
"Mas, hari ini enggak usah kerja ya," pinta Risa sambil memeluk lengan Hilman.
"Tidak bisa, Mas sangat sibuk. Pekerjaan Mas banyak sekali, sampai dua minggu ke depan," jelas Hilman.
Jika bisa memilih Hilman juga lebih memilih bersama dengan Risa di rumah, tapi pekerja menuntut harus segera di selesaikan. Mengingat saat ini menyangkut nama besar perusahaan, dan jika perusahaan nya semakin maju maka karyawan nya juga ikut sejahtera karena Hilman akan menaikan gaji seluruh karyawan. Sebab tanpa mereka perusahaan nya tidak akan mungkin bisa bersaing dengan perusahaan besar, lagi pula para karyawan sudah sangat bekerja keras. Dan ia tidak bisa membiarkan jika proyek ini gagal saat karyawan kini sudah berharap penuh padanya.
"Mas," pinta Risa lagi.
"Setelah pekerjaan Mas selesai, kita liburan ke Italia," kata Hilman agar Risa tidak lagi bersedih.
"Janji ya Mas?" tanya Risa dengan bahagia.
"Iya, janji," Hilman mengecup kening Risa lalu ia berangkat bekerja, "Mas pergi," pamit Hilman.
Dengan wajah murung Risa mengangguk lemah, padahal ia sangat ingin sekali di temani oleh Hilman.
Bunga yang bermekaran indah di pagi ini terlihat begitu segar, Risa yang tidak bisa diam kini mulai memilih untuk menyiram tanaman di halaman depan. Risa sangat suka beres-beres, memasak dan melakukan pekerjaan lainnya. Walaupun ia adalah anak dari seorang pengusaha sukses, tapi ia sudah terbiasa di didik mandiri sejak kecil oleh Mom Citra. Dan kebiasaan itu masih tetap ada sampai saat ini.
"Risa," Ibu Sintia yang ingin ingin menyiram tanaman juga melihat Risa sudah terlebih dahulu menyiram tanaman, "Ibu pikir kamu masih tidur, kamu belum sarapan kan?"
"Risa udah bangun dari tadi subuh Bu, abis solat Risa ngaji sama Mas Hilman, tapi kalau sarapan nanti aja deh Bu. Risa lagi enggak selera makan," jawab Risa sambil terus menyiram tanaman.
"Em, ya sudah kita masak saja bagaimana?" tanya Ibu Sintia.
"Boleh Bu."
"Tapi kita masak apa ya?" tanya Ibu Sintia.
"Risa pengen pindang ikan aja Bu, sama makam jengkol enak kali ya Bu?" tanya Risa, sebab dulu Hanna pernah memasak jengkol. Awalnya Risa merasa rasa jengkol sangat aneh, tapi tiba-tiba sekarang ia merasa ingin memakannya.
"Boleh, kalau gitu kita ke pasar ya," Ibu Sintia masuk ke dalam rumah dan mengambil keranjang untuk berbelanja.
Keduanya pergi dengan mengendarai mobil dan di kemudian oleh sopir.
"Enakan belanja di pasar, sayurnya masih baru dan segar," kata Ibu Sintia sambil memilih sayuran.
__ADS_1
"Iya Bu," Risa sudah sangat mengerti mengenai berbelanja, karena Mom Citra sudah mengenalkan sejak kecil tentang mengurus rumah, dan juga makanan.
"Aduh," Ibu Sintia meringis sambil memegang kepalanya.
"Ibu kenapa?" tanya Risa panik.
"Darah tinggi Ibu sepertinya kumat," jawab Ibu Sintia, "Ibu tidak bawa obat juga, karena sudah lama sekali tidak begini," jelas Ibu Sintia.
"Ya udah ibu pulang saja duluan, biar Risa yang berbelanja. Nanti Risa pulang naik taxi saja."
Setelah beberapa pertimbangan akhirnya Ibu Sintia setuju dengan usul Risa, ia pulang diantar oleh sopir terlebih dahulu.
