
Hanna terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dan ia menemukan mushola. Selesai menjalani kewajiban nya sebagai seorang muslim, Hanna berdoa demi kesembuhan Derren. Ia menumpahkan segala air matanya di atas sajadah, ia meluapkan segala perasaan nya mengadu pada sang Pencipta tentang hatinya yang terluka, "Ya Allah, aku tidak meminta Engkau untuk menghilangkan cobaan ini....karena aku tahu akan ada kemudahan di dalamnya, aku pun tidak meminta kau memberikan cobaan yang lebih berat lagi, aku hanya menjalankan apa yang sudah Engkau tetapkan pada ku, tapi aku mohon satu hal pada Mu, berikan aku kekuatan untuk menghadapi segala cobaan ini, aku belum pernah kecewa akan kebesaran mu Ya Allah, maka berilah aku kekuatan dalam menghadapi semua ini," selesai berdoa Hanna melepaskan mukenah nya, ia merapikan hijabnya dan keluarga dari mushola. Hati Hanna seakan begitu tenang, setelah meluapkan apa yang ada di hatinya pada sang Pencipta. Hingga Hanna melihat ada bangku di taman rumah sakit tersebut, sejenak Hanna duduk di sana dan melihat bunga-bunga yang bermekaran.
Lama Hanna terdiam hingga ada seseorang yang mendekat padanya, "Hay," sapa pria tersebut.
Hanna membenarkan duduk nya ia melihat Adam di sana, "Waalaikumsalam," kata Hanna, sambil tersenyum ramah.
"Hehehe......." Adam terkekeh, karena malu tanpaknya ia kalah jauh urusan agama bila dengan Hanna. Rasa kagum Adam semakin besar pada wanita yang menggunakan hijab di hadapannya, "Sepertinya aku harus belajar banyak tentang ilmu agama dengan mu," ujar Adam.
Hanna tersenyum, "Kenapa begitu?" tanya Hanna.
"Aku tidak mengerti akan agama," Adam terkekeh mengingat minimnya agama yang di ajarkan sejak kecil.
"Kamu ada-ada aja, aku juga nggak terlalu paham, cuman bisa memahami sedikit yang aku tahu aja," jawab Hanna lagi.
"Aku boleh duduk nggak?" Adam menunjuk bagian kursi kosong di samping Hanna, ia takut jika Hanna tidak mengijinkan nya.
"Iya silahkan," Hanna mempersilahkan dengan senang hati.
"Baiklah terima kasih," dengan hati yang bahagia Adam langsung mendaratkan pantatnya, "Kamu masih ingat nama aku nggak?" tanya Ada menatap lurus ke depan.
"Dokter Adam," jawab Hanna.
"Iya, panggil aja Adam.....kalau sulit manggil Adam panggil sayang juga tidak apa," seloroh Adam.
Hanna dengan refleks menatap Adam, "Ahahahhaha......" tawa Hanna pecah saat mendengar apa yang di katakan oleh Adam, karena ternyata Adam cukup humoris.
Adam terkesima melihat senyum Hanna, hingga sejenak dunianya teralihkan oleh seorang Hanna ataupun Kakak ipar nya yang tidak di akui suami sendiri.
"Kamu lucu sekali," kata Hanna sambil terkekeh.
__ADS_1
"Nggak juga," Adam menjeda ucapannya dan melirik Hanna, "Kalau aku lucu aku nggak pantas jadi dokter," kata Adam.
"Pantasnya jadi apa dong?"
"Jadi badut," celetuk Adam.
"Ahahahhaha......." Hanna kembali tertawa, sejenak ia melupakan masalah yang tengah ia hadapi. Hanya kata syukur yang saat ini Hanna ucapkan, karena memang setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Hanna merasakan itu.
"Oya, aku punya tebakan buat kamu....."
"Apa?" Hanna sekilas menatap Adam, tapi ia masih menjaga pandangan nya. Sebab bagaimanapun Adam bukan mahram nya, Hanna pun masih tahu batasan-batasannya walaupun Devan tidak menganggapnya. Tapi ia masih perempuan yang bersuami, kecuali Devan sudah menjatuhkan talak pada dirinya.
"Tapi kalau aku menang aku minta imbalan lho?" kata Adam sambil terkekeh.
"Benarkah?" tanya Hanna sambil tertawa kecil.
"Emang ada micin bikin bahagia?" Hanna masih saja tersenyum, bahkan ia ingin tertawa karena ternyata Adam sangat memiliki jiwa humoris. Sangat jauh berbeda dengan Devan, Devan adalah pria dingin dan sulit di ajak berkomunikasi dengan baik.
