Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Senyum-senyum


__ADS_3

"Mama!!!!" seru Davina yang menyusul Hanna masuk ke dalam kamar.


Hanna kini sudah selesai membersihkan diri, bahkan sudah menggunakan Dress panjang dan juga pasmina di kepalanya. Dan Hanna merasa jauh lebih segar saat ini.


"Davina, ayo minta tolong Mbak Kinan buat ganti baju," titah Hanna sambil memakai lipstik pada bibirnya.


"Iya Ma, tapi abis ini kita jalan-jalan ya," ujar Davina.


Hanna melihat Davina dari cermin, dan ia merasa tidak memiliki janji dengan anak-anaknya.


"Tapi kata Oma Davina sama Derren hari ini pergi bareng Papa," kata Hanna.


"Tadinya sih ia tapi, Papa ada meeting. Jadinya di tunda dulu," jelas Davina dengan wajah murung nya. Sebab tadi Devan mendadak mendapatkan telpon dari Farhan, jika ada pekerjaan mendadak.


"Mana juga lagi ada kerjaan sayang, nanti saja ya....Minggu depan," kata Hanna dengan senyuman, agar Davina tidak murung lagi.


"Sama Papa kan Ma?"


Hanna berbalik dan ia berjongkok di hadapan Davina, "Kalau Papa enggak kerja pasti Papa juga mau ikut," kata Hanna agar Davina tidak menangis.


"Ye.....ye....ye...." Davina meloncat-loncat kegirangan, "Davina ke kamar dulu ya Ma, minta mbak Kinan buat gantiin baju Davi," pamit Davina dan ia langsung berlari menuju kamarnya.


Hanna tersenyum melihat wajah bahagia Davina, karena kehadiran Devan yang kini membuat kebahagian kedua anaknya semakin terlihat.


Hanna menyambar tas yang tergeletak di atas meja, sebelum nya ia sudah menyiapkan nya. Dan kini ia mulai keluar dari kamar. Sampai di ruang tamu ia melihat Hilman yang duduk bersama Mama Sarah, dan mata Hanna tidak melihat Devan di sana.


"Mas Devan mana Ma?" tanya Hanna, karena sebelum ia ke kamar ada Devan juga.


"Devan tadi cuman nganterin Derren dan Davina, karena dia ada pekerjaan mendadak. Jadi tadi dia buru-buru pergi juga," jelas Mama Sarah, "Kok nanyain Devan?" tanya Mama Sarah dengan menggoda Hanna.


Glek.


Hanna meneguk saliva, "Iya juga sih, ngapain aku nanyain dia," batin Hanna, "Em....." Hanna tidak tahu harus menjawab apa, "Tadi sebelum....."


"Sebelum?" tanya Oma Sarah sambil mengejek Hanna.


"Bukan Ma," Hanna menggerakkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apanya yang bukan?" tanya Oma Sarah lagi, karena ia tahu putrinya kini tengah salah tingkah.


"CK....udahlah, Hanna pamit," Hanna kesal dan langsung mencium punggung tangan Oma Sarah.


Oma Sarah menarik Hanna dan berbisik di telinga Hanna, "Devan makin tampan dan berkarisma ya Han," bisik Oma Sarah.


Hanna cepat-cepat menjauh, dan Oma Sarah menaik turunkan alis matanya, "Apasih!" Hanna mengibaskan tangannya, semakin geram dengan Oma Sarah yabg terus menggodanya.


"Pipi nya merah!!!!" kata Oma Sarah lagi sambil terkekeh.


"Ish....udah ah...." Hanna langsung berjalan ke arah pintu.


"Tante, Hilman juga pergi ya," pamit Himan kemudian menyusul Hanna yang sudah keluar dari dalam rumah.


"Iya hati-hati," Oma Sarah masih saja terkekeh karena Hanna yang lucu.


Hanna kini membuka pintu mobilnya, namun suara Hilman menghentikan nya.


"Hanna!!!"


"Bareng aku aja yuk, aku datang kesini buat jemput kamu lho," kata Hilman.


"Lain kali aja ya Mas, aku ada keperluan lain juga soalnya," tolak Hanna dengan halus.


"Aku bakalan nemenin kemana pun kamu mau," tawar Hilman lagi.


