Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Maaf


__ADS_3

"Dokter bukannya saya tidak bisa hamil?" Diana kini tengah berada di rumah sakit, ia sedang memeriksakan kandungan nya. Karena selama ini dokter mengatakan jika ia tidak bisa mengandung, mengapa kini tiba-tiba ia mengandung.


"Kami juga merasa ini adalah keajaiban, tapi ibu memang mengandung.....usia janinnya satu bulan, hanya saja sepertinya ibu harus hati-hati," kata dokter ber-tag Anggia Tifani, "Tapi bukankah ini berita baik dengan begini? Ini yang di harapkan semua wanita yang sudah menikah bukan?" tanya dokter Anggia lagi.


Selesai berkonsultasi pada dokter, ia naik ke mobil dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Diana hanya diam tanpa berbicara, entah apa yang nanti tanggapan Devan bila tahu ia tengah mengandung.


Sementara di tempat lainnya, Devan tengah marah-marah karena membenci dirinya sendiri. Farhan membalut tangan Devan yang berdarah, bos nya itu seperti orang kesurupan karena terus saja marah dan menghancurkan barang di sekitarnya. Setelah menampar Hanna Devan langsung pergi menuju kantor, dan ada Farhan juga di sana.


"Bos, coba selesaikan masalah anda dengan baik....bukankah Anda ingin hidup lebih baik?" tanya Farhan yang ingin memberikan solusi, "Pilih salah satu dari mereka, jika anda menginginkan Diana tinggalkan Hanna, begitu juga sebaliknya," ujar Farhan.


Devan langsung menatap Farhan dengan tajam, bahkan beberapa detik kemudian ia menarik kerah kemeja Farhan, "Apa kau masih sehat?!!" kata Devan dan menghembuskan Farhan, hingga Farhan terhuyung dan terjatuh di sofa. Devan duduk di kursi kebesaran nya dan memijat kepalanya, ia sungguh sangat pusing dengan ini semua, "Aku tidak bisa meninggalkan Diana, karena Mama," kata Devan, "Aku tidak bisa juga meninggalkan Hanna."


Farhan diam dan mengerti tentang perasaan Devan saat ini, dimana Sarah terus memaksanya untuk bertahan dengan Diana. Tapi tidak bisa di tutupi jika Devan juga begitu mencintai Hanna.


"Aku ini hanya anak angkat, kau tahu itu bukan?" tanya Devan, "Aku di ambil dari jalanan, dan di angkat menjadi anak di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh Mama dan Papa, lalu apa yang bisa aku berikan pada mereka selain mengikuti keinginan mereka," kata Devan. Karena Sarah tidak pernah meminta hal padanya, dan pertama kali Sarah memintanya untuk menikahi Diana. Walaupun hanya satu permintaan itu tapi terasa begitu sulit, akan tetapi demi membalas budi dan tidak ingin dikatakan tidak tahu diri Devan menuruti keinginan Mamanya Sarah.


"Begini saja bos, sebaiknya anda cerita semua ini pada Hanna....agar dia tidak lagi salah paham," kata Farhan lagi memberikan usul.

__ADS_1


"Itu mungkin ide yang bagus," Devan bangun dari duduknya dan ia segera pulang ke rumah untuk menemui Hanna.


Tidak menunggu waktu lama, Devan yang mengemudi dengan kecepatan tinggi hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumah. Kakinya perlahan turun dari mobil dan masuk ke rumah. Malam sudah semakin larut tapi Devan baru saja kembali. Perlahan tangan nya memutar gagang pintu, dan melihat tidak ada Hanna di kamar. Namun ia tetap masuk dan menutup pintu kembali, hingga telinganya mendengar suara dari kamar mandi.


"Hueeekk..... Hueeekk..... Hueeekk....." Hanna tidak bisa menahan mual yang ia rasakan sejak tadi pagi ia memang sudah sangat pusing sekali.


