Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pengganti


__ADS_3

"Mas Hilman, tolong maafkan aku," lirih Hanna, "Tidak ada niat ku untuk mempermainkan ini semua."


Hilman hanya diam sambil memijat keningnya, rasanya ini benar-benar di luar dugaan. Sebab ia pikir cinta yang selama ini terpendam kini tersampaikan, namun ternyata salah. Semua hancur bahkan sebelum memulai nya.


"Hilman, aku yang bersalah," Devan juga tidak diam saja, bagaimana pun ia adalah orang yang paling bersalah, "Malam itu pernikahan kami terjadi karena tidak terduga, dan aku yang memaksa Hanna menikah dengan ku. Bahkan aku juga memaksa Papa Agatha untuk menikahkan kami," Devan benar-benar menceritakan semua yang telah terjadi padanya, dan penyebab mereka menikah tanpa ada yang di tutupi agar Hilman tahu jika ini semua terjadi karena kesalahannya.


"Aku tidak tahu Hanna, apakah aku bahagia saat kau menikah dengan pria yang kau cintai. Tapi aku kecewa," jawab Hilman penuh luka.


"Hiks....hiks...hiks...." Hanna menangis dan bersimpuh di bawah kaki Sintia, ia benar-benar butuh maaf, "Maaf Bu, tapi ini di luar kuasa Hanna, bahkan menikah dengan Mas Devan pun tanpa ada....hiks....hiks...." Hanna tidak bisa lagi berkata-kata, rasa bersalah dan takut terjadi hal yang buruk pada Sintia sungguh merasa bersalah.


Sintia memegang pundak Hanna dan ia meminta Hanna untuk bangun, "Baik, tidak apa Hanna. Ibu memaafkan mu," tutur Sintia.


Hanna mendongkak dan langsung memeluk Sintia penuh haru, "Terima kasih Bu," tutur Hanna.


Sintia mengangguk, dan Hanna duduk di sampingnya karena Sintia yang meminta.


"Mungkin ini sudah takdir Hanna, berulang kali Hilman gagal dalam menuju hari pernikahan nya. Dan Ibu.....hiks... hiks...hiks....." Sintia menangis karena tidak kuasa lagi berbicara.


"Ibu," Hanna terus berusaha mengusap pundak Sintia, rasa sesal kian menjadi bayang-bayang yang menyakitkan.


"Ibu, malu Hanna. Keluarga besar ibu akan menghina kami habis-habisan, dan kami pun akan di sisihkan. Tolong Hanna menikahlah dengan Hilman," pinta Sintia lagi, "Ibu tidak punya muka lagi di hadapan orang-orang, undangan sudah di sebar Hanna."


"Sudahlah Bu," tutur Hilman dengan pasti, "Terserah pada wanita ini saja, lagi pula kalau kita malu dia akan bahagia!" geram Hilman yang merasa di permainan.


"Risa yang akan menggantikan posisi Kak Hanna, Ibu tidak perlu malu. Ataupun melakukan hal lainnya," ucap Risa yang dari tadi hanya diam.

__ADS_1


Semua mata langsung menatap pada Risa, gadis berusia 23 tahun itu terlihat pasang badan demi kebahagiaan sang Kakak.


"Clarisa, are you crazy?" tanya Mom Citra yang terkejut.


"Tidak Mom," jawab Risa lagi, kemudian ia menatap Hilman, "Aku yang akan menggantikan Kakak ipar ku, kesalahan ini terjadi karena aku. Dan aku harus ikut bertanggung!" tegas Risa.


"Menikah itu tidak mudah Risa, jangan gila," kata Mama Sarah yang tidak setuju dengan keputusan Risa.


"Tenang Ma, tidak apa. Awal masalah ini adalah karena aku, aku siap dan aku yang akan menikah dengan tuan Hilman," kata Risa lagi.


"Clarisa!!" Mom Citra masih terlalu kesal dengan keputusan yang di buat oleh Risa, "Kalian belum saling mengenal."


