Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Damai


__ADS_3

"Hatchiii....."


"Hatchiii....."


Risa terus saja mengusap hidungnya berulangkali, akibat terlalu lama bermain air bersama Hilman membuatnya kini merasa sedikit kedinginan. Cuaca yang mendung dan hari yang menjelang sore membuat udara terasa dingin, seakan menjadi salah satu penyebab Risa kini bersin-bersin.


"Hatchiii....."


Hilman memberikan secangkir teh hangat, karena dari tadi tidak hentinya Risa terus bersin.


Risa tersenyum dan langsung mengambil cangkir teh yang berada di hadapannya, bahkan tanpa melihat siapa yang memberikannya.


"Terima kasih Bu," kata Risa dan ia mulai menyeruputnya, sesaat kemudian Risa mendongkak dan ternyata bukan Ibu Sintia yang memberikan dirinya secangkir teh. Melainkan Hilman.


"Bagaimana?" tanya Hilman yang masih berdiri di depan Risa.


Risa diam sejenak dan melihat cangkir teh yang ia pegang, "Enggak enak," bohong Risa, "Aku juga pengen muntah," seloroh Risa.


"Tidak tahu terima kasih!"


"Hehehe....." Risa tersenyum dan menunjukkan dua baris gigi rapinya, "Btw....basway thanks ya."


Hilman terkejut mendengar kata terima kasih yang di ucapkan oleh Risa, dan sepertinya tidak mungkin jika keduanya kini berdamai.


"Dasar!!!" tangan Hilman langsung menarik hidung Risa.


"Aduh.....sakit," Risa menepuk tangan Hilman, hingga terlepas dari hidungnya.


"Ternyata kau tahu terimakasih juga ya!" celetuk Hilman.


"Emang aku ini anda yang tidak tahu terima kasih!" geram Risa.


Hilman seketika meletakan tangannya di pinggang, "Memangnya apa yang kau lakukan sampai aku harus berterima kasih kepada mu?"


Risa meletakan cangkir di tangannya pada meja nakas, kemudian ia menatap Hilman, "Ya ampun tuan kaya, kau memang tidak tahu diri! Aku ini sudah menikah dengan mu! Rela demi menyelamatkan harga diri mu!" jelas Risa, "Jangankan kata terima kasih yang aku terima, hinaan yang ada!" jelas Risa.

__ADS_1


"Terima kasih, damai," Hilman mengulurkan tangannya pada Risa, seakan itu adalah awal dari damai yang ia minta pada Risa.


Risa sedikit terkejut dengan permintaan damai dari Hilman, "Memangnya kita perang?" tanya Risa lagi dengan polosnya.


"Aku seperti menikahi anak-anak," gumam Hilman yang semakin bertambah penasaran pada Risa, "Mau damai tidak, tidak takut terkena serangan jantung karena terus bertengkar?"


Setelah kesepakatan damai yang di setujui keduanya, kini mereka mulai lebih baik.


"Tuan kaya, dimana sofa?" Risa mulai sadar tidak ada lagi sofa yang biasa ia gunakan sebagai tempat tidur.


Hilman juga melihat dengan baik sudah tidak ada sofa, "Sudah tidur di sini saja, kau sedang demam," Hilman menunjuk ranjang meminta Risa untuk tidur di sana.


Risa juga sadar ia tengah demam, jika tidur di karpet bisa membuatnya meriang. Akhirnya ia memutuskan tidur satu ranjang dengan Hilman, "Ya udah, lagian juga anda tidak suka pada saya," kata Risa sambil naik ke atas ranjang, tangannya mulai meletakan bantal guling sebagai pembatas, "Tuan kaya, jangan dekat-dekat ya," Risa mulai memberikan peringatan.


"Aku tidak selera pada tubuh kurus mu itu!" jawab Hilman dengan angkuh.


"Syukurlah....." Risa tersenyum dan mulai menarik selimut hingga menutupi bagian tubuhnya, "Tuan kaya..."


"Em?" jawab Hilman, keduanya tidur saling memunggungi.


"Kenapa kau suka sekali tidur tanpa lampu, aku tidak bisa. Ini gelap sekali," lirih Risa.


