kali Davina bercerita ingin tidur bersama kedua orang tuanya?" Devan seakan membawa Hanna mengingat bertatap Davina ingin sekali tidur di antara kedua orang tuanya, "Dan sebenarnya itu membuat hati ku sakit Hanna, aku tidak ada saat kau mengandungnya. Aku bahkan meragukan dia, dan saat dia tumbuh dengan perkembangan nya aku pun tidak menyaksikan nya. Lantas pantaskah dia memanggil ku Papa? Rasanya itu menjadi beban tersendiri, yang tidak pernah aku katakan, dan kali ini aku benar-benar ingin menebusnya. Aku mohon Hanna, jangan lagi membenci ku. Menutupi cinta kita dengan rasa benci dan egois," pinta Devan dengan suara yang bergetar, ia benar-benar ingin membuat kedua anaknya bahagia. Bukan hanya sekedar itu, tapi ia juga ingin hidup selamanya dengan wanita yang ia cintai.
"Iya," Hanna mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh Devan.
"Aku yang akan menemui Hilman, dan kedua orang tuanya."
Devan mengangguk, karena ia tidak tahu perihal itu, "Iya aku yang akan menemui mereka, dan meminta maaf. Lagi pula semuanya belum terlambat," tambah Devan lagi yang ingin meyakinkan Hanna.
"Selesaikan baik-baik ya Mas," pinta Hanna lagi.
"Iya sayang," jawab Devan sambil mengecup kening Hanna.
Deg.
Semua berubah seketika, Hanna merasa ada yang aneh setelah mendengar panggilan Devan barusan. Bahkan Devan juga mengecup kening nya, perlahan Hanna menjauh setelah menyadari dari tadi ia memeluk Devan.
"Kenapa menjauh?" tanya Devan.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja," jawab Hanna dengan tidak enak hati.
"Kita sudah suami istri lagi," jelas Devan.
"O iya lupa," jawab Hanna dengan bodohnya.
"Hehehe.." seketika suasana berubah lucu, karena Hanna yang terlihat aneh. Bahkan Devan sampai terkekeh geli melihat kelucuan Hanna.
"Mas ish udah ah. Aku mau mandi dulu," Hanan cepat-cepat berdiri namun sedetik kemudian ia kembali terjatuh karena Devan menarik lengannya.
Tatapan keduanya bertemu, Hanna yang terjatuh di atas tubuh Devan juga membalas tatapan Devan. Sedetik kemudian semua berubah, sebab Devan membalikkan posisi Hanna yang berada di bawah.
"Kau semakin cantik saja, apa pagi kalau hijab mu ini di lepas dulu," dengan cepat Devan melepaskan hijab kurung yang melekat di kepala Hanna.
Hanna tidak melarang sama sekali, hijab nya melayang entah di mana. Sebagai wanita yang sudah pernah bersuami ia sudah sangat mengerti, apa lagi Devan adalah orang yang dulu pernah menikahinya dan ia sangat tahu seperti apa Devan.
"Mama!!!"
Teriak Davina yang sudah siap dengan seragam sekolah nya, bahkan Hanna dan Devan tidak tersadar saat pintu terbuka dan Davina masuk.
Hanna dan Devan mulai panik, tapi keduanya masih diam saja. Karena masih terlalu terkejut.
"Papa lagi ngapain Mama!!!" seru Davina yang kini menarik baju sang Papa, karena ia panik, "Papa mau cekik Mama ya!!" teriak Davina lagi dengan kata-kata konyol nya.
Devan menggeleng, dan dengan cepat ia bangun dari atas tubuh Hanna. Sedangkan Hanna juga ikut berdiri dan merapikan daster yang sudah terbuka beberapa kancing bagian depannya.
Keduanya seperti orang ketakutan karena ketahuan sedang berbuat tidak senonoh, padahal sudah jelas mereka kini suami istri.
"Bukan gitu Davina," kata Devan.
Davina berkacak pinggang, dan menatap Devan dengan tajam.
__ADS_1
*
Semoga ada yang Vote, jadi Othor bakalan lanjut