
"O, kalau begitu duduk dulu," Risa langsung membantu Nenek Aminah untuk duduk, "Nek itu Kak Hanna, istri Kak Devan," Risa mulai memperkenalkan Hanna pada nenek mereka.
Hanna mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Nenek Aminah, "Nenek sehat?" tanya Hanna.
"Alhamdulillah," Nenek Aminah melihat wajah Hanna, "Mana cicit ku?" tanya Nenek Aminah.
"Mereka sedang di rumah bersama Omanya Nek, nanti Hanna bawa ke sini untuk bertemu Nenek," kata Hanna.
"Iya," Nenek Aminah mengangguk, dan ia terlihat bahagia.
Nenek Aminah dan Devan memang sering bertemu, tapi Devan hanya menunjukkan fhoto kedua anaknya. Terkadang Nenek Aminah meminta Devan membawa keduanya, tapi Devan tidak pernah mengabulkan satu kali pun keinginan Nenek Aminah.
"Nenek, cucu Nenek yang cantik ini akan menikah," kata Risa dengan wajah yang berbinar.
Nenek Aminah tersenyum mendengar berita bahagia tersebut, "Nenek senang sekali, semoga kau bahagia selalu cucu ku."
"Hehehe....." Risa terkekeh, melihat exspresi bahagia Nenek Aminah tanpa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mom Citra terus saja memijat kepalanya, ia tidak mengerti mengapa putrinya bisa mengambil keputusan dengan begitu gila dan tanpa berpikir dengan panjang.
"Nenek Risa ke kamar dulu ya," pamit Risa dan ia langsung menuju kamar yang biasa ia tempati saat berada di rumah Neneknya.
Kaki Risa mulai menaiki anak tangga, sampai di dalam kamar Risa tidak lupa untuk mengunci pintu, ia bersandar di daun pintu yang sudah tertutup rapat, "Risa kau bisa, ini demi kedua keponakan mu," gumam Risa demi menguatkan dirinya, tapi mengingat wajah Hilman yang terlihat dingin membuatnya sedikit takut. Tapi bukan Risa namanya bila menyerah begitu saja, dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan merendam tubuhnya agar lebih segar, "Rileks Risa...." gumamnya lagi, setelah cukup lama berendam Risa merasa lebih baik. Ia mulai mandi di bawah guyuran air shower dan selesai dengan semua ritual mandi ia langsung memakai jubah handuk berwana putih.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, Risa langsung berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Mom?" Risa melihat Mom Citra yang berdiri di sana.
__ADS_1
"Clarisa," Mom Citra langsung berlutut di bawah kaki putri nya, "Mom, mohon jangan lakukan ini," pinta Mom Citra penuh harap.
Risa langsung berjongkok, dan membantu Mom Citra untuk berdiri, "Mom, aku yang seharusnya berlutut di bawa kaki mu," Risa langsung memeluk Mom Citra dengan erat, "Tolong berikan aku sedikit saja kepercayaan Mom," pinta Risa sambil terus memeluk Mom Citra.
"Tapi ini tidak main-main," jawab Mom Citra yang tidak hentinya menangis.
Risa melepas pelukannya, ia memegang kedua tangan wanita yang sangat mencintai nya itu, "Mom percaya sama Clarisa, semua akan baik-baik saja. Dan Mom harus mengerti dengan perasaan Tante Sintia, Mom tidak kasihan melihat wajah nya barusan. Kalau nanti dia jatuh sakit karena masalah ini, apa Mom tidak merasa bersalah?" tanya Risa yang kini bertanya tentang keadaan Sintia.
"Tapi Risa."
"Mom, ini bukan hanya soal tanggungjawab. Tapi juga tentang rasa kemanusiaan, bayangkan bila kita yang berada di posisinya Tante Sintia?" Risa terdiam dan menantikan jawaban yang akan di kata oleh Mom Citra, namun karena Mom Citra masih diam akhirnya Risa mencoba berbicara kembali, "Demi rasa kemanusiaan dan saling menghargai Mom, tolong ikhlaskan Clarisa menikah dengan pria itu."