"Kami akan saling mengenal seiring berjalannya waktu," jawab Risa lalu ia menatap Sintia, "Bu, saya yang akan menikah dengan Tuan Hilman, dan Ibu tidak perlu meminta Kak Hanna bercerai dari Kak Dev. Mereka saling mencintai Bu, dan Ibu pun tidak akan malu di hadapan orang-orang serta keluarga Ibu nantinya," jelas Risa lagi.


"Apa kau yakin?" tanya Sintia, ia menatap Risa dengan baik dan berharap Risa tidak berbohong.


"Terima kasih Nak," Sintia langsung bangun dari duduknya dan memeluk Risa, karena ada wanita yang bersedia menutupi rasa malunya, "Terima kasih," lirih Sintia lagi.


"Risa jangan....hiks...hiks...hiks...." Hanna menggeleng dan tidak ingin Risa berkorban untuk dirinya, "Aku yang akan bercerai dari Mas Devan," Hanna mendekati Devan dan memegang tangan Devan, "Tolong ceraikan aku Mas," pinta Hanna.


Devan terdiam dan tidak tahu harus memilih Hanna atau Risa, hatinya terasa sakit jika di hadapkan dengan pilihan sesulit ini.


"Tidak, kalian tidak boleh bercerai. Kalau kalian bercerai artinya kalian menyakiti hati Derren dan juga Davina yang sedang bahagia karena bersatunya kedua orang tuanya," seru Risa.


Jangan tanyakan perasaan Risa saat ini, hatinya pun tidak yakin dengan menggantikan posisi Hanna sebagai pengantin Hilman. Tapi ia pun mengakui jika ini karena kesalahannya, awal Hanna cemburu sebab ia hampir terjatuh dan Devan menolongnya. Sampai tanpa sengaja bersamaan Hanna masuk, ia malah terduduk di atas pangkuan Devan saat itu.

__ADS_1


"Tapi Risa," kata Hanna dengan isak tangis yang semakin pilu.


"Hilman kamu harus mau menikah dengan dia, demi Ibu. Ingat Hilman, jika kau tidak menikah maka semua yang sudah di perjuangkan oleh Ayah mu berakhir sia-sia, keringat Ayah mu semua akan habis menjadi milik anak dari istri kedua Ayah mu!!" papar Sintia.


Semua tercengang dengan kata yang di ucapkan oleh Sintia, bahkan tidak menyangka ternyata begitu rumit permasalahan keluarga Hilman.


Hilman hanya diam tanpa berbicara, kebahagiaan berubah seketika dengan luka dalam sekejap saja.


"Siapkan semua seperti rencana awal Bu, Risa tidak akan ingkar janji," Risa langsung bangun dari duduknya, dan ia segera keluar begitu saja.


"Clarisa," Mom Citra berusaha mengejar Risa, tapi dengan cepat Dad Arsielo memegang lengan Citra dan menggeleng.


"Risa tunggu aku," Hanna bangun dari duduknya dan menyusul Risa yang kini sudah berada di halaman, "Risa," Hanna memegang lengan Risa dan menunduk sambil menangis, "Jangan, aku yang akan tetap menikah dengan Mas Hilma."


"Jangan bodoh Hanna, dan jangan buat aku membenci mu. Apa kau tidak memikirkan bertapa Derren membutuhkan kalian bersatu, apa kau ingin mereka tumbuh dalam keluarga yang hampa?" tanya Risa.


"Tapi kau bagaimana.....hiks....hiks....hiks...."


"Aku baik-baik saja, dan aku tidak apa-apa. Tolong bahagia bersama dengan Kak Devan, sudah cukup kau menderita. Anggaplah ini suatu penebus dosa karena Kakak ku pernah menyakiti mu," lirih Risa penuh air mata.


Hanna menggeleng, "Kau tidak bersalah," tutur Hanna dengan bibir yang bergetar.


"Jangan menangis dari dulu sampai saat ini aku selalu ingin dua keponakan ku bahagia," pinta Risa lagi.


"Enggak Risa....hiks....hiks....hiks...." Hanna terus menangis pilu hingga terduduk di lantai, karena merasa bersalah atas semua ulah yang sudah ia perbuat, "Aku yang akan bercerai dari Mas Devan Risa!!!" seru Hanna sambil terus menangis.

__ADS_1


*


Like dan Vote.


__ADS_2