Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Situasi sulit


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Risa tersenyum pada Prea.


Prea merasa Risa tidak pantas mempermalukan diri nya seperti saat ini, "Kau itu hanya pembantu, dan kau bisa bicara sombong karena sudah menikah dengan Hilman. Itupun karena sumbangan dari majikan mu. Hanna atau putri kandung dari tuan Agatha Sanjaya!" tegas Prea dengan menunjuk wajah Risa.


"Em," Risa mengangguk, kemudian ia kembali berbalik dan langsung memeluk Hilman.


Prea mengepalkan tangannya, ia menatap tidak suka pada Risa, "Hey," Prea menarik lengan Risa, bahkan sampai terhuyung kebelakang.


"Au....." ringis Risa, sebenarnya Risa bisa saja melawan. Tapi ia ingin mendapatkan pembelaan dari Hilman, jadi Risa lebih memilih berpura-pura lemah agar Hilman membela dirinya dan Prea merasa semakin terhina.


"Apa yang kau lakukan!" Hilman langsung mencengkram kuat tangan Prea, "Lepaskan dia!!" geram Hilman.


"Hilman sakit," rintih Prea.


"Lepaskan dulu tangan istriku!!"


Dengan terpaksa Prea melepaskan lengan Risa, walaupun ia masih terlalu kesal. Bahkan ingin sekali Prea mencekik leher Risa.


Hilman juga langsung menghempaskan tangan Prea, dan Risa langsung kembali memeluknya. Seolah Risa sangat kesakitan.


"Mas sakit," Risa dengan manjanya mengadu pada Hilman, dan menunjukan lengan bagian atasnya yang memerah karena cengkram tangan Prea yang sangat kuat, "Sssst....." rintih Risa dengan wajah di buat begitu bersedih.


"Hilman, buka mata mu lebar-lebar! Apa yang akan kau katakan bila teman-teman mu tahu kau menikahi seorang pembantu?" tanya Prea yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Hilman.


Risa merasa kata-kata Prea barusan sangat menghina seorang pembantu, menurut Risa tidak ada yang salah dari bekerja sebagai pembantu. Dan Risa ingin membuktikan jika pembantu tidak serendah yang di pikirkan oleh Prea.


"Mas, sayangkan sama Risa?" tanya Risa dengan raut wajah sedihnya, ia ingin memanas-manasi Prea, "Mas jawab dong?" tanya Risa lagi.


Hilman tidak tahu harus bicara apa, situasi saat ini sangat membuatnya panas. Tidakkah Risa tahu kini ia menginginkan lebih dari sekedar belaian lembut tangan Risa, dan itulah yang kini dirasakan oleh Hilman. Menahan dengan perasaan yang sulit di kendalikan.

__ADS_1


"Hey cukup!!!"


Prea kehabisan kesabaran, "Tidak usah menunjukkan seakan kau dan Hilman saling mencintai! Karena aku yakin dia menganggap mu saja tidak!" kata Prea dengan nada yang tinggi sambil mengepalkan kedua tangannya yang menggantung.


Risa tersenyum, ia tahu saat ini Prea tengah menahan rasa marah. Dan Risa tidak akan terpancing, ia lebih memilih membuat Prea malu dan pergi dengan sendirinya.


"Mas, kita ke kamar yuk," kata Risa dengan manjanya, "Tapi gendong nya," kata Risa lagi, "Semalam Mas hebat dan aku suka," kata Risa sambil terus tangannya yang bergerak pada dada bidang Hilman.


"Sial, kenapa aku mendadak tidak bisa menahan," batin Hilman, kini konsentrasi Hilman lebih pada Risa, bahkan ia hanya bisa diam mematung di tempatnya, menikmati sentuhan tangan Risa.


"Dasar wanita gila dan tidak tahu malu!" sergah Prea.


"Em....lihat ini ya," Risa tersenyum pada Prea, kemudian ia kembali menatap Hilman dan melingkarkan tangannya pada tengkuk Hilman. tanpa di duga ia langsung mengecup bibir Hilman, namun siapa sangka Hilman malah menahan tubuhnya untuk tetap begitu dan juga tengkuknya yang di tahan Hilman sambil melahap habis bibirnya.


"Dasar!!!" teriak Prea, ia menghentakkan kakinya lalu pergi dengan sejuta kesal dan amarah. Niat hati ingin membanggakan diri dan membuat Risa merasakan malu, tapi malah ia yang di permalukan habis-habisan. Karena tidak ingin terus menjadi saksi kemesraan Risa dan Hilman, Prea lebih memilih pergi.


