
Tok tok tok.....
Hilman terus saja mengetuk pintu kamar mandi, karena dari tadi ia menunggu Risa untuk keluar tapi sepertinya wanita itu tidak perduli sama sekali.
Merasa di acuhkan dan tidak diperdulikan, akhirnya Hilman memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dan ia melihat Risa tengah berendam sambil menutup mata, dengan handset di telinganya mendengarkan irama musik dengan tenang.
"Sial!!!" umpat Hilman, kakinya semakin mengarah pada Risa. Dengan cepat ia menarik handset yang terpasang di telinga Risa.
"Hey kau sedang apa? Kenapa masuk?!" kesal Risa sambil menutupi bagian dadanya. Beruntung ia berendam dengan banyak nya busa yang menutupi dirinya, hingga tidak menampakkan tubuhnya pada Hilman. Walaupun begitu ia tetap kesal pada Hilman, "Keluar!!!"
"Kenapa kalau aku di sini! Kalau aku mau aku bisa melakukan lebih dari ini, tapi aku tidak sudi menyentuh perempuan seperti mu!!" kata Hilman penuh kebencian.
"Oh ya?" tantang Risa, "Anda pikir saya takut?" seru Risa yang tidak mau mengalah, "Sorry....ini bukan di drama ikan terbang, di marahi suami lalu memohon untuk di cintai. Kalau anda tidak membutuhkan saya lantas apa saya membutuhkan anda?" tanya Risa dengan remeh, "Tidak sama sekali, bahkan saya tidak takut menjadi janda. Camkan itu!" tegas Risa.
"Kau!!!" geram Hilman sambil menunjuk Risa, bahkan ia sedikit berjongkok agar lebih dekat dengan Risa.
"Enggak usah tunjuk-tunjuk dong!" kesal Rika dan memukul tangan Hilman.
Namun tanpa di sengaja tiba-tiba Hilman kehilangan keseimbangan, dan dalam sekejap ia juga tercebur ke dalam bathtub dengan ukuran cukup besar.
"Aaaa!!!" teriak Risa, bahkan ia sangat panik sekali mengingat ia tidak memakai sehelai benang pun di bawah busa yang menutupinya dengan tebal.
"Sial!" gumam Hilman. Karena tangannya tanpa sengaja langsung memegang sebelah gundukan milik Risa.
__ADS_1
"Keluar!!! Apa yang kau lakukan, sengaja ya?!" seru Risa penuh amarah.
Dengan geram dan wajah yang memerah Hilman cepat-cepat keluar dari dalam bathtub, tapi dengan kemeja dan juga celananya yang sudah basah.
"Maaf," Sintia yang tadinya ingin melihat keadaan Risa merasa terkejut, saat melihat anak dan menantunya mandi bersama di pagi ini, "Jadi tadi Ibu dari kamar Ibu ke sini mau nganterin koper yang di antar sama siapa ya Ibu juga lupa," kata Sintia sambil mencoba mengingat nama orang tersebut, tapi sepertinya Sintia benar-benar lupa karena melihat hal yang mengejutkan, "Ibu lupa, tapi lanjutkan lagi tadi Ibu pikir kalian kenapa dan ibu panik langsung masuk. Ayo di lanjutkan," Sintia langsung melenggang keluar, karena takut mengganggu pengantin baru yang tengah mandi pagi bersama.
"Haaaa...." Risa sampai tercengang karena merasa barusan Sintia berpikir hal yang lain, kemudian ia kembali melihat Hilman, "Ngapain masih di sini!" geram Risa, "Asal ngomong enggak sudi, memang dasar!!!" geram Risa.
Hilman mukul udara dan ia langsung keluar dari dalam kamar mandi, saat ia keluar dari kamar mandi ternyata masih ada Sintia di sana.
"Ibu masih di sini?" tanya Hilman, "Ini tidak seperti yang Ibu pikiran," lanjut Hilman lagi.