"Makasih Mas, tapi lain kali aja," Hanna langsung masuk ke dalam mobilnya, dan ia mengemudikan mobil nya sendiri. Sebenarnya Hanna memiliki seorang sopir wanita, dan wanita itu sekaligus asistennya. Dan Hari ini wanita itu tengah di kantor karena sudah banyak kolega yang datang di kantor, sedangkan Hanna hari ini benar-benar terlambat.


Lima belas menit kemudian Hanna sampai di kantor, kini ia sedang berada di lobi. Dengan langkah kaki yang cepat Hanna mulai memasuki lift.


Ting!


Pintu lift terbuka, Hanna kini berada di lantai sepuluh.


"Bu," Jessie langsung berjalan cepat mengejar Hanna yang masih berdiri di pintu lift, "Semua rekan bisnis kita sudah berada di ruang rapat, dan ibu tahu siapa tuan Anderson itu?" tanya Jessie dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tuan Devan, dulu CEO di perusahaan ini," jawab Hanna, karena saat rapat kemarin mereka sudah bertemu.

__ADS_1


"IBu udah tahu ternyata," Jessie menggaruk kepalanya, karena ia pikir Hanna akan terkejut. Padahal yang akan shock adalah Jessie bila tahu Devan adalah mantan suami Hanna.


"Sudah-sudah, bawa berkas-berkas nya. Kita keruang rapat sekarang," kaki Hanna melangkah dengan anggun menuju ruang rapat, sepatu hak tinggi nya seakan menimbulkan suara yang dapat membuat sekitar nya melihatnya.


Hanna masuk ke ruang rapat, dan ia mengedarkan pandangannya. Ia melihat semua mata mulai tertuju padanya, termasuk Devan.


"Ternyata begini kinerja CEO, baru di perusahaan ini," sindir Devan.


Hanna tersenyum miring, "Mohon maaf, karena ada sedikit problem saya jadi terlambat," tutur Hanna kemudian ia duduk di kursi kebesaran nya.


"Ehem..


"Farhan yang duduk di samping Devan mulai berdehem, karena Hanna dan Devan hanya saling melihat saja. Setelah mendengar deheman Farhan, keduanya mulai memutuskan pandangan, "Ini sudah sangat terlambat, Nyonya Hanna. Karena kami masih banyak pekerjaan yang tidak kalah penting," ujar Farhan seolah tidak mengenal dengan baik siapa Hanna.


"Mohon maaf sekali lagi tuan Farhan, saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi," jawab Hanna.


"Rapat di mulai," ujar Farhan, dan beberapa dari mereka mulai bertanya tentang berencana beberapa pembangunan. Setelah di rasa cukup memuaskan mereka akhirnya sampai di akhir.


"Terima kasih untuk semuanya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," Hanna menutup rapat dengan senyuman, dan kata maaf. Semuanya mulai membubarkan diri, hingga Hanna juga bangun dari duduknya.


"Tuan Devan," kata Jessie.


Hanna menatap Jessie dengan bertanya.


"Untuk menyambut tahun baru ini, kami merayakan sedikit acara besok malam di puncak. Kami rasa anda juga cukup berperan dalam membesarkan nama perusahaan ini, dan bagaimana kalau anda juga ikut," ujar Jessie.


"Tapi tuan Devan ini bukan siapa-siapa lagi di perusahaan kita," timpal Hanna.


"Tapi Bu, dulu tuan Devan juga CEO di sini. Kita udah kerja lama sama tuan Devan," tambah Jihan sekretaris Hanna yang lainnya.


"Iya baiklah, saya usahakan," jawab Devan, kemudian Devan keluar sambil melewati Hanna. Devan mengangkat sebelah alisnya, tersenyum angkuh pada Hanna.


Sedangkan Hanna tersenyum, saat Devan setuju ikut ke puncak bersama dengan yang lainnya. Entah mengapa ada rasa bahagia di sana, tapi begitulah mungkin benih-benih cinta yang dulu mati kini mekar kembali.


"Bu," Jessie bingung melihat Hanna yang senyum-senyum.


"Eh....dasar tidak sopan!!!" Hanna berpura-pura kesal pada Jessie karena ia takut Jessie membahas perihal ia yang senyum-senyum, dengan langkah yang lebar Hanna langsung keluar dari ruang rapat.

__ADS_1


__ADS_2