Devan berdiri di depan pintu kamar mandi yang setengah terbuka, ia hanya diam saja sambil melihat Hanna yang tengah muntah-muntah.


Hanna yang sudah merasa lebih baik mulai berbalik, dan melihat Devan di depan pintu. Entah apa yang dipikirkan Hanna namun ia hanya diam saja, karena sedang tidak ingin bertengkar. Lagi pula tujuan Hanna tinggal di sana hanya untuk anaknya, sampai waktunya nanti ia akan pergi dengan membawa anaknya.


Hanna mengangguk dan ia keluar dari kamar mandi, lalu naik keatas ranjang nya. Hanna menarik selimut dan mulai berbaring.


Devan masih menatap dari pintu kamar mandi, jika dulu kepulangan nya adalah hal yang paling di nantikan Hanna. Namun tidak dengan sekarang ini, sekarang Hanna bahkan terlihat tidak lagi perduli padanya. Kaki Devan melangkah mendekati Hanna, ia duduk di sisi ranjang sambil melihat wajah Hanna yang masih memerah karena bekas tangan nya.


"Apa masih sakit?" tanya Devan.


Hanna hanya diam dan ia menutup mata dan berpura-pura tidur, Hanna benar-benar tidak ingin berdebat karena tidak akan menghasilkan apa-apa.

__ADS_1


"Hanna, aku tidak tahu kau memaafkan aku atau tidak.....tapi kau harus tahu aku menikah dengan Diana karena terpaksa, karena Mama yang menginginkan nya," kata Devan, tidak perduli Hanna mendengar atau tidak. Tapi Devan terus berbicara, "Diana sudah mendonorkan ginjalnya pada Mama, dengan syarat aku harus menikahi Diana, aku tentu saja memilih menikahi Diana dari pada Mama meregang nyawa," jelas Devan lagi.


Hanna perlahan membuka matanya dan melihat Devan yang tertunduk sambil berbicara, ada rasa penasaran di hatinya dengan itu semua, "Kalau begitu kenapa melibatkan aku?" tanya Hanna sambil menitihkan air mata.


Devan memutar lehernya dan melihat Hanna, "Karena Papa menginginkan seorang cucu atau aku harus menceraikan Diana, tapi sudah aku katakan jika Mama tidak mau kami bercerai sampai akhir Mama ingin mencarikan wanita untuk meminjamkan rahimnya," jawab Devan, dan menjeda ucapannya, "Aku menolak, karena saat itu kita sudah bertemu dan aku hanya mau menikah lagi jika wanita itu pilihan ku dan itu kamu," kata Devan.


"Kenapa harus aku?!"


"Sampai akhirnya setelah beberapa perdebatan Mama setuju tapi dengan syarat kita harus bercerai setelah Derren lahir, dan Mama menangih janji itu," jelas Devan lagi.


"Tidak usah mengkambing hitamkan orang lain hanya demi terlihat baik," Hanna duduk dan melempar pandangan nya kearah lain, "Tidak masuk di akal," kata Hanna lagi.


"Aku hanya anak pungut, apa yang bisa aku lakukan untuk bisa membuat kedua orang tua angkat ku bahagia?" tanya Devan sambil menitikkan air mata.


Hanna langsung melihat Devan, karena ia benar-benar tidak tahu tentang itu semua. Dan sungguh ini sangat mengejutkan bagi Hanna.


"Katakan apa yang bisa aku lakukan Hanna?" tanya Devan, "Bukan tentang banyaknya harta yang dia berikan pada ku, bukan tentang setinggi apa pendidikan yang ia biayai tapi tentang seberapa besar dia memberikan kasih sayang nya pada ku," Devan menunduk dan merasa sangat tidak berguna, mungkin orang di luar sana dapat melihat bertapa ia gagah dan berwibawa. Tapi mereka tidak tahu tentang apa yang sebenarnya ia rasakan, "Aku ingin bahagia, bahagia bersama anak dan istri ku..... bermain bersama tertawa bersama itu impian ku, tapi apa yang bisa ku lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2