Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Kontraksi


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Adam yang datang, dan ia melihat Farhan yang berdiri di luar.


"Anda di sini juga tuan?" tanya Farhan berbasa-basi.


"Apa mata mu sudah buta? Sudah jelas aku disini masih bertanya!" jawab Adam.


Glek.


Farhan meneguk saliva, karena Adam dan Devan sama saja. Kalau di tanya jawabannya tidak ada yang beres.


"Itu ada dua mobil?" Farhan menunjuk mobil Farhan, dan mobil yang satu lagi terparkir di belakang mobil Farhan, "Mobil siapa?" tanya Farhan.


"Tuan Devan," jawab Farhan.


"Dia di dalam?" tanya Adam.


"Iya Tuan," jawab Farhan lagi.


"Hanna apa kau tidak papa?" tanya Risa.


Adam yang mendengar suara kepanikan dari dalam sana langsung saja masuk, kali ini ia tidak mengikuti aturan Hanna yang tidak memperbolehkan lelaki bukan mahramnya masuk kedalam rumahnya. Sebab di dalam ada Devan juga, dan takut juga ada yang harus ia tolong. Karena keadaan Hanna yang tengah hamil besar.


"Hanna kenapa?" tanya Adam, ia berniat berjongkok membantu Hanna.


"Jangan sentuh istri ku!" Devan mendorong tangan tangan Adam, hingga Adam tidak bisa memegang lengan Hanna.


"Risa tolong bantu aku untuk bangun," pinta Hanna, ia kesal sekali karena Devan menyebutkan kata istri.


Risa meletakan kembali Derren, pada kasur bulu-bulu. Kemudian ia membantu Hanna untuk berdiri.


"Biar saya saja!" kata Devan yang mencoba membantu Hanna.


"Aku tidak mau di sentuh lelaki yang bukan mahram ku!" tegas Hanna.


"Tapi kita tidak sah bercerai, kau sedang mengandung anak ku," Devan menunjukan perut Hanna, jika di dalamnya ada anaknya.


"Aku menganggap kita sudah sah bercerai, dan setelah anak ini lahir kita benar-benar sah. Aku tidak mau menjadi istri lelaki tidak punya hati seperti mu!" jawab Hanna. Kini Hanna sudah berdiri, ia menatap Devan dan Adam, "Jangan pernah mengambil anak ku! Lebih baik kau urus anak dari istri sah mu itu!" kata Hanna lagi, dan maksud Hanna adalah Diana dan kandungan nya.


"Tapi aku mencintai mu, aku tidak bisa hidup tanpa mu," kata Devan lagi.


"Auuuu......" Hanna meringis, dan untuk hari ini ia memang sangat sering kontraksi.


"Hanna," Devan lagi-lagi ingin memegang Hanna tapi, Hanna menolak.


Kemudian Adam mendekati Hanna, "Di sini aku sebagai seorang dokter, dan aku menyentuh mu bukan karena hal yang lain," kata Adam sebelum Hanna menolak, "Aku sudah banyak memegang wanita, bahkan semua pasien ku wanita. Tapi untuk kali ini aku memegang mu dan kau hanya pasien ku," kata Adam lagi.

__ADS_1


Hanna membenarkan apa yang di katakan Adam ia tidak lagi menolak, apa lagi di badan Adam masih memasang jas putih kebanggaan nya.


"Sakit, sekali," ringis Hanna.


"Iya, biar aku periksa. Ayo ke kamar saja dulu," kata Adam.


"Kenapa harus ke kamar?" Devan tidak terima, dan berusaha menghentikan Adam yang akan membawa Hanna ke kamar.


"Apa Hanna tidur di ruang tamu ini?" tanya Adam kesal, "Dia mau melahirkan!" kesal Adam.


"Melahirkan?" tanya Devan yang terkejut.


"Auuuu....." tanpa sadar Hanna meremas lengan Devan, rasa sakitnya membuatnya menutup mata dan mencari sedikit rasa yang lebih nyaman. Walaupun itu tidak mungkin, sebab rasa sakit saat melahirkan tidak ada yang dapat menandinginya.


"Bawa ke rumah sakit saja," kata Devan panik.


"Sssssttt......" Hanna merintih kesakitan, dan rasanya ia tidak kuat lagi berdiri.


"Hanna, ayo aku bantu ke kamar," kata Risa karena Adam dan Devan masih terus berdebat.


Hanna mengangguk, kemudian Risa membantu Hanna untuk dibawa ke kamar.


"Sssssttt....." kontraksi yang di rasakan oleh Hanna semakin lama semakin sering, dan sakit ini sungguh begitu luar biasa.