"Hanna...." Adam membuyarkan lamunan Hanna, ia tahu Hanna tengah larut dalam dunianya.
"Iya," Hanna kembali tersadar, dan ia tidak ingin memikirkan Devan untuk saat ini, "Aku nggak tau micin apa yang bikin bahagia," kata Hanna menatap Adam penuh tanya.
"Micin tai mu apa adanya!" jawab Adam dengan cekikikan, bahkan. Adam sampai memegang perutnya ingin tertawa.
"Ahahahhaha......" Hanna benar-benar tidak habis pikir, di saat ia baru saja menangis dengan segala kesedihannya. Ternyata kini Adam datang menjadi penghibur. Lama sekali Hanna tidak tertawa selepas ini.
Devan yang menatap Hanna dari kejauhan merasa yang tengah tertawa lepas bersama Adam merasa benci, ia sangat tidak menyukai Hanna yang terlihat akrab dengan adiknya Adam. Tidak perduli Adam adalah adiknya, rasa benci itu tetap ada.
"Kamu ternyata kalau ketawa manis banget ya," ujar Adam.
__ADS_1
Tawa Hanna seketika terhenti, tidak ada maksud Hanna untuk menggoda Adam ataupun membuat Adam terpesona padanya. Tapi sepertinya ia merasa ini salah, tidak baik tertawa terbahak-bahak pada seorang pria yang bukan mahram nya.
"Maaf ya Dokter Adam, saya kelepasan," kata Hanna merasa tidak enak, "Dokter Adam sangat pandai sekali bergurau," kata Hanna lagi di sela-sela tawanya.
"Kak Dev," Adam melihat Devan yang melihatnya, "Kalau kami berdua menikah Kakak pasti setuju dong," seloroh Adam.
Hanna cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Adam, lagi pula sulit di percaya hal itu bisa keluar begitu saja dari mulut Adam.
Devan berjalan kearah Adam, Hanna seketika berdiri bangun dari duduknya. Begitu juga dengan Adam, hingga akhirnya Devan berdiri tepat di depan Hanna dan Adam.
"Iya," kata Devan sambil melihat Adam, "Kalian sangat serasi...."
"Terima kasih Kak Dev, aku sangat menyayangimu...." kata Adam sambil tersenyum, kemudian ia menatap Hanna, "Apa kau setuju Hanna?"
Hanna meneguk saliva, sulit di percaya dengan apa yang di katakan oleh Devan sungguh menggores hatinya. Tapi Hanna tidak ingin larut dalam luka, hingga ia tersenyum, "Saya hanya tamatan SMA dokter Adam, saya tidak pantas bersanding dengan orang hebat seperti anda....kita jauh berbeda, kau berlian aku hanya batu kerikil di jalan," Hanna menjeda ucapannya dan menatap Devan, "Kecuali untuk di manfaatkan, dan saya tidak ingin kecewa untuk yang kedua kali! Saya permisi dokter Adam, tuan Devan.." pamit Hanna, namun saat ia akan berbalik tiba-tiba tangan Adam memegang nya hingga ia berbalik melihat Adam.
"Maaf Hanna, aku tidak bermaksud," Adam menyadari kesalahannya, ia cepat-cepat melepaskan tangan Hanna yang ia pegang, "Tapi aku serius, kalau kau mau aku bisa menerima mu apa adanya....." kata Dokter Adam lagi.
Hanna tersenyum, kemudian ia pergi dari hadapan Devan dan juga Adam. Hanna lebih ingin menemui Derren dari pada berada di antara dua lelaki barusan.
Adam dan Devan masih berada di sana, keduanya hanya diam.
"Dia sudah bersuami Adam! Sebaiknya kau cari yang lain!" kata Devan memberikan peringatan.
"Ahahahhaha......" Adam tertawa lepas mengejek Devan, "Aku tidak percaya Kak, dia itu masih sangat cantik dan aku suka, tidak perduli dia masih gadis atau sudah janda yang penting dia harus aku dapatkan!" tutur Adam dengan bahagia, kemudian ia berniat pergi tapi Devan malah memegang pundak nya hingga Adam kembali berbalik.
"Jangan Hanna Adam!" ujar Devan.
"Ada apa Kak Dev, apa kau cemburu?" tanya Adam santai bahkan masih sambil tertawa, "Kau bukan suaminya kan? Jadi kau tidak perlu begitu.....kau tau kau seperti apa? Seperti orang sedang cemburu!" tegas Adam, "Masih ada Kak Diana Kak Dev, ingat dia sudah memberi mu seorang anak!" Adam pergi begitu saja, ia terus tertawa sambil melangkah menuju ruangannya.
__ADS_1