Hilman merasa kasihan pada Risa, ia memang melihat Risa sering memakai flash. Tanpa ingin berdebat Hilman menyalakan lampu, dan Risa mulai tertidur.


Malam semakin larut, suhu tubuh Risa semakin panas. Bahkan ia mulai menggigil dengan sesekali memanggil Mom Citra, sebab biasanya Mom Citra selalu memeluknya ketika ia sakit dan kedinginan seperti saat ini.


"Mommy...." panggil Risa dengan bibir bergetar karena meriang, "Mom, dingin sekali. Mom peluk."


Hilman yang belum tertidur mulai melihat Risa, ia memegang dahi Risa, "Panas sekali," Hilman langsung mengompres Risa, namun karena Risa masih kedinginan ia mulai memeluk Risa agar lebih hangat. Bahkan Risa mulai tertidur lelap dalam pelukan Hilman, dan tanpa sadar Hilman juga tertidur dengan lelap.


Matahari mulai menampakan sinarnya, mengintip dari celah pintu kamar dan juga jendela. Hingga membuat tidur dua pasutri yang tertidur lelap di bawah selimut merasa terusik.


"Aaaaa......" teriak Risa saat sadar ternyata Hilman memeluknya. Bahkan keduanya tidur tanpa jarak.


Hilman mengambil bantal dan melemparnya pada wajah Risa, setelah itu ia berbalik memunggungi Risa. Karena semalam ia bergadang menjaga Risa hingga pagi ini ia masih sangat mengantuk, juga merasa malas untuk bangun.

__ADS_1


"Kenapa anda memeluk saya tuan Kaya!" teriak Risa dengan geram.


Karena Hilman tidak perduli, akhirnya Risa menarik selimut Hilman dan memukulinya dengan bantal hingga bertubi-tubi.


"Apa yang kau lakukan!!!" geram Hilman dan ia mulai duduk menatap tajam Risa.


Risa juga tidak kalah emosi, dadanya yang naik turun dengan nafas yang memburu menandakan ia benar-benar marah besar.


"Kenapa kau memeluk ku! Bukankah sudah ada pembatas!"


"Kau itu semalam demam, sampai mengigau minta di peluk Mom mu. Dan kau kedinginan, aku tahu kau sudah membantuku bukan? Jadi tidak ada salahnya aku juga membantu mu!" jelas Hilman agar Risa tidak salah pengertian.


Risa diam dan melihat ada handuk kecil yang memang sebelumnya terjatuh dari atas dahinya, kemudian ia kembali melihat Hilman, "Makasih, tapi kenapa harus peluk?"


"Karena kau kedinginan! Aku hanya membantu mu agar tidak kedinginan!" terang Hilman lagi.


"Em," Risa mengangguk dan melihat piama yang melekat di tubuhnya tidak sedikitpun yang aneh, "Ya udah, makasih ya."


"Makasih aja?"


Risa menatap Hilman dengan wajah bingung, "Lalu?"


"Buatkan aku kopi, sarapan, dan panggil aku Mas!" kata Hilman.


"Buat kopi iya, sarapan Iya, panggilan Mas?" tanya Risa bingung.


"Sudah di tolong tidak tahu terimakasih!" kali ini Hilman menggunakan kata-kata Risa, dan ia rasa itu tidak salah. Lagi pula Hilman sebenarnya ingin lebih dekat dengan Risa.


"Ok, Mas dodol!" ejek Risa, dan ia meloncat dari atas ranjang, "Aduh," Risa meringis karena ia malah terjatuh.


"Ahahahhaha....." Hilman seketika menertawakan Risa, "Azab seorang istri yang durhaka kepada suami!" celetuk Hilman.


"Ish...." Risa cepat-cepat bangun dan ia mengerucutkan bibirnya pada Hilman, setelah itu ia keluar dari kamar dan membuatkan apa yang di minta Hilman.


"Ahahahhaha....." Hilman tertawa lepas melihat wajah Risa, tanpa sadar ia mulai terbiasa dengan Risa. Berbagai tingkah lucu Risa kini seakan menjadi penghias tersendiri dalam segala lembaran hari-hari yang berlalu.

__ADS_1


*


Kak tolong Vote ya, biar aku semangat up lagi.


__ADS_2