"Selesai," Risa sangat bangga karena sudah menemukan sayuran, ikan dan semua bahan makanan yang ia cari, "Berat banget ya," Risa merasa barang belanjaannya cukup banyak, "Ya ampun ponsel juga enggak kebawa, gimana caranya," Risa melihat kanan dan kini mungkin ada taxi ataupun ojek namun tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan Risa.
"Hay Risa, apa kabar?" tanya Doni.
"Baik," jawab Risa dengan ramah.
"Aku enggak nyangka ternyata kamu istri bos," Doni terkekeh karena ia dulu terus berusaha mendekati Risa, namun setelah ia tahu siapa Risa Doni langsung mundur dengan begitu saja, "Kamu mau pulang?" tanya Doni sambil melihat bawaan Risa yang cukup banyak.
"Aku antar aja gimana? Kamu lihat preman di sini lihat kamu terus?" tawar Doni.
Risa mulai menyadari tatapan preman yang menatap padanya, Risa mengangguk setuju lagi pula ia percaya pada Doni.
"Risa aku sebenarnya takut nih kalau Bos tahu, tapi aku lebih takut kalau nantinya mereka jahat ke kamu," jawab Doni yang memang tulus mengantarkan Risa pulang.
Motor milik Doni terus melaju, berpacu di tengah jalan raya dengan Risa yang duduk di belakang.
"Aku juga takut kalau Mas Hilman tahu, tapi aku lebih takut sama preman tadi," jawab Risa.
Hilman yang ingin menuju sebuah perusahaan untuk rapat mengenai tender, tanpa sengaja melihat Risa yang tengah berboncengan dengan seorang pria.
"Niko hentikan motor yang di depan!" titah Hilman.
Niko langsung menambahkan laju kecepatan mobilnya, ia membuka kaca jendela mobil. Sebab ia tidak mau mengambil resiko jika berhenti mendadak di depan kendaraan Doni, bisa saja Risa malah yang terancam.
__ADS_1
"Berhenti!" seru Niko dengan suara yang cukup kencang.
Dino mulai menepikan motornya, begitu juga dengan Niko yang menepikan mobilnya. Dengan gerakan cepat Hilman turun dari mobil, dan menatap Dino dengan dingin.
"Apa-apaan ini!" geram Hilman dan langsung menghajar Dino.
Risa sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Hilman, "Mas jangan!!" seru Risa sambil membawa Hilman agar menjauh, "Doni cepat pergi!" pinta Risa, karena ia takut Hilman semakin menghajar Doni.
"Bos, saya hanya mengantar Risa pulang," jelas Doni sebab ia juga sangat takut di pecat.
"Doni, kau pergi dulu," pinta Niko, karena Niko tahu apapun yang di jelaskan oleh Doni saat ini tidak akan di dengarkan oleh Hilman yang tengah terbakar api cemburu.
Sampai di rumah Risa langsung turun dari mobil, ia sangat kesal lada Hilman yang tanpa bertanya langsung memukul Doni begitu saja.
"Risa ada apa Nak?" tanya Ibu Sintia.
Risa tidak menjawab pertanyaan Ibu Sintia, ia hanya melihat sekilas lalu berlari ke dalam kamar. Tidak lama kemudian Hilman juga masuk.
"Hilman ada apa?" tanya Ibu Sintia pada Hilman.
"Sebentar ya Bu," Hilman juga langsung menyusul Risa yang sudah masuk terlebih dahulu kedalam kamar.
"Ada apa dengan anak itu?" gumam Ibu Sintia, "Niko," Ibu Sintia memanggil Niko saat Niko masuk juga.
"Ya Bu?"
"Hilman kenapa?"
Sampai di dalam kamar Hilman melihat Risa yang tengah duduk di sisi ranjang sambil menangis, tapi sekarang Hilman harus bertanya terlebih dahulu.
"Kenapa kau pergi bersama laki-laki?" tanya Hilman to the point.
"Aku tidak pergi dengannya, dia hanya mengantarkan aku pulang," jawab Risa yang memang begitu adanya.
"Sama saja, kau tetap berboncengan dengan laki-laki dan lihat pakaian apa yang kau gunakan ini!" geram Hilman melihat baju yang dipakai Risa sangat menampakan bentuk tubuhnya, bahkan dadanya yang sebagian tampak menyembul keluar.
__ADS_1