Sintia tersenyum miring, "Memang nya Ibu mikirin apa?" tanya Sintia bingung, "Ibu kesini mau bilang kalau Ibu mau pulang duluan, dan nanti malam kita ada acara makan malam keluarga besar. Antara keluarga Risa dan keluarga kita, jadi sebelum malam kalian sudah harus di rumah," jelas Sintia.
"Ya sudah, jangan bertengkar. Risa itu sudah baik jangan kamu buat dia itu pergi, Ibu sayang sama dia. Karena dia juga sayang sama Ibu," setelah mengatakan itu Sintia langsung keluar dan ia langsung check out.
Risa yang sudah memakai jubah handuk dan juga melilitkan rambutnya dengan handuk seketika tersenyum, karena mendengar kata-kata Sintia sebelum keluar barusan, "Anda dengar tadi tuan, saya ini orang baik," celetuk Risa sambil tertawa melihat wajah kesal Hilman.
"Yang tadi tidak sengaja, dan aku tidak akan tergoda pada mu. Dan sekarang kau keluar hanya dengan jubah handuk itu, sama sekali tidak menarik!" setelah mengatakan itu Hilman langsung pergi mengambil pakaiannya di koper, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Siapa juga yang godain dia, pede amat!!!" gerutu Risa, "Ibunya malaikat, anaknya iblis!" umpat Risa, setelah itu ia sadar dengan kata-kata nya, "Sial, aku istri nya iblis dong, apes banget sih aku...." kata Risa lagi sambil tertawa, karena tidak ada sejarah nya Risa cengeng, begitupun kali ini.
Risa sudah memakai dress miliknya, dress yang dipakai Risa cukup terbuka. Di lahirkan dan di besarkan di negeri yang terkenal dengan makanan pizza dan juga pasta itu membuat nya terbiasa memakai pakaian mini. Walaupun terkadang Mom Citra sangat melarangnya tapi Risa tetap saja melanggar aturan Mom Citra, dan entah mengapa di antara banyak nya pakaian yang di kirimkan Mom Citra terselip beberapa dress mini. Mungkin Mom Citra tidak memperhatikan dengan baik, karena ia tengah pusing memikirkan nasib putri bungsunya.
__ADS_1
Hilman keluar dari kamar mandi, dengan berat hati ia terpaksa mengganti pakaiannya lagi. Padahal sebenarnya ia baru saja berganti pakaian.
"Cepat bereskan barang mu!" titah Hilman.
"Ish...." gerutu Risa kesal pada Hilman, ia menatap wajahnya di cermin yang sudah memakai lipstik tipis dan melihat dress-nya juga sudah rapi, "Perfect...." Risa tersenyum dan ia mulai mendekati koper nya, ia memasukkan barang-barang miliknya, "Apa Mom mengusir ku, kalau tidak kenapa mengirimkan pakaian sebanyak ini," gumam Risa dan ia mulai menarik kancing pada kopernya.
"Sudah selesai?" tanya Hilman.
"Sudah!"
Hilman mulai menarik kopernya keluar, dan Risa hanya menatap nya saja.
"Ih....." Risa menghentakkan kakinya, karena kesal pada Hilman yang tidak membawa koper miliknya, "Suami macam apa dia!" dengan kesal Risa langsung menarik kopernya dan ia mengikuti Hilman dari belakang, dengan susah payahnya Risa terus berusaha menarik koper miliknya. Sampai di loby ia tidak melihat Hilman berhenti melangkah.
Brukkk!!!
Risa langsung menabrak Hilman, hingga sampai ia terjatuh.
"Au..." ringis Risa.
Hilman berbalik dan melihat Risa, kemudian ia kembali berbalik melihat ke arah depan seolah tidak perduli. Karena ia tengah sibuk berbicara di telepon, sedetik kemudian Hilman berjalan menuruni beberapa anak tangga karena sebuah mobil sudah terparkir. Bahkan seorang sopir pun sudah membuka pintu untuknya.
"Aku ikut bersama nya atau tidak," gumam Risa yang bingung, sampai akhirnya ia melihat ada pria yang dari tadi terus mengikutinya, "Ini pasti mata-mata Dad," tebak Risa.
__ADS_1