"Kalau ternyata kau tidak bahagia nantinya bagaimana?" mata Mom Citra masih berkaca-kaca bahkan, sedetik kemudian air matanya menetes dari manik mata indah nya.
"Cerai, dan cari yang baru," jawab Risa tanpa beban.
"Dasar anak nakal," Mom Citra langsung mencubit putri nakalnya yang punya banyak cara untuk membahagiakan dirinya.
"Siapa suruh nakal!!" kesal Mom Citra, namun ia memeluk Risa dengan cepat, "Mom bangga pada mu, kau sangat berjiwa besar, ternyata kau itu berhati baik."
"Iya dong anak Mom Citra...." tutur Risa dengan bangga, padahal ia pun tidak tahu apakah bisa bahagia atau tidak. Bahkan menikah dengan orang yang tidak pernah ia kenal sama sekali, ini terasa mimpi buruk yang mengerikan. Tapi demi jiwa kemanusiaan ia tetap kuat bahkan di hadapan keluarga sendiri, ia terus mencoba untuk tegar.
"Mom bertanya lagi, kau sudah yakin?"
"Yakin," Risa mengangguk berulangkali, dan terus menarik bibir nya dengan lebar ke masing-masing sudutnya.
Mom Citra mengusap air mata nya, ia mengangguk, "Kalau begitu Mom ke kamar dulu, dan kita makan setelah itu," Mom Citra segera pergi dari hadapan Risa, walaupun ia masih was-was tapi tetap saja senyum Risa meyakinkan nya.
Sampai di kamar Mom Citra melihat suaminya, ia langsung menghambur ke pelukan suaminya. Menangis dengan sekencang mungkin melepaskan perasaan takut akan pernikahan putrinya.
__ADS_1
"Dad, tolong batalkan pernikahan itu," pinta Mom Citra.
"Mom," Arsielo Anderson menggeleng, ia mencium kening Citra dengan cukup lama, "Biarkan saja, lagi pula Dad akan mengawasi pernikahan mereka, dan memastikan jika putri kita tidak akan tersakiti," kata Dad Arsielo.
"Dad yakin?" tanya Mom Citra.
"Iya."
Sedangkan Risa yang kini berada di kamarnya belum juga menggunakan pakaian nya, ia tengah memakan camilan sebanyak mungkin agar tetap tenang dan tidak lupa Risa juga meminum minuman bersoda, agar pikiran nya tetap jernih.
"Ya ampun Risa, kamu bisa," gumam Clarisa, "Dari pada aku pusing lebih baik aku pakai baju dan makan," Risa mulai memakai pakaian nya dan segera keluar dari kamar. Dengan langkah yang santai Risa segera berjalan menuju dapur, "Bik Inem, Risa lapar. Tolong dong, telur mata mata sapi sepuluh dan pakai nasi serta kecap manis ya," pinta Risa.
"Iya Non siap," jawab Bik Inem dengan semangat.
Risa menunggu Bik Inem yang tengah menyiapkan permintaan nya, dan sambil menunggu ia mulai memainkan ponselnya, "Nasib jomblo gini nih, enggak ada yang chat sama sekali," gumam Risa.
"Ini Non," Bik Inem mulai menghidangkan apa yang barusan di minta Risa.
"Makasih Bik Inem love...love...Eneng," kata Risa dengan senyuman, bahkan ia tidak pernah Risa berkata kasar pada Art sekalipun. Ia selalu menghargai terutama orang yang lebih tua darinya.
"Iya Neng sama-sama," jawab Bik Inem, ia tahu Risa sangat suka di panggil Eneng.
"Bik, minumnya mana ya. Jus aja ya Bik dua gelas," pinta Risa.
"Ok Non."
Risa tersenyum dan mulai memakan telur mata sapi pesanannya, bahkan dengan kecap manis kesukaan nya. Setiap kali ia tengah pusing maka makanlah yang menjadi penghiburnya, dan entah ia yang pusing menghadapi Hilman nantinya. Atau Hilman yang di buat pusing oleh segala kepolosan Risa.
*
__ADS_1
Like dan Vote ya kawan.