"Huuuuff....." Hilman menarik nafas dan membuat dirinya tetap tenang, "Sial, kenapa rasanya nikmat sekali. Aku berada di situasi yang sulit" batin Hilman sambil melihat Risa.


"Apa yang barusan kau lakukan!!" geram Risa.


Kini hanya keduanya yang berada di ruang tamu, Risa ingin melepaskan segala kekesalannya pada Hilman.


"Ehem...." Hilman berdehem sambil berusaha menahan diri agar tetap tenang, dan kembali menatap Risa, "Kau yang menciumiku, kenapa kau yang marah?" Hilman juga tidak ingin di sudut kan, jadi ia juga ingin mencari aman.


Risa terdiam dan membenarkan apa yang di katakan Hilman, tapi ia tidak menunjukan pada Hilman jika ia yang bersalah, "Tapi aku hanya berpura-pura, kenapa kau malah mencium ku dengan begitu?!" geram Risa sambil berteriak.


Hilman tersenyum samar sambil menatap gundukan Risa yang setengah menyembul keluar, sampai kapan ia dan Risa terus berselisih begini. Jujur saja ia sudah sangat menginginkan benda besar dan kenyal itu.


"Apa lihat-lihat!!!" geram Risa, "Aku itu bukan selera mu!" kata Risa mengingat kata-kata Hilman beberapa saat lalu.

__ADS_1


Hilman tersentak dengan kata-kata Risa, "Ada Prea," Hilman menunjukan arah pintu.


Risa langsung diam dan melihat arah pintu, namun ternyata tidak ada Prea di sana. Saat sadar sudah di bohongi Risa kembali menatap kearah Hilman, namun Hilman sudah tidak ada di tempat nya.


"Dasar!!!" Risa kesal dan langsung menghentakkan kakinya.


Hilman yang melarikan diri kembali ke dapur tertawa mendengar teriakan Risa, ia duduk di kursi meja makan. Lalu menyeruput kopi buatan Risa yang sempat tertunda karena adanya tamu yang tidak di undang.


"Ibu tahu kamu sudah tertarik pada Risa, dan itu tidak salah. Dan Ibu rasa tidak ada salahnya jika kalian berdamai, dan bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya," kata Ibu Sintia sambil terus memasak.


Hilman terkejut dengan kata-kata Ibu Sintia, sambil berpikir apakah apa yang dikatakan oleh Ibu Sintia benar.


Ibu Sintia yang memunggungi Hilman dapat melihat dari gerakan-gerik putranya, ia tahu seperti apa dinginnya Hilman. Namun tidak pada Risa, dan ia ingin Hilman memperlakukan Risa dengan layaknya istri.


"Risa itu cantik, baik, jangan sia-siakan. Nanti kamu menyesal," tambah Ibu Sintia sambil tangannya terus mengaduk masakan di atas kompor dengan api yang menyala.


"Biasa aja Bu," jawab Hilman, ia juga tersenyum membayangkan wajah Risa. Dan menurutnya bertengkar dengan Risa adalah suatu kesenangan tersendiri, bukan sebagai permusuhan yang begitu membuatnya semakin membenci Risa.


"Ini dia orangnya!!!" Risa yang mencari Hilman langsung ke dapur, dan benar saja ada Hilman di sana. Dengan dada yang naik turun dan tangannya yang berada di pinggang Risa berdiri di depan Hilman, "Kenapa kau malah mencium ku!!!" geram Risa sambil ingin menangis karena ia sangat kesal.


Glek.


Hilman meneguk saliva, karena Ibu Sintia yang mendengar dengan jelas.


Risa melihat Ibu Sintia yang juga melihat dirinya, Risa langsung berlari menuju Ibu Sintia. Bahkan langsung memeluk Ibu Sintia, "Ibu, tadi dia beneran nyium Risa. Padahal tadi Risa cuman acting, buat manas-manasin wanita tadi," kata Risa.


Ibu Sintia tersenyum geli mendengar keluhan Risa, Mom Citra memang sudah menjelaskan bahwa Risa adalah wanita kuat namun manja. Bahkan Risa tidak pernah berhubungan dengan laki-laki, karena Dad Arsielo Anderson tidak pernah mengijinkan nya. Bahkan Mom Citra meminta Ibu Sintia agar tidak terkejut nantinya dengan tingkah Putri nya.


"Apa yang anak itu katakan," gumam Hilman dengan wajah yang memerah karena menahan malu.

__ADS_1


__ADS_2