Adam langsung masuk tanpa perduli pada Devan lagi, "Risa, ambilkan tas kerja milik ku di mobil. Dan dan siapkan air juga," titah Adam.


"Sudah pembukaan delapan," kata Adam.


Devan juga tidak ingin menunggu di luar, ia langsung saja masuk. Ada rasa tidak tega melihat wajah Hanna, terlihat Hanna menahan rasa sakit dengan penuh air mata dan keringat.


"Tuan, ini air nya," kata Risa.


"Hanna apa kau sudah memiliki perlengkapan bayi?" tanya Adam.


"Ada di lemari," tangan Hanna menunjukan lemari sederhana miliknya.


"Ambil," kata Adam pada Risa.


Risa dengan cepat mengambil perlengkapan bayi di sana, dan memberikan nya pada Adam.


"Sssssttt....." Hanna meremas seprai, ia benar-benar menahan sakit berkali-kali lipat dari rasa sakit yang biasanya.


"Kamu tarik nafas ya," kata Adam. Adam adalah seorang dokter, ia terbiasa di tuntut untuk tetap tenang. Agar bisa menangani pasien dengan mudah, hingga se-panik apapun keadaan nya. Ia tidak boleh ikut panik. Adam memang masih menjadi dokter umum, dan sedang melanjutkan pendidikannya menjadi spesies kandungan. Tapi kemampuannya tidak di ragukan lagi, karena kini ia menjadi asisten dokter senior. Hingga ia sudah mengerti akan tindakan apa yang harus ia lakukan saat seperti ini.


"Sakit..... Sssssttt....." Hanna hanya bisa meremas seprai melepaskan rasa sakit, yang semakin terasa.

__ADS_1


"Ini udah waktunya," kata Adam.


Setelah berulang kali mengejan akhirnya terdengar suara tangis bayi yang menggema di kamar kecil itu, rasa haru pun seketika terjadi. Melihat seorang bayi yang sudah lahir dengan sehat dan selamat.


"Oe....Oe.....oe......."


"Anak ku," Devan menitihkan air mata dan merasa bersedih, karena saat Hanna hamil ia tidak berada di samping Hanna. Rasa bersalah semakin terasa saat tangisan bayi itu semakin kencang.


Dengan perlahan dan cekatan Adam membersihkan bayi itu. Kemudian memberikannya pada Risa, "Peluk dia dulu," kata Adam kemudian ia kembali mengurus Hanna. Hingga akhirnya Hannya sudah lebih baik.


"Aku ingin mengajazani nya," pinta Devan.


"Ayo cepat," Adam mengambil bayi itu dari Risa dan memberikan nya pada Devan.


Devan memegang bayinya, dan ada rasa haru di sana. Dengan perlahan Devan mengazani bayi itu, dan mengecup pipi nya.


"Sudah cukup," Adam kembali mengambilnya, dan memberikan nya pada Hanna. Karena bayi itu akan segera di beri ASI, "Kamu kasih asi dulu ya," kata Adam.


"Makasih ya Dam, kamu udah nolong aku," kata Hanna. Karena Adam datang di waktu yang tepat.


"Aku merasa ini sudah menjadi pekerjaan ku, jadi tidak perlu terima kasih," kata Adam.


"Bisa minta tolong buat keluar dulu?" tanya Hanna, "Aku mau kasih asi buat anak aku," kata Hanna lagi.


"Iya boleh," Adam mengangguk lalu keluar dari kamar Hanna.


Kemudian mata Hanna tertuju pada Devan yang masih diam mematung tanpa ingin keluar.


"Tuan tolong keluar!" kata Hanna dengan jelas.


"Aku?" Devan menunjuk dirinya sendiri.


Hanna mengangguk dan mulai menatap putri yang di peluknya.


"Tapi aku ini sudah hapal tentang mu," kata Devan.


"Sa, suruh majikan mu itu keluar dari rumah ini!" pinta Hanna.


"Hanna aku ini suami mu," kata Devan lagi.


"Mantan suami! Kita sudah sah bercerai, tolong hargai saya tuan Devan!" tegas Hanna lagi.


Adam yang masih di depan kamar langsung kembali masuk dan menarik Devan keluar bersamanya.


"Kamu ngalah bisa kan Kak, Hanna baru saja melahirkan anak mu!" kata Adam setelah sampai di luar.

__ADS_1


Devan diam dan mengangguk, karena ia pun hanya ingin tetap berada di dekat Hanna. Tapi kata Adam memang ada benarnya.


__ADS_2